Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.36


__ADS_3

Malik mendekat kearah Hasna, dipeluknya tubuh mingil itu. Sambil mengusap punggung Hasna, Malik membiarkan Hasna menangis terlebih dahulu. Akibat perlakuan Malik, Hasna menghentikan tangisnya.


"Udah lega? Kenapa Hasna gak mau pulang? Kenapa Hasna gak mau nurutin perkataan Mami? Hasna jangan nangis lagi ya kalau memang Hasna masih mau main gak papa kok," rayu Malik membuat Hasna berhenti menangis.


"Habisnya Mami suka janji-janji doang Pi, Mami hanya bilang besok ya tapi gak pernah di tepatin. Hasna kan gak mau kalau dibohongin mulu," ungkap Hasna membuat Malik tersenyum.


"Jadi begitu? Nanti biar Papi bilangin Mami ya, sekarang kita pulang besok main lagi. Kalau Hasna libur sekolah kita bakal main lagi kok," bujuk Malik membuat Hasna memeluknya.


"Baiklah tapi Hasna mau di gendong Papi, dan Papi jangan ingkarin janji Papi seperti Mami. Hasna gak suka di bohongin ya Hasna bukan anak kecil lagi," rajuk Hasna di pelukan Malik.


"Gimana kalau di gendong sama Kakak? Papi kan harus bawa belanjaan, kasihan Mami nanti Mami kecapekan. Gimana Hasna mau kan? Kak Hanan kan gak jahat?" usul Malik yang diangguki Hasna.


Malik menyerahkan Hasna pada Hanan, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Saat berjalan pulang tak sengaja Mila menabrak seseorang.


Tama!


Sapa Mila melihat Tama yang buru-buru, Tama tersenyum lantas menoleh kearah Malik.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Mila sambil celingukan.


Tama!


"Maaf ya aku lama, nih makanan buat kamu. Duh aku jadi ngerepotin gini deh," oceh seseorang yang menghampiri Tama.


"Dinda? Kalian?" tanya Mila mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Loh Mila! Ternyata bener yang dibilang sama Malik kalau Malik barengan sama kamu? Jadi kalian?" tanya balik Dinda membuat Mila mengangguk.


"Ck! Selamat ya, aku gak nyangka kalau kalian bakal balik lagi. Jagain Mila baik-baik ya jangan buat Mila sakit hati lagi," ucap Dinda sambil menggoda.


"Selamat juga buat kalian ya, wah kamu punya hutang cerita nih sama aku. Aku bener-bener gak nyangka loh," ungkap Mila menjabat tangan Dinda serta Tama.


"Papi!" teriak Hasna baru sadar ada Tama disana.


Hasna memberontak ingin turun, seketika itu Malik merasa cemburu. Entah kenapa Malik tidak suka ketika Hasna memanggil Tama dengan sebutan Papi, rasa cemburu itu membuat Mila menjadi salah tingkah.


"Papi kok gak pernah main ke rumah Hasna lagi? Papi takut dimarahi sama Tante Dinda ya? Tante Dinda kan baik gak bakal marahin Papi," celoteh Hasna yang kini berada di pelukan Tama.


"Hem kamu gak tau aja kalau Tante Dinda itu sebenarnya galak, kadang nih Papi suka dicakar sama Tante Dinda. Kamu mah taunya baik aja." Tama mencubit pipi bulat milik Hasna.


"Aw! Sakit Pi, Papi mah kebiasaan gitu. Oh ya sekarang Papi sama Tante Dinda lebih akrab ya?" tanya Hasna lagi merasa begitu sulit berada dikerumunan Tama, Malik memutuskan untuk masuk kedalam mobil terlebih dahulu.


"Kenapa Papi masuk ke mobil lebih dulu?" tanya Hasna membuat Malik menoleh.


"Gak papa mungkin Hasna butuh waktu berdua dengan Papi Tama bukan? Makanya Papi memilih buat kembali ke mobil saja," jawab Malik.


"Ah iya Hasna lupa kalau tadi itu Om Tama bukan Papi Tama, maafin Hasna ya Pi. Hasna bukan bermaksud buat Papi jadi cemburu, Hasna benar-benar lupa Pi. Maaf ya Pi," sesal Hasna baru menyadari kesalahannya.


