
Aww!
Teriak Mila untung kejedotnya didada kekar milik Tama jadi gak terlalu sakit, mungkin Mila berteriak hanya kaget saja sih. Beberapa detik pandangan mereka saling beradu, terlihat jelas bahwa Tama masih menyimpan perasaan suka terhadap Mila. Pandangan itu berakhir saat sebuah klakson tepat dibelakang mobil yang mereka tumpangi.
Tit! Tit!.
Bunyi klakson itu benar-benar memekikan gendang telinga, Mila membenai posisi duduknya. Sedangkan Tama kembali menjalankan mobilnya agar klakson yang ada dibelakang berhenti berbunyi.
"Kamu gak papa La? Maaf ya aku ngerem mendadak soalnya tadi ada kucing yang tiba-tiba lewat gak mungkin juga kalau aku terusin buat jalan kan, kasihan nanti kalau sampai kucing itu mati," papar Tama sambil fokus dengan mobilnya.
"Aku gak papa kok Tam, kamu juga gak papa kan? Iya aku tau tadi juga mau aku bilangin tapi kamu udah lebih dulu tau, yaudah gak jadi deh aku bilangnya. Wah udah nyampai nih Tam itu Bapak juga udah sampai dirumah," tunjuk Mila sambil tersenyum kearah Mardi.
"Aku gak papa kok La, iya tuh Bapak udah sampai udah bawain kursi rodanya juga. Aku parkirin dulu ya La," jawab Tama yang diangguki oleh Mila.
Setelah memarkirkan mobilnya, Mila dan Tama turun dari mobil. Tama membawakan barang-barang yang sudah dibeli Mila tadi, sedangkan oleh-oleh yang dibelikan Tama sudah dibawa Mila.
"Nak Tama? Wah bawa masuk saja sekalian yuk ngopi-ngopi dulu, udah lama kan gak minum dirumah," ajak Marni sambil tersenyum melihat Tama.
"Wah makasih banget ya Mak tapi saya harus kembali bekerja nih, kapan-kapan saja saya main kesini ya Mak. Kalau gitu saya pamit dulu ya Mak, Pak. La aku pamit dulu ya maaf buru-buru takut telat kerjannya." Tama mencium tangan Mardi dan Marni tidak lupa menjabat tangan Mila untuk berpamitan.
__ADS_1
"Kalian habis dari mana sih? Kok ninggalin Emak sendirian udah gitu gak ditungguin lagi," cerca Marni sambil memandang kearah Mardi dan Mila secara bergantian.
"Habisnya Emak lama banget pulangnya, udah Mak masuk aja dulu nih dibeliin oleh-oleh sama Tama. Seneng kan Mak?" goda Mila yang membuat Marni begitu antusias menerima kantung plastik yang dibawa Mila.
"Pastinya seneng lah Nduk, orang geratisan. Ngomong-ngomong kok kamu lama banget sih Nduk?" tanya Mardi sambil melangkah masuk membawa kardus yang berisi mesin jahit bekas.
"Lah tadi kan mampir dulu buat beli jajanan pasar ini Pak, pelan-pelan Pak itu berat loh nanti punggung Bapak kecetit," pesan Mila karena Mardi yang sudah berumur.
"Kamu meragukan kekuatan Bapakmu ini ya? Ini mah gak seberapa, Bapak udah biasa angkat-angkat beban berat kayak gini. Ini Bapak taruh di ruang tamu aja ya Nduk yang cukup lebar tempatnya jadi gak bikin kemrungsung," saran Mardi meletakkan kardus tersebut disebelah sofa.
"Sudah-sudah ini dimakan dulu jajanan pasarnya, Emak udah buatin minuman buat kalian. Pasti kalian capek kan," perintah Marni yang diangguki Mila dan Mardi.
"Oh itu tadi Emak keasikan ngobrol, gak tau kenapa tiba-tiba Darsih ngajakin Emak ngobrol. Yaudah deh Mak ladenin," jawab Marni sambil menyeruput minumannya.
"Jangan kebiasaan ngobrol Mak, atau bahkan ngegosip gak baik loh. Kita ini udah sepuh udah gak perlu sibuk ngurusin duniawi, urusin aja akhiratnya Mak," protes Mardi yang membuat Marni meletakkan minuman itu diatas meja.
