Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.42


__ADS_3

Hasna menoleh kala namanya dipanggil, Tama memasuki ruangan sambil berlari menghampiri Hasna. Tama memeluk tubuh mungil Hasna dengan begitu erat, seolah Tama tidak ingin terjadi sesuatu dengan Hasna. Hasna menatap ke arah Mila, meminta bantuan agar Tama mau melepaskan pelukan itu.


"Hasna gak papa kok Tam, hanya demam biasa saja. Nanti sore juga sudah boleh pulang kok, kamu gak usah khawatir. Yang jadi kekhawatiranku pelukanmu itu bikin Hasna gak nyaman Tama," peringat Mila membuat Tama melepaskan pelukannya.


"Astaga maafin Papi ya sayang, Papi bener-bener khawatir mendengar kabar bahwa kamu berada dirumah sakit. Syukurlah kalau kamu gak papa Papi sudah lega," ucap Tama memandang Hasna.


"Maaf ya Om sekarang Hasna manggil Om aja, soalnya Hasna gak mau kalau Papi Malik jadi marah gara-gara Hasna manggil Om dengan sebutan Papi. Bagaimanapun sekarang Hasna sudah mempunyai Papi Om, Hasna harus jaga perasaan Papi. Gapapa kan Om?" tanya Hasna dengan nada pelan takut menyinggung Tama.


"Ah iya maafin Om ya Hasna udah bikin Hasna jadi ketakutan, gak papa panggil Om juga bagus kok. Karena Om udah ngeliat Hasna baik-baik saja, Om pamit dulu ya. Pekerjaan Om sampai Om tinggalin buat nengokin Hasna," ucap Tama beralih menatap Mila.


"Cepet banget Tam? Gak mau duduk dulu minum dulu kek, lagian kan kamu baru saja datang. Emangnya gak capek? Buru-buru amat, sok sibuk banget sih," ledek Mila mencoba mencairkan suasana.


"Kapan-kapan saja deh, kalau gak nanti sore aku kerumah saja. Aku bener-bener sibuk ya La, kamu mah suka begitu deh. Om pamit dulu ya sayang, nanti sore Om main kerumah Hasna ya? Boleh kan? Oh ya ini mainan buat Hasna semoga Hasna suka ya, oh ya Hanan ini cemilan buat kamu. Om gak tau harus beliin kamu mainan apaan, lagi pula kamu kan udah gede kayaknya udah gak butuh mainan lagi kan. Jadi ya udah Om beliin saja cemilan buat kamu." Tama menyerahkan bingkisan untuk Hanan dan Hasna.


"Makasih ya Om udah dibeliin cemilan, Om selain ganteng baik juga ya. Semoga jodohnya cantik juga baik hati ya Om," ucap Hanan dengan sedikit bercanda.


"Makasih juga ya Om bonekanya, Hasna suka sama bonekanya Om lucu gitu. Benar kata Kak Hanan kalau orang baik biasanya jodohnya juga baik loh Om," goda Hasna membuat Tama terkekeh.

__ADS_1


"Ternyata anak-anakmu kompak ya La, lucunya, menggemaskan juga pintarnya. Jadi gak sabar pengen punya beginian," ucap Tama tanpa sadar dengan kata-katanya.


"Undangannya dulu dong Tam jangan dedeknya dulu, jangan kebalik deh Tam. Ya jelas dong anakku pintar-pintar kan turun sama Emaknya, aku tunggu undangannya secepat mungkin Tam. Jangan lama-lama keburu nanti kepala 5 baru nikah kamu Tam," gurau Mila membuat Tama tersenyum.


"Haduh jangan dong La, aku kan juga pengen ngerasain nikah sama punya momongan. Doain aja semoga secepatnya bisa nyusul, haduh ngomong sama kamu malah jadi betah gini kan. Aku permisi ya La nanti kabarin kalau sudah sampai rumah," tutup Tama pergi keluar yang dijawab anggukan oleh Mila.


"Ternyata Om Tama baik ya Mi, tapi kenapa Papi bisa cemburu? Harusnya kan Papi bersyukur ada seseorang yang baik sama Mami, Papi mah emang suka kadang-kadang deh. Seneng ya kalau Mami temennya kayak Om Tama semua," ucap Hanan membuat Mila melongo.


