Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.46


__ADS_3

Rengek Hasna membuat Mila terkikik, Mila memasang muka dengan serius. Lantas membalikkan badan, menatap kearah Hasna dengan tatapan tajam.


"Oke baiklah, Hasna mau minum obatnya. Tapi kalau pahit Hasna minta permen ya Mi?" tawar Hasna membuat Malik terkekeh.


"Loh gak bisa dong sayang, nanti obatnya sama aja gak bikin sembuh. Minum air putih kan bisa, kenapa mesti minta permen sih," sergah Mila membuat Hasna terdiam.


"Gimana kalau Papi bantuin? Hasna tatap saja Papi dengan seksama, nanti pasti rasa pahitnya gak akan berasa. Gimana? Hasna mau?" sela Malik membuat Mila melotot.


"Mana bisa begitu Pi? Memang Papi punya ilmu sihir? Yaudah deh Hasna mau," ucap Hasna menyetujui omongan Malik.


Malik tersenyum puas sambil menaik turunkan alisnya menggoda Mila, Malik membantu Hasna untuk minum obat. Benar juga kata Malik, Hasna sama sekali tidak merasa kepahitan. Nyatanya reaksi Hasna datar aja gak ada yang berubah, selesai minum obat Hasna dan Hanan kembali ke kamar masing-masing.


"Mas? Emang bener ya kamu punya ilmu sihir? Lah itu anak kenapa gak ngerasain pahit sama sekali, padahal selama ini gak mau kalau minum obat. Nyium baunya aja sudah bikin eneg katanya, eh ini gak bilang apapun asataga Mas! Kamu berguru dimana?" Mila begitu antusias hingga wajahnya mendekat kearah Malik sangat dekat.

__ADS_1


Cup!


Bukan menjawab pertanyaan Mila, Malik justru mencium bibir ranum Mila. Mila mengerjap mengumpulkan kembali nyawanya, setelah sadar Mila baru mengerti bahwa Malik sudah tidak ada ditempat. Malik menuju kamarnya membuat Mila berlari menghampiri Malik.


"Aduh Mas! Tadi kan aku nanya kenapa gak kamu jawab malah main tinggal saja," oceh Mila berhasil menyamai tubuh Malik.


"Pertanyaan macam apa sih itu sayang? Kepo boleh tolol jangan dong! Lagian mana ada aku pakai mantra, emang itu obatnya agak manis aja. Kan obatnya dari sirup sayang bukan bubuk, kalau bubuk atau kapsul beda lagi. Makanya kamu kalau banyak pikiran mending di dinginin dulu deh, yaudah gak perlu dibahas. Kamu mau aku ngomong yang sejujurnya gak? Kalau iya ayo masuk ke kamara," ajak Malik yang diangguki Mila.


"Benar juga ya Mas, kenapa bloon ku semakin menjadi saja. Ya kan kamu juga punya hutang buat cerita sama aku Mas," ucap Mila memasuki kamar sambil melepas kaki palsunya.


"Wah benar juga itu Mas, boleh deh. Oh ya Mas jadi gimana?" tanya Mila sembari membaringkan tubuhnya.


"Tadi setelah Mas selesai di perusahaan, Mas mengunjungi rumah Mama. Secara kebetulan Mama sedang berantem dengan suaminya yang baru, bahkan berantemnya sampai kedengeran dari luar. Aku yang merasa geram langsung masuk begitu saja, ternyata suami baru Mama memang pembohong. Selama ini Mama ditipu olehnya, karena sudah jelas akan ditolak Mama. Makanya lelaki tersebut terpaksa berbohong, Mas kira Mama bakal meminta cerai karena sudah merasa dibohongi. Ternyata Mas salah Mama tetap memaafkan suami barunya itu, bahkan Mama tak menyambut kepulanganku. Aku yang merasa terhina memilih pergi dari rumah Mama," jelas Malik menghirup nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya Mas?" tanya Mila masih penasaran.


