Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.7


__ADS_3

Malik memasuki kamar lalu membangunkan Mila yang masih tertidur dengan pulas.


"Sayang, benar kata Mama jika kamu menyuruh Hanan untuk membersihkan pecahan kaca?" tanya Malik sambil menahan amarahnya.


"Jadi Mama bilang seperti itu Mas?" tanya Mila tanpa menjawab pertanyaan Malik.


"Tidak Pi! Mami memang menyuruh Hanan tapi untuk bicara pada Nenek, Mami bilang supaya Nenek yang beresin serpihan kacanya takut kalau Hanan nanti malah kena. Bukan seperti apa yang Nenek bicarakan pada Papi," jelas Hanan sambil memeluk Mila.


"Ma!! Kenapa Mama membalikkan sebuah kenyataan itu Ma?" Malik menghampiri Manda namun tanganya dicekal oleh Mila.


"Sudahlah Mas, mungkin Mama sedang capek saja. Lebih baik kamu mandi habis itu istirahat, kamu juga lagi pulang kan Mas?" Mila mencoba menyairkan suasana.


"Mama sudah keteraluan sayang!" Malik masih bersikeras karena amarahnya kini sudah diubun-ubun.


"Mama ingin kalian cerai!! Sudah berapa kali Mama katakan bahwa Mama ingin supaya kalian mengkahiri hubungan itu, apa sih yang akan kamu dapatkan dari wanita cacat ini? Kamu tidak akan bisa menghabiskan waktumu hanya untuk mengurus wanita ini Malik!" Manda berkata dengan berteriak.


"Stop Ma! Kenapa mulut Mama tidak bisa dikontrol sama sekali? Mama tau perkataan Mama itu sudah keteraluan!" Malik menghampiri Manda sambil mengepalkan tangannya.


"Keteraluan? Ini bukan keteraluan Malik tapi sesuai dengan kenyataanya, coba kamu buka mata kamu. Dimana letak kesalahan kata-kata Mama? Gak ada kan?" Manda tidak mau kalah terus menentang Malik.


"Nenek jahat! Bisa-bisanya Nenek bilang seperti itu! Nenek udah bikin sakit hati Mami dan udah bikin Mami jadi nangis! Hanan benci Nenek!" teriak Hanan yang membuat Manda diam.


"Sayang gak boleh bicara kayak gitu sama Nenek, bagaimanapun Nenek itu orang tua yang wajib kita hormati. Mas lebih baik sekarang kamu mandi habis itu bawa aku kemeja makan, dari tadi aku belum keluar Mas. Aku udah suntuk didalam kamar terus nih." Mila mencoba untuk mencairkan suasana.


"Baiklah Mas mandi dulu sebentar ya, nanti kita keluar sambil jalan-jalan. Kamu siap-siap dulu, Hanan kamu bantu Mami buat ganti baju ya. Papi mau mandi dulu nanti kita makan keluar ya," jelas Malik yang membuat Hanan tersenyum.


"Horeee! Hanan mau ganti pakaian dulu ya Mi habis itu Hanan bantuin Mami buat ganti baju, Hanan keluar sebentar ya Mi." Hanan berdiri dan mencium pipi Mila.


Akhirnya suasana itu kembali normal, ya tadi Manda pergi setelah mendegar perkataan dari Hanan. Mungkin karena Manda tidak ingin kalau Hanan semakin membencinya bagaimanapun Hanan adalah cucu kesayangannya.


"Mami mau pakai baju yang mana?" Hanan menghampiri Mila dan membantu Mila memilihkan baju.

__ADS_1


"Tolong ambilkan gaun yang berwarna tosca yang ada motif bunganya itu ya sayang, Mami mau pakai gaun itu. Kita udah lama kan gak pernah pergi keluar jadi Mami mau gunakan yang itu kelihatannya juga tidak ribet," jelas Mila menunjuk sebuah gaun panjangnya sampi lutut yang tergantung dilemari.


"Pilihan Mami tepat sekali, Hanan bantu pakaikan ya Mi?" tawar Hanan yang diangguki oleh Mila.


"Hanan bahagia?" tanya Mila sambil mengenakan gaun tersebut.


"Sangat bahagia, Hanan udah lama gak pergi sama Mami dan Papi. Apalagi Mami selalu pulang larut malam yang membuat Hanan tidak punya waktu dengan Mami, Hanan rindu suasana ini Mi," oceh Hanan yang membuat Mila tersenyum.


"Maaf ya, Mami janji bakal selalu ada buat Hanan tapi Hanan gak papa kalau Mami repotin?" tanya Mila kini sambil memegangi tangan putranya.