"Duh sayang kenapa pikiranmu jadi seperti Hasna, wah kacau! Kalian berdua siapa yang ngajarin sih? Ya namanya juga cemburu bisa ke siapa saja dong sayang, apalagi Om Tama bukan orang asing lagi buat Papi maupun Mami. Wajar sih kalau Papi cemburu, Mami saja suka cemburu kok kalau ada wanita yang lebih dekat dengan Papi. Itu perasaan yang normal sayang," jelas Mila menghampiri Hanan sambil mencoel hidungnya.


Hanan dan Hasna pun kompak tertawa, ya menertawakan Mila yang semakin gemas dengan kelakuan 2 bocah tersebut. Hasna dan Hanan yang merasa capek akhirnya tidur juga, Mila mengirim sebuah pesan pada Malik bahwa Hasna masuk rumah sakit. Pesan itu belum Malik baca, mungkin karena Malik sedang sibuk jadi tidak sempat membaca pesan dari Mila.


Permisi!


Ucap salah satu suster yang memasuki ruang Hasna, suster tersebut tersenyum sambil membawa sebuah alat. Mila membalas senyum tersebut, lantas Mila berdiri. Bagaimanapun Mila harus menghormati suster tersebut.


"Maaf mengganggu waktunya sebentar ya Buk, saya hanya ingin memberikan vitamin untuk Hasna saja kok. Permisi ya Bu," ucap suster tersebut dengan santun.

__ADS_1


"Ah ya silahkan Sus," jawab Mila dengan ramah.


Suster tersebut mendekat kearah Hasna, disuntikkan nya vitamin tersebut ke infus Hasna. Ya suntikan itu lebih ke infus dari pada tubuh Hasna, mungkin karena prosedurnya memang seperti itu.


"Sudah Buk sudah selesai, kalau gitu saya permisi dulu. Terimakasih atas waktunya," ucap Suster tersebut berlalu pergi meninggalkan Mila.


Mila hanya mengangguk sambil membungkuk tanda sebagai bentuk terimakasih. Sebuah pesan masuk dalam ponsel Mila, pesan itu dari nomer asing.


"Mbak hari ini Emak gak berangkat kenapa ya? Semua pada nyariin gak biasanya Emak mangkir begini," isi pesan tersebut.


"Oh iya Mbak saya lupa, bahwa sekarang bukan Emak lagi yang disana melainkan diganti dengan suami saya," balas Mila dengan jujur.


"Waduh! Jadi tadi yang mengaku sebagai suami Mbak merupakan suami beneran toh? Astaga Mbak! Kenapa Mbak gak bilang dari awal jadi bikin salah paham begini, itu orang ngotot bahwa suami Mbak. Merasa akan terancam kita mengamankan suami Embak, untung saja belum di amuk massa Mbak. Makasih ya sudah dikasih tau Mbak, ini saya bakal bilang bahwa orang yang diamankan merupakan suami Embak. Tapi apakah benar suami Embak bernama Malik?" Balas pengirim pesan tersebut.


"Astaga Mbak! Waduh iya Mbak sekarang Mbak jelasin semuanya, kalau perlu saya bakal kesana saat ini juga. Tolong jangan sampai suami saya kenapa-napa ya Mbak, bahkan kalau perlu jagain dulu ya Mbak agar tidak memancing keributan. Ya memang benar Mbak suami saya bernama Malik," balas Mila lagi.


"Baiklah Mbak itu saja yang saya ingin sampaikan, saya akan langsung berbicara Mbak. Takut kalau sampai itu suami Mbak justru dikeroyok, makasih ya Mbak sudah diingetin. Ya aneh saja sih, selama ini yang kita tahu bahwa Mbak dekatnya hanya sama Pak Tama. Ya kami mengira bahwa Pak Tama sepesial ternyata Mbak punya yang lainnya," balas perempuan tadi yang hanya Mila baca saja.

__ADS_1


Pantesan Malik tidak membaca pesannya ternyata ada sesuatu yang sedang terjadi, duh habis Mila benar-benar lupa. Namanya orang lupa kan gak inget.


__ADS_2