Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.23


__ADS_3

Saat memeriksa kembali notanya Mila terkejut melihat apa yang tertulis, benar kata Marni bahwa ada yang mengganjal. Kenapa tadi Mila tidak cek terlebih dahulu, sekarang Mila baru menyesal.


"Benar katamu Mak ada yang menjanggal tapi sudah kita kirim, wah ini rugi bandar Mak. Ini kesalahan Mila sendiri sih harusnya Mila tadi kroscek dulu," sesal Mila menatap Nota yang mengajal itu.


"Lah tadi kan Mak udah ngomong, yaudah gak papa namanya juga usaha Nduk pasti mengalami kegagalan juga. Yang penting mulai besuk jangan sampai teledor lagi," jelas Marni mencoba menenagkan perasaan Mila.


"Sudah jangan saling menyalahkan, lebih baik belajar dari kesalahan dari pada saling mnyalahkan," sela Mardi yang diangguki Mila.


Brak!


Gawat La!


Teriak Dinda sambil berjalan dengan nafas yang tersengal-sengal, Mila yang melihat gelagat aneh dari Dinda berusaha setenang mungkin dan memberikan Dinda minuman. Sedangkan Dinda seperti orang kesetanan satu tegukan habis minuman yang diberikan Mila, Mardi hanya geleng-geleng mendapati bidan cantik tapi kelakuanya rada-rada unik. Justru Marni terlihat begitu panik menunggu apa yang ingin Dinda katakan.


"Kenapa La? Coba duduk dulu ngobrol baik-baik jangan panik, hirup nafas dalam-dalam tahan sebentar lalu buang," intruksi Mila yang diikuti Dinda.


"Jadi gini La kemarin kan ada orang yang mesen kerudung itu, nah kerudungnya kan udah dikirim nih La. Itu orang gak mau bayar itu krudung La katanya gak sesuai sama pesanan," jelas Dinda sambil duduk disebelah Mila.


"Ini pesanan yang mana lagi Din? Kok aku gak tau kalau ada pesenan banyak? Yang kapan sih?" tanya Mila mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Astaga! Jadi Emak lu gak bilang? Mak katanya Emak udah bilang sama Mila? Kenapa Milanya kayak orang kebingungan gini," hardik Dinda kaget mendapat tanggapan aneh dari Mila.


"Maaf Mak waktu itu sengaja bilang begitu karena Mila lagi sibuk, jadi ya Mak setujuin aja. Lagian itu orang kok aneh bilangnya salah pesenan, salah gimana? Kan emang minta model yang begitu," sangkal Marni menunjukkan sebuah pesan model yang diminta pelanggan.


"Ada apa sih ini? Maksudnya gimana?" tanya Mila masih kebingungan dengan penjelasan Dinda dan Emaknya.


"Jadi gini La, beberapa hari yang lalu ada orang yang pesan lewat ponselku. Nah aku kirim tuh model yang dipesan oleh orang tersebut, aku tanya dong sama Emak karena kamu gak ada ditempat. Kata emak barangnya udah ready banyak dan kamu sudah menyetuhuinya, makanya langsung aja aku kirim itu pesenan," jelas Dinda melihatkan ponsel miliknya pada Mila.


"Wah ini sih modus orang ini aja, pesenanya banyak lagi. Terus gimana dong? Modalku gak balik malah jadi rugi gini," pasrah Mila terlihat mulai lesu.


"Maaf banget ya La, ini semua gara-gara aku kalau saja aku tidak buru-buru mengirim pesanan itu semuanya gak akan kayak gini La. Kamu baca baik-baik deh orang ini kan mengalihkan model yang lain setelah beberapa jam berlalu, sialnya aku gak cek lagi ponselku," sesal Dinda menggegam tangan Mila.


