
Tiba-tiba Mila yang baru saja bicara ngalur ngidul mutah-mutah, tapi tidak keluar mirip orang mual gitu, waduh apa yang terjadi nih?.
"Kenapa kamu La?" tanya Dinda merasa ada yang jangal pada Mila.
"Kayaknya gue ikutan masuk angin nih, nanti tolong kerokin gue ya badan gue agak gak enak gitu. Kamu kan tau akhir-akhir ini kita dapat pesanan banyak banget waktu istirahatpun mepet," jelas Mila mengambil minyak kayu putih yang ada ditasnya.
"Makanya jangan terlalu diforsir deh La, emang kayaknya bener kaya Bapak kalau kamu harus nyari karyawan tambahan biar kerjaan kamu gak kewalahan. Kalau gini kan nanti kamu juga yang bakal rugi La," omel Dinda persis kayak Marni.
"Iya deh Iya Din, yaudah yuk turun udah sampai nih kita. Bener ya rumahnya kok sepi banget Din? Atau jangan-jangan Tama emang beneran sakit lagi?" Mila terlihat begitu khawatir yang membuat Dinda tersenyum.
Dinda tidak menjawab ocehan Mila langsung membantu Mila meniki kursi rodanya, setelah itu mereka menuju rumah Tama yang terlihat sangat sepi.
Tok! Tok! Tok!
Permisi!
Perempuan cantik didiepan Mila membukakan pintu, perempuan tersebut terlihat asing.
"Siapa kalian?" tanya perempuan tersebut tanpa menyuruh Mila dan Dinda masuk terlebih dahulu.
"Kita temennya Tama, kalau lu siapa?" Tanya balik Dinda yang kurang bersahabat.
"Temen? Gue calonnya Tama. Buat apa kalian kesini?" selidik perempuan tersebut semakin membuat geram Dinda.
__ADS_1
"Baru juga calon! Lagaknya udah kayak nyonyanya aja, lah emang ada larangan kita gak boleh kesini?" kesal Dinda terpancing emosi.
"Kenapa jadi sewot? Ya terserah gue dong! Kalau gue gak ijinin terus lu mau apa?" balas perempuan tersebut yang ikut tersulut emosi.
"Wah ngajak berantem nih! Ini orang kayaknya gak pernah disekolahin!"
Dara sudah bersiap untuk menampar perempuan tersebut namun sudah lebih dulu dicegah Mila. Dinda ini kalau udah emosi bahaya juga ya.
"Maaf ya Mbak kalau udah ganggu waktunya, kita kesini emang bener-bener hanya mau tau Tama sedang apa soalnya tiba-tiba Tama gak bisa dihubungi. Biasanya sih Tama sudah kerumahku jadi wajar dong kalau aku kesini buat cari tau keadaan Tama bagaimana, kalau Mbak merasa terusik yasudah kita bakal pulang kok. Kita titip ini tolong berikan sama Tama ya Mbak," sela Mila sambil tersenyum dan menyerahkan sebuah rantang.
"Mila! Dinda!" teriak Tamar dari arah dalam sambil keluar.
"Tam? Kamu gak papa? Kok tumben gak pergi kerumah? Emang kamu gak berangkat kerja?" cerocos Mila mirip sepur yang sedang lewat.
"Oh iya aku lupa La kasih tau kamu kalau aku hari ini masuk agak siang, pasti Emak nyangkanya aku masuk angin ya? Oh ya kenalin ini Sintia temanku dikantor," jelas Tama memperkenalkan perempuan tersebut yang ternyata bernama Sintia.
"Hah? Calon bini?" tanya Tama yang kebingungan dengan sindiran Dinda.
"Lah tadi nih cewek bilang kalau dia calon bini lu, makanya gue bilang calon bini atau cuman temen doang? Gue sih curiga kalau nih cewek cuman ngada-ngada doang, bahkan nih cewek bilang kalau gak ngijinin buat kita masuk, " jawab Dinda menatap sengit kearah Sintia.
