Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.28


__ADS_3

Teriak Manda membuat Mila menoleh ke sumber suara, tanpa berniat melepaskan pelukan Hanan justru Mila semakin erat memeluk Hanan. Manda menjadi semakin geram berusaha melepaskan pelukan Mila yang erat itu.


Stop Ma!


Teriak Malik tak ingin Manda terus-terusan menyakiti Mila, Manda tersenyum kecut sambil menghampiri Malik.


"Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu harus hubungin perempuan cacat ini? Kenapa Mal?" teriak Manda sambil telunjuknya mengarah kearah Mila.


"Ma! Wajar aku menghubungi Mila bagaimanapun Mila itu Ibunya Hanan, bahkan sampai Hanan terus-terusan memanggil nama Mila. Bahkan sampai Hanan sakitpun, aku bahkan tidak menuruti permintaan Hanan untuk bertemu Mila. Kurang apa lagi aku Ma? Mama menginginkanku bercerai dengan Mila sudah aku turuti," jelas Malik dengan amarah yang menggebu.


"Itu sudah sepantasnya karena Mama gak mau kamu terus hidup bersama perempuan cacat ini yang akan merepotkanmu," sentak Manda membuat Mila tersenyum.


"Mama yakin aku perempuan cacat yang merepotkan? Bahkan saat ini aku sudah mempunyai pabrik dan aku bisa membuat rumah sendiri, itukah yang dinamakan merepotkan?" ucap Mila telak membuat Manda menoleh ke arah Mila.


"Cih! Pabrik katamu? Aku tidak percaya! Kamu itu hanya perempuan merepotkan! Bahkan hanya berdiri saja kamu tidak bisa!" teriak Manda memandang rendah Mila yang merangkul Hanan sambil menutupi telinga Hanan.


"Tidak bisa? Buktinya sekarang aku sudah bisa berdiri, aku mengendarai mobil pun sendiri. Ternyata wanita cacat ini bahkan sudah bisa kok menantang Mama, dulu wanita cacat ini bahkan tidak bisa menentang Mama karena masih menghormati Mama. Tapi sekarang? Tidak akan Ma! Mama tidak bisa memisahkanku dengan Hanan lagi!" sindir Mila dengan geram.

__ADS_1


"Baiklah jika memang kamu tidak ingin berpisah dengan Hanan, jangan pernah menginjakan kaki di rumahku! Jangan pernah temui aku lagi! Dan kamu Malik aku coret namamu dari KK sekarang juga!" sentak Manda meninggalkan ruangan tersebut.


Ma! Mama!


Malik masih berusaha untuk mengejar Manda, tapi usahanya itu gagal. Malik kembali lagi menemui Mila dan Hanan.


"Sudahlah Mas sampai kapanpun Mamamu itu tidak akan pernah berubah, Mama itu keras kepala Mas!" sela Mila mengamati Malik yang terlihat sangat kacau.


"Jika memang Nenek mengusir kita lebih baik Papi balikan aja sama Mami, gimana kalian mau kan? Ini juga demi kebaikan Hanan? Kalau kalian gak balik Hanan bakal sakit terus aja deh," rengek Hanan membuat Mila melotot.


"Jangan dong sayang! Yaudah Mami mau kok balik lagi sama Papi tapi gak tau deh kalau Papi gimana? Emangnya Papi belum ada yang punya? Soalnya Papi kan ganteng masak belum ada penggantinya sih?" goda Mila membuat Malik merasa malu dan menghampiri Hanan.


"Masalah itu gak usah diambil pusing Mas, kalian bisa kok tinggal dirumah yang udah aku buat. Ya walaupun tak sebesar punya Mamamu tapi insya allah muat kok," canda Mila membuat Malik tersenyum.


"Wah tuh udah ada rumah Pi jadi gak usah khawatir lagi," celetuk Hanan dengan semangatnya.


"Tapi gimana dengan sekolah Hanan? Gimana juga dengan pekerjaanku?" tanya Malik menatap kearah Mila.