"Mami tidak merepotkan Hanan Mi!! Ini sudah menjadi tugas Hanan mengurus Mami, ngomong-ngomong Mami mau menggunakan lipstik tidak?" tanya Hanan menuju meja rias.


"Boleh sayang tolong ambilkan yang warna merah muda itu ya, sekalian ambilkan bedak dan juga kacanya," jelas Mila menunjukkan letak lipstik itu berada.


"Gak mau Hanan pakaikan lipstiknya Mi?" goda Hanan menaik turunkan alisnya.


"Jangan! Nanti Mami kayak badut lagi." Mila dan Hananpun saling tertawa.


Mila menjadi sadar lewat kejadian ini justru dirinya mempunyai banyak waktu dengan Hanan, tanpa Mila sadari dirinya mulai menysukuri atas apa yang tertimp pada Mila.


"Udah dong Papi kenapa mandinya lama banget sih! Lihat deh Mami cantik kan Papi?" goda Hanan menyuruh Malik untuk membalikkan badan.


"Cantik!! Siapa yang udah dandanin Mami? Kamu ya?" tanya Malik sambil memandangi Mila dan jongkong menghampiri Hanan yang ada disampingnya.


"Hanan hanya bantuin Mami pakai gaun aja Pi, Mami jago ya merias diri. Mami jadi cantik gitu." Hanan menaik turunkan alisnya menggoda Malik yang kini memakai bajunya.


"Hemm! Sejak kapan anak Papi ini pintar merayu? Kamu sidah siap sayang? Mas bantuin kamu ya." Malik menghampiri Mila dang menggendongnya.


"Tadi aku juga kaget loh Mas kalau Hanan ini pinter banget ngerayunya, Hanan kamu kemobil duluan ya bukakan pintu buat Mami supaya Papi tidak kewalahan," perintah Mila yang diangguki Hanan.


"Sayang? Maaf ya atas perkataan Mama tadi." Malik jongok dihadapan Mila.

__ADS_1


"Iya Mas gak papa, Mila udah terima kok apapun yang dibicarakan Mami kamu memang ada benarnya. Kamu gak usah khawatir aku akan membiasakan menerima kata-kata itu Mas," jawab Mila meraih wajah Malik.


"Kamu cantik sayang! Hatimu juga penuh kelembutan mana bisa Mas mengakhiri hubungan ini itu tidak akan pernah terjadi." Malik mengecup bibir Mila.


Mila melepaskan pagutan bibir yang mulai memanas itu, dirinya ingat bahwa Hanan pasti sudah menunggu sangat lama.


"Kenapa dilepasin sayang?" Malik memandang kecewa pada Mila.


"Nanti mala kita lanjut ya katanya kamu mau ajakin aku jalan-jalan yuk. Kasihan Hanan udah nunggu kita dari tadi." Mila mengusap bibir Malik yang basah akibat air liurnya.


"Baiklah ayok," ajak Malik penuh semangat sambil mendorong Mila keluar.


Mila tersenyum mendapat perlakuan semanis ini dari Malik, sampai akhirnya senyuman itu pudar kala Manda menghampirinya dengan Malik.


"Mau kemana?" tanya Manda memandang kearah Malik.


"Mau pergi keluar sebentar Ma, mau nyenengin anak dan Istri," jelas Malik masih menyimpan amarah.


"Oh bagus ya! Baru juga kerja sehari udah hambur-hamburin uang aja! Dapet duit dari mana kamu?" tanya Manda penuh selidik.


"Udah deh Ma gak usah mancing-mancing lagi! Malik dapet uang dari mana itu hasil uang halal dan kerja keras Malik jadi Mama gak usah berfikiran yang aneh-aneh." Malik mulai meninggikan suaranya.


"Mas udah yuk kita kedepan saja kasihan Hanan udah nungguin dari tadi dimobil." Mila berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Dasar mantu gak tau diri! Udah numpang sekarang mau foya-foya lagi! Kamu pikir anak saya itu mesin pecentak uang!" teriak Manda yang membuat Malik mendekatinya.


Plak!


Entah setan dari mana yang sudah menguasai Malik sampai pukulan itu melayang dipipi Manda.


"Kamu berani tampar Mama hanya demi wanita cacat ini? Anak durhaka!" teriak Manda sambil memegangi pipinya.

__ADS_1


"Maaf Ma Malik gak bermaksut hanya perkataan Mama sudah keteraluan, berulang kali Mama mengolok-olok Mila. Malik juga punya batas kesabaran Ma!" Malik berusaha meminta maaf atas kesalahannya.


Stop Mas!


__ADS_2