"Udah dong Din gak usah diributin, mau itu calon bininya Tama atau bukan gak ada hubungannya sama kita. Yaudah Tam kita pamit aja ya yang penting kamu baik-baik aja kita udah lega, itu yang dirantang jangan lupa dimakan ya Tam oleh-oleh dari Emak. Semur jengkol kesukaan kamu." Mila mencoba menengahi agar tidak ada hal yang tidak didinginkan.
"Waduh maaf ya jadi kayak gini, maaf juga udah ngerepotin ya La. Bilangin makasih sama Emak pasti aku habisin semur jengkolnya, aku sama Sintia itu hanya temen aja kok gak lebih. Kalian hati-hati dijalan ya," ucap Tama tidak enak hati akibat kelakuan Sintia.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu kita pamit ya Tam, lain kali kalau nyari calon bini jangan yang modelan kayak gini. Minimal yang jauh lebih baik dari Mila," bisik Dinda yang masih cukup keras.
Mila dan Dinda memutuskan untuk balik kemobil setelah berpamitan dengan Tama, sedangkan Sintia menahan amarah karena Tama yang menjatuhkan harga dirinya.
"Kamu kenapa bilang gitu sih Sin? Aku jadi malu kan akibat perbuatanmu ini." Tama kecewa dengan perbuatan Sintia.
"Mau sampai kapan sih Tam kamu nolak aku terus? Aku capek Tam selalu ngejar kamu tapi kamu sama sekali tidak memberikan aku kesempatan," tutur Sintia dengan perasaan terluka.
"Aku kan sudah dari dulu bilang bahwa aku tidak berniat menggantikan posisi Mila dalam hatiku, kamu saja yang ngeyel deketin aku terus," jawab Tama tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu.
Membuat Sintia berlalu pergi sambil menahan tangis, Tama benar-benar membuat hati Sintia hancur berkeping-keping. Sementara itu ditempat lain Dinda terus saja mengoceh kesal akibat perbuatan Sintia tadi.
"Sumpah baru kali ini aku nemu orang yang modelanya begitu, padahal bukan siapa-siapa tapi udah ngaku-ngaku jadi bininya. Dah gitu pakai acar mencak-mecak lagi udah kayak yang paling cantik saja," gerutu Dinda yang membuat Mila menggelengkan kepalanya.
"Yaudah kali Din gak usah diambil hati malah bikin pusing kepala aja, kamu ini baru nemu yang modelan kayak gitu dah mencak-mencak. Coba kalau kamu nemu yang modelan kayak mertuaku, pasti setiap hari ribut tuh," jawab Mila sambil terkekeh geli.
"Kalau aku nemu modelan mertuamu itu udah aku racun deh La, daripada tiap hari makan hati mulu. Dah gitu ngerusak kebahagiaan anaknya lagi bikin tambah gedek deh," tutur Dinda semakin membuat Mila terkekeh.
"Wah bahaya juga kamu nih Din, bisa-bisa nanti para emak-emak gak jadi deh nyariin anaknya mantu," ejek Mila sambil terkekeh.
"Ya biarin kita nih sebagai perempuan harus punya kekuatan buat ngelawan orang yang udah ngedzolimi kita La, mau itu udah tua kalau kelakuannya gak bener ya harus diberantas dong. Jangan sampai orang itu ngerendahin harga diri kita La," jawab telak Dinda yang membuat Mila menjadi serius.
"Sayang aku gak punya kemampuan itu Din, aku larut dalam ujian yang sudah ditetapkan Allah. Harusnya waktu itu aku bisa ngelawan ya Din," ungkap Mila membuat Dinda menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Yaudah La ini kamu simpen dulu aja, siapa tau nanti kamu mendapatkan mertua yang modelanya kayak gitu. Kamu jadi udah punya ilmu deh harus bagaimana, jangan sampai kejadian itu terulang lagi yang membuat kamu harus kehilangan kebahagiaanmu," saran Dinda membuat Mila tersenyum.
Otak Dinda emang kalau udah oneng bikin yang lain ikut oneng ya, tapi bener juga sih kata Dinda. Dibalik keonengannya prinsipnya memang luar biasa.