"Duh Pak maaf ya jadi ngerepotin begini, bener Din kita harus lebih solid lagi. Gue sih gak nyalahin lu mungkin ini memang belum rejeki kita, besok kita buat inofasi baru lagi yang bikin orang-orang tergila-gila dengan produk kita. Berikan tanggapan seramah mungkin agar para pelanggan tidak kabur ketempat yang lain, ngomong-ngomong kok Tama belum kesini ya? Biasanya jam segini udah ambil pesenan sama ngasih nota lagi, tumben itu anak gak nongol-nongol." Mila celingukan menatap arah luar menunggu kedatangan Tama.


"Waduh! Emang Tama gak bilang apa-apa ke kamu La? Coba deh kamu hubungi Tama dulu, gak biasanya Tama berbuat aneh seperti ini," saran Dinda yang diangguki Mila.


"Gak aktif Din, kok gue ngerasa ada sesuatu yang terjadi dengan Tama ya? Kamu bawa mobil kan? Anterin aku kerumah Tama yuk?" ajak Mila yang diangguki Dinda.


"Tunggu! Kamu bawain ini untuk Tama ya Nduk, biasanya kalau Tama gak kesini itu pasti sakit meskipun hanya sakit demam biasa. Nah sedangkan ini adalah obatnya, setiap kali Tama demam mintanya semur jengkol buatan Emak. Bilangin maaf Emak gak bisa jengukin ya Nduk, kalian hati-hati dijalan gak usah buru-buru." Marni memberikan sebuah rantang pada Mila.

__ADS_1


"Emak hebat bener! Kita belum kesana udah bisa mempediksi kalau Tama sakit demam, emang calon mertua idaman," celetuk Dinda yang membuat Mira menyentil keningnya.


"Udah yuk buruan berangkat gak usah memperkeruh suasana,keburu dingin nih jengkolnya kan jadi gak asik kalau udah dingin rasanya jadi beda," geret Mila berjalan keluar.


"Mak Dinda pergi dulu ya! Jangan lupa sisain semur jengkolnya buat Dinda! Jangan dihabisin nanti Dinda nangis!" teriak Dinda berjalan sesuai arahan Mila.


"Siap!" jawab singkat Marni.


Brak!


Pintu mobil tertutup dengan sedikit keras, Dinda melajukan mobilnya sambil menghidupkan musik kesukaanya. Ya salah satu kesukaan Dinda adalah Kpop, Mila juga salah satu penyuka Kpop tapi tidak segila Dinda. Bahkan Dinda sampai mengelurkan bujet yang banyak hanya demi bisa bertemu dengan idolanya itu, namanya juga penggemar pasti apapun akan ditempuh. Seperti cintaku padamu meskipun bertepuk sebelah tangan aku tetap nekat mencintaimu eakkk.


"La? Kamu mulai suka lagi ya sama Tama? Aku lihat-lihat kamu begitu khawatir dengan Tama yang baru hari ini gak ningol." Dinda membuka suara sambil terus menyetir.


"Gak usah mulai deh Din! Gimanapun Tama itu partner kerja kita, kalau ada sesuatu ya sudah seharusnya kita khawatir. Kamu kan tau aku ini lagi mencoba untuk bersahabat dengan lukaku, jadi aku berfikir panjang untuk menyukai seorang lelaki lagi," jelas Mila menatap lurus kedepan.


"Ya deh ya! Tapi kamu gak boleh nutup perasaan begitu La, kamu tetap harus move on dari masalalumu itu. Jangan sampai trauma masalalumu kamu jadikan alasan tidak menerima laki-laki yang bersedia memberikan kamu kebahagiaan, bahkan mungkin separuh jiwanya bakal itu laki berikan buat kamu La," oceh Dinda sambil melirik kearah Mila.


"Aku tau Din, tapi untuk saat ini aku ingin fokus dengan karirku dulu. Aku mau buktiin kalau aku bukan Mila yang dulu yang bisanya diinjek-injek doang," jelas Mila mengakhiri pembicaraanya.

__ADS_1


Hoek! Hoek!


__ADS_2