"Emak ini gak ngegosip Pak, lagian hanya ngobrol ringan saja. Kalau ada tetangga yang tanya masak Emak gak jawab? Sibuk mengumpulkan bekal diakhirat boleh saja Pak tapi jangan menutup mata juga kalau kita ini masih hidup didunia," protes Marni menatap jengah kearah Mardi.
"Tapi bukankah ujung-ujungnya bakal ngegosip juga? Kalau hanya sekedar menjawab sih Bapak gak masalah Mak, Bapak ini hanya memberikan Mak wanti-wanti supaya gak terjerumus lebih dalam," jawab Mardi yang tidak mau kalah.
__ADS_1
Ekhm!
Deheman Mila berhasil mengalihkan pembicaraan yang mulai memanas.
"Sudah to Mak, Pak. Nikmati saja jajanan pasar dengan khidmad gak usah bikin suasana semakin panas, oh ya Mak kalau boleh tau Emak ikut PKK gitu gak sih?" Mila mengalihkan pembicaraan sembari menatap kearah Marni.
"Kenapa memangnya Nduk? Emak sih masih ikut lah gimana kan gak ada penggantinya." Marni ikut menatap Mila dengan penasaran.
"Jadi gini Mak niatnya Mila mau bikin kerudung gitu gak hanya kerudung sih baju-baju juga, gamis juga. Nanti coba Mak bantu buat bilang sama Ibu-Ibu yang ikut PKK Mak suruh beli," jelas Mila kembali memasukan jajanan pasar kedalam mulut.
"Wah ide bagus itu Nduk, nanti Emak bakal bantuin promo deh. Jadi kamu mau jualan baju-baju gitu to Nduk? Mak dukung deh yang penting kamu jangan sampai kecapekan ya, jangan jadi sakit juga. Kerja keras boleh tapi kerja cerdas juga harus utama loh Nduk," saran Marni yang membuat Mila mengernyit.
"Siap Mak tenang saja, yaudah kalau gitu Mila mau buat pola-pola dulu ya. Mila pamit undur diri ya Mak, Pak." Mila meninggalkan dapur menuju ruang tamu.
Mila mulai menyiapkan papan untuk menggambar, sebelum menggambar pola Mila kembali memeriksa ponselnya siapa tau Malik sudsh membalas pesan Mila. Tapi pesan itu tak kunjung Malik balas bahkan nomernya seperti tidak aktif, Mila mencoba untuk berfikir positif mungkin Malik lagi banyak pekerjaan. Tak bisa dipungkiri perasaan rindu terhadap Hanan membuat Mila kembali melamun, bagaimanapun Hanan masih perlu belaian seorang Ibu.
Bagaimana kondisi hanan disana? Apakah sakitnya sudah sembuh? Mila berfikir kembali semenjak Malik mengabari bahwa Hanan sakit semenjak itu pula Mila tidak menemukan Malik membuat setatus apapun. Biasanya Malik akan membalas pesan Mila sesibuk apapun, atau jangan-jangan nomer Mila diblokir?. Memangnya Mila punya kesalahan apa? Kalau sampai nomer Mila diblokir lantas bagaimana Mila menghubungi Hanan?.
Perasaan cemas mulai menyeruak dalam hati Mila, bahkan fokus Mila kini selalu diponselnya. Mila memejamkan matanya sejenak sebelum air mata itu luruh kembali, Mila hanya ingin bangkit dan sejenak melupakan permasalahan ini. Nanti saat Mila sudah siap Mila akan merebut Hanan dari Malik, tapi apakah Hanan masih mau memaafkan Mila? Setelah apa yang Mila perbuat terhadap Hanan, kenapa semua menjadi serumit ini? Mila saat ini hanya bisa pasrah bagaimanapun dirinya sudah bersalah karena meninggalkan Hanan tanpa pesan. Semoga saja Hanan mau memafkan kesalahnya, Mila menghirup nafas sedalam mungkin setelah itu membuangnya dengan kasar agar perasanya bisa kembali normal.
__ADS_1
Pletak!