__ADS_1


"Sekolah Hanan bisa dipindah Mas, kalau kamu gak keberatan bisa berhenti kerja dan gantiin Emak diperusahaan Mas. Kasihan juga Emak udah tua tapi masih harus kerja, soalnya aku belum menemukan pengganti buat urus pekerjaan itu. Dulu sih Dinda pernah bantuin tapi sekarang udah enggak soalnya Dinda dikirim tugas ke kota lain Mas," terang Mila mengelus kepala Hanan dengan lembut.


"Nah bener tuh Pi jadinya kan gak kerepotan kalau Papi masih sayang sama pekerjaan yang sekarang, Papi mau disini dulu gak papa kok tapi Hanan mau ikut sama Mami. Jadi gimana?" goda Hanan menaik turunkan alisnya.


"Yaudah deh kalau gitu Papi ngikut aja, yang penting Mamimu belum ada yang lain. Soalnya kan Mamimu udah sukses gak mungkin kan kalau gak ada yang ngelirik," ucap Malik sambil melirik kearah Mila.


"Memang udah ada yang ngajakin aku nikah Mas, tapi aku tolak. Selain karena ada sesuatu aku juga belum bisa mulai hubungan dengan orang baru lagi, meskipun itu bukan orang baru sih. Tapi memulai sesuatu dengan orang yang berbeda itu sama saja dengan memulai hal baru," jelas Mila menatap serius ke arah Malik.


"Jadi? Intinya kamu belum punya orang lain kan? Perihal siapapun yang mengajak kamu bersama, aku bersyukur karena kamu menolak berhubungan dengannya. Mari rujuk kembali untuk anak kita Hanan, kita mulai semuanya dari 0. Maafkan semua kesalahan yang pernah aku perbuat," jelas Malik membuat Mila menitihkan air mata.


"Justru akulah yang minta maaf, penyebab hubungan kita hancur itu semua karena kesalah pahamanku. Karena aku tidak ingin menjadi alasan hancurnya hubunganmu dengan Mamamu Mas, maafkan aku yang sudah egois meninggalkan kalian. Andai dulu aku bisa memperluas rasa sabarku lagi, hubungan kita mungkin masih akan baik-baik saja. Terimakasih karena kamu dan Hanan memberikanku kesempatan yang kedua kalinya," ucap Mila sambil terisak membuat Hanan memeluknya.


"Aku juga salah La, andai dulu aku bisa menjadi penengah mungkin hubungan kita tetap berlanjut. Namun semua sudah terjadi, semoga hubungan kita kedepannya semakin erat, aku juga berterimakasih karena kamu masih memberikanku kesempatan. Mari kita berusaha memperbaiki dan membesarkan Hanan bersama-sama, tanpa ada drama lagi. Kedepannya kita saling menurunkan ego masing-masing," terang Malik memeluk Hanan dan Mila.


Sungguh pemandangan yang indah, bertahun-tahun dipisahkan karena adanya sebuah salah paham akhirnya mereka kembali disatukan. Hanan begitu bahagia mendapati orang tuanya kembali bersama, sejak saat itu pula mereka menghabiskan beberapa malam di rumah sakit karena Hanan harus dirawat inap. Hanan menderita penyakit tifus, tifus bisa menyerang siapapun dan usia berapapun. Berhati-hatilah dalam menjaga pola makan, terutama pola pikir karena penyebab utama tifus adalah pikiran.


Hari ini Hanan akhirnya sudah boleh kembali pulang, Mila mengusulkan agar tidak membawa barang apapun dari kediaman mertuanya. Bahkan mobil yang dibeli Malik harus Malik tinggalkan di rumah sakit tersebut, Malik menghubungi Wawan supaya mengambilnya. Malik menggunakan mobil mewah milik Mila, beberapa jam kemudian sampailah mereka di kediaman rumah Mila.

__ADS_1


Begitu megahnya membuat Malik sangat takjub, sosok yang dulu Mamanya hina kini menjadi wanita yang luar biasa. Hanan bahkan tidak berkedip sama sekali mendapati rumah megah itu, Hanan masih saja memeluk tubuh Mila bahkan sepanjang perjalanan Hanan terus memeluk tubuh Mila. Seorang gadis kecil menghampiri mereka, gadis kecil itu sedikit berlari.


Mami!


__ADS_2