
Ponsel Mila berbunyi, menampilkan nama Dinda disana. Entah kenapa Dinda menghubungi Mila, apakah anak itu akan menceritakan malam pertamanya? Mila terkekeh sendiri mengingat konyolnya sahabatnya itu, Mila memencet tombol hijau.
"Halo? Ada apa Din? Kenapa? Mau nyeritain malam pertamamu ya?" tebak Mila menyunggingkan senyum.
Hiks! Hiks!
Tak menjawab pertanyaan Mila, Dinda justru terdengar menangis. Mila tertegun, selama bertahun baru kali ini Mila mendengar sahabatnya itu menangis.
"Sebentar lagi aku pulang! Tunggu disitu!" perintah Mila lantas mematikan panggilannya secara sepihak.
Mas!
Teriak Mila membuat Malik menoleh, begitu pula dengan Hasna dan Hanan. Mereka kompak menghampiri Mila yang memasang wajah begitu cemas, Malik mengrenyit.
"Kenapa? Kok wajah kamu terlihat khawatir begitu? Apa ada sesuatu?" tanya Malik meraih wajah Mila dipandangnya dengan seksama.
Hasna menutup matanya, "silahkan lanjutkan Hasna gak lihat kok," ucap Hasna membuat Malik terkekeh.
"Mas buruan pulang, aku takut terjadi sesuatu dengan Dinda. Tadi Dinda menghubungiku, tak menjawab pertanyaanku Dinda nangis sesenggukan Mas." Mila mulai membicarakan kekhawatirannya.
Malik mengangguk mengerti, lantas mengajak Hanan dan Hasna menuju mobil. Selama perjalanan Hasna dan Hanan tertidur, mungkin sudah terlalu capek bermain. Saat sampai di parkiran, Mila menangkap tubuh Dinda yang luruh di lantai.
Dinda!
Mila berhambur memeluk tubuh Dinda, sedangkan Dinda tak menghentikan tangisnya justru semakin terisak.
"Tenangkan dulu, mari kita bicara didalam. Tak enak jika dilihat orang," ucap Mila membuat Dinda mengangguk.
Malik menggendong Hasna, "aku ke atas dulu menidurkan Hasna, nanti aku balik lagi temanin kamu." Malik menaiki anak tangga menuju kamar Hasna.
"Minum dulu, biarkan hati dan pikiranmu tenang." Mila menyodorkan gelas berisi air putih pada Dinda.
__ADS_1
Dinda menerima gelas tersebut, "La? Aku benar-benar gak nyangka! Sakit sekali La!" ucap Dinda terbata-bata menahan sesak.
"Memangnya apa yang terjadi Din?" tanya Mila semakin tak mengerti arah pembicaraan Dinda.
Hah!
Dinda membuang nafas dengan kasar, "Tama ternyata selama ini masih berhubungan dengan Sintia," jawab Dinda akhirnya.
"Bukankah itu wajar Din? Tama dan Sintia itu kan bekerja dalam satu kantor? Apa yang membuatmu jadi sakit seperti ini?" Mila benar-benar tak mengerti dengan pikiran Dinda.
Dinda memandang Mila. "Jika hanya sebatas bekerja masih wajar La, tapi ini sudah melebihi. Bahkan Mas Tama mengajak Sintia untuk jalan," ucap Dinda kembali luruh mengeluarkan air matanya.
Deg!
Hati Mila seolah berhenti berdetak, Mila paham betul bagaimana itu Tama. Tama gak mungkin sampai berselingkuh dibelakang Dinda, Tama merupakan laki-laki bertanggung jawab dan setia. Apakah gara-gara Mila menolaknya? Membuat Tama menjadi berbeda?.
"Tidak mungkin Din! Tama tidak mungkin melakukan itu!" Mila meninggikan nada bicaranya.
Astaga!
Pekik Mila tak menyangka dengan apa yang dilihatnya, Tama begitu mesra dengan Sintia membuat Mila percaya bahwa Tama memang berselingkuh.
"Mari kita bermain cantik Din, anggap saja kau tak pernah tau perselingkuhan antara mereka." Mila mencekram tangannya.
Dinda menghapus air matanya, "memang itu yang ingin aku lakukan La, tapi aku bingung mulai dari mana. Akan ku buat Mas Tama menyesal telah menghianatiku!" Dinda menyeringai siap berperang.
