
Mila mendapati Hasna yang keluar dari dalam almari, membuat Mila terkejut karena Mila tidak tahu jika Hasna berada di dalam almari.
"Mi, maafin Hasna ya udah bikin Mami nangis kayak gini. Hasna janji gak akan buat Mami nangis, Hasna gak akan bandel lagi kok. Mami berhenti nangisnya ya," ucap Hasna menghampiri Mila sambil memeluknya.
"Justru Mami yang minta maaf, karena Mami tidak memberitahu Hasna sejak awal. Mami tau Hasna kecewa dengan Mami, tapi sayang Om Tama itu bukan Papimu. Yang Papimu adalah Om tadi yang bersama Mami, sedangkan yang memeluk Mami tadi merupakan Kakak Hasna. Hasna mau kan menerima mereka sebagai Papi dan Kakak Hasna?" bujuk Mila mengelus punggung Hasna.
"Lalu bagaimana dengan Om Tama Mi? Apakah Om Tama tidak keberatan jika Hasna memiliki Papi baru? Hasna takut kalau nanti Om Tama gak mau main sama Hasna lagi, Hasna gak mau nanti Om Tama jadi marah Mi. Kenapa Papinya Hasna bukan Om Tama aja? Kenapa harus Om yang tadi?" celoteh Hasna sambil memonyongkan bibirnya.
"Ah Mami jadi gemes kalau lihat kamu begini, kamu gak bisa milih Papi mana yang menjadu Papimu sayang. Karena Papimu Om yang tadi bukan Om Tama, Om tadi baik kok sayang lagi kalau sama anak kecil. Nanti Hasna buktikan sendiri ya kalau udah deket sama Om tadi, pasti Hasna bisa menilai sendiri kok gimana Om tadi itu. Kalau Hasna bingung namanya panggil aja dengan sebutan Papi ya sayang," jelas Mila mencoel hidung Hasna.
"Jadi Om tadi harus Hasna panggil Papi? Emang namanya siapa tadi Mi? Hasna lupa, baiklah Hasna akan mencoba dekat dengan Om tadi. Yang penting Mami jangan sedih lagi ya," pinta Hasna yang diangguki oleh Mila.
"Baiklah sekarang Hasna makan dulu ya, Hasna udah mandi apa belum? Kalau belum habis makan mandi ya nanti kita bakal kerumah Nenek, emang bener ya kata Simbok kalau Nenek gak nengokin Hasna? Terus Hasna nangis karena gak ada temennya? Hasna kesepian makanya tadi nyalahin Mami yang udah pergi ninggalin Hasna?" berondong Mila membuat Hasna mengrenyitkan keningnya.
"Baiklah Hasna makan dulu, belum sih Mi. Mau ngapain kerumah Nenek Mi? Iya Nenek kesini saat Mami pergi pertama kalinya, kata Nenek Hasna gak boleh nangis karena Mami pasti ada kepentingan mendadak sampai meninggalkan Hasna sendirian. Habis bilang gitu Nenek megang kepala gitu Mi, kata Nenek baik-baik aja. Habis itu Nenek pamit pulang, Nenek bilang kalau Hasna mau main ajak Simbok dulu. Nenek ada pekerjaan gitu Mi," cerita Hasna penuh antusias.
"Firasat aja kalau Nenek itu sakit sayang, lagian Papi sama Kakak kan belum pergi kesana. Mereka juga pengen nengokin Nenek, kalau gitu Hasna habiskan dulu makannya habis itu mandi ya. Mami juga mau siap-siap dulu, Mami tinggal ya sayang kalau udah selesai taruh saja piringnya dimeja. Hasna bisa sendiri kan?" tanya Mila menatap kearah Hasna.
__ADS_1
"Oh baiklah, bisa dong Mi. Hasna kan udah gede," celetuk Hasna membuat Mila tersenyum.
Mila meninggalkan kamar Hasna menuruni tangga menuju kamarnya, suara air dari dalam kamar mandi menandakan Malik yang sedang mandi. Mila menyiapkan pakian yang akan dikenakan Malik, entah kenapa Mila tidak berfikir panjang menyetujui permintaan putranya untuk bersama dengan Malik kembali. Mila bahkan sudah melupakan perbuatan yang dilakukan Manda mertuanya, bagi Mila Malik sama sekali tidak bersalah. Lagipula saat itu Malik dijebak oleh mertuanya agar Malik dan Mila berpisah, Mila tidak menyangka bahwa akhirnya Maliklah yang menjadi jalan pulangnya.
