Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.14


__ADS_3

Malik meninggalkan rumah Mila dengan membawa luka dalam hatinya, sedangkan Mila hanya menatap nanar kepergian Malik ada sedikit penyesalan Mila harus menyudahi hubungan ini. Tapi bagaimanapun ini lebih baik karena Mila tidak ingin merusak hubungan anak dengan Ibunnya.


"Sudahlah Nak, kamu harus bangkit. Kamu gak boleh begini terus bagaimanapun ini sudah menjadi kesepakatan kalian berdua, sudah yuk mau Emak antar kedalam kamar mu atau bagaimana?" tanya Marni memandang lekat wajah Mila yang tertunduk lesu.


"Apakah keputusanku salah Mak? Aku hanya ingin melihat Mas Malik dan Mamanya berdamai, jika aku terus-terusan berada disana perdebatan antara mereka tak kunjung usai. Lantas apakah aku bersalah Mak?" Mila mulai bertanya dengan Marni atas keputusan yang sudah bulat itu.


"Sebenarnya tidak ada yang salah, Emak mendukung penuh keputusanmu jika memang ini yang terbaik. Hanya saja Mak menyayangkan kenapa kamu mesti meninggalkan Hanan Nak?" tanya Mirna meraih tangan Mila untuk memberikan kekuatan.


"Apa yang bisa aku perbuat Mak? Bahkan untuk mengurus diriku sendiri aku sudah tidak bisa! Bagaimana aku dengan becus mengurus Hanan Mak?" Mila mulai meninggikan suaranya kecewa dengan keadaannya sendiri.


"Kau masih punya Emak dan Bapak sayang, kenapa pikiranmu sedangkal itu? Tapi yasudah lah semoga Ibu Mertuamu bisa menjaga Hanan dengan baik," sahut Marni tidak ingin membuat Mila terpojokkan.


"Mak? Apakah Hanan akan bahagia bila hidupnya hanya mengurusku yang cacat ini? Hanan masih kecil yang membutuhkan kebahagiaan diluar sana, aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengandalkan orang lain. Aku sudah tidak ada gunanya Mak!" Mila terisak menyalahkan dirinya yang kini cacat.


"Hush! Kamu ini ngomong apa to Nduk! Jangan bicara yang macem-macem semua sudah diatur sama Allah, ini sudah adzan maghrib lebih baik sekarang kamu ambil wudhu untuk mengerjakan solat," jawab Mardi membuat Mila menatap kosong kedepan.


Solat? Bahkan Mila sudah meninggalkan kewajibannya semenjak dirinya sibuk dengan bekerja, ya Tuhan apakah ini teguran untuk Mila? Supaya Mila kembali kepada sang pencipta? Mila menghampiri Mardi sambil menangis sesenggukan.


"Apakah aku masih pantas untuk solat Pak? Aku yang sudah berdosa ini dengan lalai meninggalkan kewajibanku untuk memenuhi panggilannya, apakah Allah masih bisa memaafkanku Pak?" Mila bertanya seolah dirinya sudah tidak punya harga diri untuk melaksanakan solat.

__ADS_1


"Astofirullah! Jadi selama ini kamu meninggalkan kewajibanmu hanya untuk kesenangan duniamu Nduk? Pantas saja hidupmu tidak ada arah tujuan dan kamu sama sekali tidak legowo menerima ujian yang sudah ditetapkan untukmu, solatlah! Sebelum Allah benar-benar murka terhadapmu Nduk," perintah Mardi yang diangguki oleh Mila.


Mila mendorong kursi roda dengan semangatnya menuju kamar mandi, hidupnya kembali berwarna setelah mendaptkan teguran. Mila mengambil air wudhu dengan penuh keharuan, air mata terus membasahi pipinya dikala Mila wudhu dengan khusuk. Mila terus saja teringat bahwa dirinya penuh dosa dan noda.


"Apakah boleh Mila solat dengan keadaan duduk dikursi roda Mak?" tanya Mila yang sudah selesai berwudhu.


"Boleh saja Nduk, lagipula saat sedang mengalami sakit jika bisanya mengerjakan solat dengan duduk boleh dilakukan," jelas Marni sambil tersenyum kearah putrinya yang kini kembali mendapat semangat hidup.