"Coba kau tampil sexy di depan Tama, ladenin seperti biasanya. Hanya saja kau perlu sedikit cuek, kau jarang menampilkan senyumanmu itu. Selalu sibuk mengawasi ponselmu meskipun itu hanya sekedar menatap layarnya," ucap Malik tiba-tiba membuat Dinda dan Mila saling tatap.
Mila tersenyum, "sedikit jual mahal itu boleh loh Din, apalagi suamimu mulai mengacuhkanmu bahkan dengan tega berselingkuh, emang paling bener tuh ditenggelamkan ke laut! Biar dimakan sama paus!" ucap Mila dengan emosi.
"Sayang, gak boleh gitu dong jangan jadi kompor!" Malik mengelus puncak kepala Mila.
__ADS_1
Dinda mendengus kesal sambil berdiri. "Kalian nih sahabatnya lagi sedih malah mesra-mesraan, dahlah aku mau pulang saja. Thanks ya sarannya, kalian memang the best." Dinda mengacungkan kedua jempolnya lantas berjalan keluar meninggalkan rumah Mila.
Mila menggelengkan kepalanya, untung saja sahabatnya kini bisa sembuh dari rasa kacaunya. Tama benar-benar membuat Mila tak habis pikir, bisa-bisanya Tama melakukan hal sekeji itu. Untung saja dulu Mila tak menerima cinta Tama, andai dulu Mila menerima cinta Tama. Sudah dipastikan jika Mila nantinya akan berujung sakit, seperti Dinda saat ini.
Malik mengelus lengan Mila, "sudahlah sayang, jalan masing-masing rumah tangga orang itu tidak selalu mulus. Mereka punya cobaan pada porsinya masing-masing, begitu pula dengan sahabatmu. Tak mungkin Allah tak memberikan cobaan pada hambanya, cobaan ini untuk pembuktian apakah rumah tangga mereka berhasil atau tidak." Malik mencium pelipis Mila.
"Ya memang tak bisa dipungkiri Mas, aku berharap jika suatu saat nanti Dinda mendapatkan kebahagiaannya. Aku yakin Mas bahwa akan ada pelangi setelah hujan," ucap Mila menatap lurus ke depan.
Luka yang dulu pernah Mila alami masih saja tetap terngiang hingga sekarang, bahkan saat ini luka itu kembali teringat.
"Mas juga percaya soal itu, yasudah yuk masuk saja. Kamu mau makan atau istirahat? Mas capek nih pegel-pegel pengen menidurkan badan," jelas Malik dengan mimik muka dibuat memelas.
Mila menangkup wajah Malik digigitnya bibir Malik. "Dasar bayi gede! Gak usah gitu Mas aku jadi gemas," ucap Mila lantas berlari masuk ke dalam rumah.
Malik tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mila, benar-benar ingin sekali membantai Mila saat itu juga. Mila menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak, setelah perjalanan panjang perut Mila terasa keroncongan. Sedangkan Malik memutuskan mengistirahatkan badannya, Mila begitu cekatan saat memasak.
Bak chef handal, Mila sama sekali tak butuh bantuin Simbok. Bahkan Mila tak hanya memasak satu menu saja, selesai memasak dan menghidangkan di meja makan. Mila membangunkan Hasna terlebih dahulu, pasti Hasna sudah terbangun kalau lapar begini.
"Mi, lapar dari tadi bobok Hasna gak nyenyak," rengek Hasna memegangi perutnya.
Mila tersenyum mendekati Hasna, "yasudah kita turun yuk, Mami sudah masak buat Hasna. Jadi Hasna bisa makan sepuasnya deh," ucap Mila begitu lembut.
"Hore! Asik! Kalau gitu biar Hasna bangunin Kak Hanan saja Mi, Mami siapkan susu buat Hasna ya?" pinta Hasna menuruni ranjang lantas berlari menuju kamar Hanan.
Tingkah Hasna benar-benar menggemaskan, membuat Mila ingin sekali mencubit nya. Mila memasuki kamar yang kini terdapat Malik disana, Malik membaringkan tubuhnya membelakangi pintu. Mila melangkahkan kaki dengan hati-hati, seolah ingin menggerebek Malik yang bermain dengan perempuan lain.
Dor!
Mila sengaja membuat Malik kaget, anehnya Malik sama sekali tidak terusik.
Brugh!
__ADS_1