"Mas otomatis pulang dong, Mas inget buat pergi ke pabrik. Sampai disana orang-orang tidak percaya bahwa Mas ini suami kamu, bahkan Mas sampai di introgasi. Kata mereka tak semudah itu percaya dengan orang yang asing, nah Mas juga bingung harus jelasin bagaimana. Mau menunjukkan surat nikah tapi gak ada, mau nunjukin cincin nikah kita juga udah gak punya. Yaudah Mas pasrah aja, sampai akhirnya salah satu perempuan menghampiri wawancara sengit itu. Syukurlah karena akhirnya mereka percaya juga, karena Mas sudah tidak mood lagi Mas memutuskan untuk pulang. Perasaan dan hati Mas sangat dongkol, ditambah pulang-pulang ngelihat kamu sedang bermesraan dengan mantan pacarmu itu. Mas semakin geram dong yaudah, kepalang emosi dan geram membuat Mas mukulin Tama tanpa ampun. Hari ini benar-benar kacau!" ucap Malik memegangi dadanya.


"Sebenarnya Mila ingin ketawa sih Mas, tapi takut dosa. Pengalaman yang benar-benar membagongkan, berarti Mama memang sudah gak anggap kamu sebagai anaknya dong Mas? Yaudah jika memang itu pilihan Mama, semoga saja Mama bahagia dengan pilihannya. Oh ya Mas karena tadi aku pergi kerumah sakit, aku belum bisa daftarin Hanan masuk sekolah. Besok saja kali ya Mas, tapi aku maunya Hasna libur dulu sekolah. Ya biar Hasna istirahat dulu di rumah Mas," jelas Mila membuat Malik menoleh.


"Ya semoga saja sayang, mending kamu tanyain dulu mau sekolah atau enggak. Mas gak mau aja kamu suruh Hasna buat dirumah justru membuat Hasna tidak nyaman, jangan pernah mengambil keputusan sendiri. Apalagi yang kamu ambil keputusan itu anakmu sendiri, kamu perlu melibatkan keputusan Hasna juga. Jangan karena ini kamu dianggap Hasna sebagai Ibu egois," saran Malik membuat Mila mengangguk.


"Kamu benar Mas, sedewasa apapun anak kita. Harusnya kita melibatkan anak saat ingin mengambil keputusan, makasih ya sudah ingatin Mila Mas." Mila mencium tangan Malik.


"Iya sayang sama-sama, yang penting anak kita itu nyaman. Dan gak tertegan, oh ya apakah Emak tau? Jika Mila masuk kerumah sakit?" tanya Malik memainkan rambut Mila.


"Tidak Mas! Aku tidak memberitahu Emak, Emak itu sedang dalam masa pemulihan. Apalagi akhir-akhir ini Emak suka sakit-sakitan, aku suka sedih deh Mas kalau Emak sakit begini tapi aku gak ada untuk Emak. Ya mau ditinggalin pun aku punya tugas sendiri, aku hanya bisa berdoa semoga Emak bisa sehat kembali. Aku belum sanggup jika harus kehilangan Emak Mas, aku belum bisa bahagiain Emak. Bahkan aku belum bisa membuat Emak seneng, apakah aku sedurhaka itu Mas?" tanya Mila menatap kosong lurus kedepan.

__ADS_1


"Hush! Jangan bicara seperti itu sayang, Emak sakit memang karena sudah tua. Yang hidup akan mati dan kembali pada sang pencipta, kamu jangan mengkhawatirkan yang sudah digariskan dengan tuhan. Kita bisa pantau kesehatan Emak dari sini, toh kalau mau bolak-balik kesana kemari kasihan anak-anak. Kalau rumah mau di tinggalin juga sayang ini kan hasil kerja kerasmu, sebuah pencapaianmu. Yasudah gak usah terlalu dipikirin," ucap Malik membuat Mila mengangguk.


Ya memang berat kala anak sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri, mau pergi mengurus orang tua pun harus mikir dua kali lipat. Bukannya tidak mau, seorang anak pun harus mengurus keluarganya sendiri. Apalagi tugasnya harus mengutamakan suami dari pada orang tuanya sendiri, ah andai menikah tak diwajibkan pasti banyak orang yang memilih sendiri.


__ADS_2