"Kamu kenapa sayang? Kok melamun?" tanya Malik menghampiri Mila.
"Kamu udah selesai Mas? Ah gak papa lagi nungguin kamu aja mandi, oh ya Mas bajunya udah aku siapin tinggal dipakai aja. Kalau gitu aku mandi dulu ya Mas, kalau Mas udah beres jangan lupa jemput Hasna dikamarnya. Biasanya habis mandi Hasna minta dikucirin, kamu bisa kan Mas?" tanya Mila sebelum memasuki kamar mandi.
"Hah? Ngucir? Gak tau deh bisa apa enggak nanti Mas coba deh, yaudah kamu buruan mandinya takut kesorean kasihan Hanan. Lagian itu anak perlu istirahat," perintah Malik yang diangguki oleh Mila.
Malik mengenakan baju yang sudah disiapkan oleh Mila, kaos oblong berwarna hitam yang dipadukan celana pendek selutut membuat ketampanan Malik semakin terpancar. Selesai mengenakan pakaian Malik keluar menaiki tangga, Malik mengetuk pintu dulu sebelum memasuki kamar Hasna. Sedangkan Hasna memerintahkan Malik untuk masuk.
"Kata Mami tadi selesai mandi biasanya Hasna minta dikucir? Kalau gitu boleh Papi bantuin?" tawar Malik menghampiri Hasna yang duduk disalah satu sofa dekat meja belajar.
"Memangnya Papi bisa? Biasanya kan laki-laki gak bisa kucirin anak perempuan," celoteh Hasna membuat Malik tersenyum.
"Bisa dong tapi gak bisa bagus, yang penting Papi udah bantu kucirin kan? Gimana? Mau?" tanya Malik kembali untuk memastikan Hasna mau dikucir.
__ADS_1
"Boleh, ini silahkan. Tapi jangan jelek-jelek ya Pi nanti Hasna diketawain." Hasna memberikan sisir beserta karet untuk mengikat rambutnya.
"Wah rambut Hasna bagus ya, panjang udah gitu wangi lagi. Emang Hasna suka rambut panjang begini ya? Kalau mereka ketawain Hasna nanti biar Papi yang maju ngelawan mereka sambil Papi takut-takutin," rayu Malik sambil mulai mengikat rambut Hasna.
"Ya kata Mami perempuan itu cantik kalau rambutnya panjang, makanya Hasna gak pernah mau kalau dipotong. Papi bakal nakut-nakutin mereka gimana?" tanya Hasna membelakangi Malik yang sedang mengikat rambutnya.
"Hasna itu cantik mau rambutnya panjang ataupun pendek Hasna tetap cantik, nanti Papi bakal pasang muka serem kayak film horo gitu. Gimana ide Papi luar biasa bukan?" tanya Malik membuat Hasna terkekeh.
"Makasih Pi, benar kata Mami ya ternyata Papi itu orangnya asik. Sama kayak Om Tama, kalian sama-sama ganteng dan asik. Hasna bahagia mempunyai Ayah seperti Papi," celoteh Hasna membuat Malik mengrenyit.
"Om Tama? Emang Om Tama sedeket apa sama Mami?" tanya Malik begitu penasaran.
"Tadi sebelum Hasna tau bahwa ayahnya Hasna adalah Papi, Hasna menganggap bahwa Om Tamalah ayahnya Hasna. Sejak kecil Hasna bermain dengan Om Tama jadi Hasna mengira bahwa Om Tama ayahnya Hasan," jujur Hasna membuat Malik sedikit memanas.
"Lalu? Kenapa Mami bilang kalau Papi ini Ayahnya Hasna?" tanya Malik lagi semakin penasran.
"Mas? Udah belum? Buruan yuk, Hasna sayang yuk buruan nanti keburu sore loh. Wah kamu pinter juga ya Mas ngucirnya," sela Mila tiba-tiba menghampiri Malik dan Hasna.
__ADS_1
Hasna menuju kaca besar didepannya, Hasna tersenyum memuji ikatan rambutnya yang begitu memukau.