"Baiklah kalau begitu Mila mau solat dulu Mak," jelas Mila mendorong kursi roda kearah kamarnya.


"Mau Emak bantuin tidak Nak?" tawar Marni sedikit berteriak agar Mila mendengar suaranya.


Tidak ada jawaban lagi dari Marni lantas Mila mengambil mukena yang ada didalam lemari pakaiannya, Mila kembali meneteskan air mata melihat mukena yang udah lama terbengkalai itu. Mila mulai memakai mukena dan mulai solat, sepanjang bersolat Mila terus saja meneteskan air mata. Hatinya benar-benar malu sudah melupakan sang pecipta yang masih memberikan kesempatan untuknya.


"Kenapa sayang?" tanya Marni mendengar isak tangis Mila yang semakin menjadi.


"Kenapa Allah begitu baik padaku Mak? Setelah sekian lama aku melupakan kewajibanku tapi Allah masih memberikanku kesempatan untuk hidup, aku sungguh malu Mak," jelas Mila menangis dalam pelukan Marni.


"Yang penting saat ini kamu jangan lalai lagi melupakan kewajibanmu Nduk, namanya malas itu sudah biasa Mak juga sering muncul kemalasan. Yasudah yuk kita makan saja, dari tadi kamu juga belum makan kan? Udah ditungguin Bapak tuh diruang makan," ajak Marni agar Mila menyudahi kesedihan ini.

__ADS_1


"Ah ayok Mak, Mila udah kangen banget masakan Emak. Kayaknya udah lama banget ya Mila gak makan masakan Emak? Udah berapa bulan sih Mak?" tanya Mila sambil mendorong kursi rodanya sendiri menuju meja makan.


"Berapa bulan katamu Nak? Udah 1 tahun kamu gak pernah berkunjung kesin, inget kan terakhir kali kamu kesini habis lebaran? Setelah itu kamu tidak pernah kesini lagi," jelas Marni sambil memonyongkan bibirnya tanda sedang ngambek sama Mila.


"Wah sekarang Emak pandai merajuk ya? Bapak sudah sejak kapan Emak suka merajuk seperti ini?" ledek Mila sambil menuju arah Mardi ayahnya.


"Wah apa iya Emakmu merajuk? Kelihatanya baru kali ini suka merajuk saat uang belanja habis saja sih Nak," jelas Mardi sambil terkekeh.


Sedangkan Marni yang mendapat lawan 2 sekaligus hanya bisa berdecih, Marni merindukan keluarga hangat ini. Apalagi Mila merupakan anak satu-satunya, dulu Marni pernah meminta Malik untuk tinggal dirumahnya, meskipun rumahnya sempit hanya menampung Mila dan Malik saja rasanya masih muat kok.


Namun Malik menolak niat baik itu karena Ibunya hanya tinggal sendiri, Ayahnya sudah lama meninggal akibat serangan jantung. Mau tidak mau Marni mengalah untuk melepaskan kepergian Mila ikut dengan suaminya. Sekarang setelah Mila kembali keadaanya sudah berbeda, hati Marni sungguh tersayat melihat kenyataan ini. Gadis kecil yang selalu ceria itu kini menyimpan banyak luka, Marni menatap kearah Marni dengan seksama yang membuat Mila menjadi cangung.


"Kenapa Mak? Kok Mak natap Mila kayak gitu? Ada yang salah dengan Mila ya?" tanya Mila berhenti menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Enggak kok Nak! Emak hanya sedang berfikir saja kamu kedepannya mau melakukan apa?" tanya Marni mengalihkan pembicaraan.


"Emm..Mila belum kepikiran mau apa sih Mak, mungkin mau bantuin kalian aja disawah. Tapi mana bisa disawah menggunakan kursi roda ya Mak?"


Marni jadi berfikir hal apa yang bisa Mila lakukan untuk menjalani kehidupannya, Marni tidak ingin Mila terus melakukan hal yang tidak ada manfaatnya. Mila juga ikut berfikir hal apa yang akan Mila lakukan demi menyambung hidupnya, tidak mungkin juga menggantungkan hidupnya pada Emak dan Bapaknya.

__ADS_1


__ADS_2