Mila memasuki mobil, menatap ke arah Hasna yang menyesali perbuatannya.


"Maaf lama ya nunggunya? Gak enak sih main ninggal mereka gitu aja makanya sempat ngobrol sebentar, yaudah yuk Mas jalan udah mau turun hujannya nih. Lagian Hanan kayak capek banget gitu, lihat Hanan sudah tidur Mas. Pasti itu anak kecapekan banget," ucap Mila beralih memandangi Hanan.

__ADS_1


"Iya gak papa, maaf juga Mas lebih dulu masuk kedalam mobil. Bagaimanapun Tama itu mantan kamu, Mas belum terima saja sama Tama itu. Apalagi Mas masih ingat dengan jelas kenapa Tama dulu mutusin kamu, iya itu anak kan dari tadi emang belum istirahat. Ditambah lagi dalam masa pemulihan," jawab Malik sambil melajukan mobilnya.


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, karena Hasna juga ikut tertidur. Mila melepaskan kaki palsunya, rasanya dari tadi kakinya sudah cenut-cenut. Mila mengeluarkan ponsel yang dari tadi berada di dalam tasnya.


"Sayang? Memang cemburu ku tadi kelihatan banget ya? Gak tau kenapa aku gak suka ngeliat Hasna lebih dekat dengan Tama, ya walaupun Hasna memang lebih dulu dekat dengan Tama dibandingkan aku. Ah aku terlalu berlebihan," ucap Malik disela rasa kantuknya.


"Jelas banget Mas, bahkan aku sampai kikuk bilang ke mereka. Apalagi Tama yang seolah ingin mengulitiku hidup-hidup, kau tau Mas aku sudah menolak Tama. Ya dulu Tama sempat berkeinginan untuk menikahi ku, tapi aku tolak Mas. Selain karena aku masih mencintaimu aku juga belum bisa memulai kembali dengan orang baru," jujur Mila membuat Malik menoleh.


"Pantas saja sampai membuat Hasna tadi minta maaf padaku, dasar cowok plin plan! Bisa-bisanya ngajakin kamu balik lagi, untung kamu nolak. Kalau kamu menerima kamu benar-benar cewek bodoh!" ejek Malik membuat Mila melotot.


Mila mencubit lengan Malik membuat Malik meringis, Mila tidak habis pikir bisa-bisanya Malik berkata seperti itu. Malik menggenggam tangan Mila lalu diciumnya tangan itu.


"Mas hanya bercanda gak usah dimasukin kedalam hati ya, sekarang Tama dekat sama Dinda ya?" tanya Malik mencairkan suasana.


"Ya begitulah Mas, kalau di lihat-lihat memang iya dekat. Gak tau juga orang mereka belum bicara sama aku kok," ucap Mila menatap kearah Malik.


"Yaudah kita tunggu saja undangannya, kalau mereka gak mau cerita tandanya mereka mau memberikan surprise. Wah kelihatanya bakal hujan lebat nih," ucap Malik sambil menatap ke arah langit.


Mila ikut menatap ke arah langit mendung begitu hitam lekat sepertinya memang akan hujan lebat, untung saja mereka sudah sampai dihalaman rumah. Benar saja hujan lebat turun begitu derasnya, Mila membangunkan Hanan sedangkan Malik menggendong Hasna sampai ke kamarnya. Setelah itu Malik menurunkan barang-barang yang tadi sudah dibeli, Mila membuatkan minum untuk Malik.


"Diminum dulu Mas aku mau keatas dulu nengokin Hasna, biasanya kalau hujan lebat begini Hasna suka takut. Semoga saja hanya hujan tidak dibarengi dengan petir," ucap Mila memberikan cangkir berisi teh hangat kepada Malik yang kini duduk disofa.


"Makasih ya sayang, yaudah habis ini Mas juga mau istirahat capek banget. Kamu nyusul ya," ucap Malik sambil mengedipkan mata sebelahnya.


Mila hanya tertawa cekikikan menanggapi kegenitan Malik, ya bagaimanapun Malik masih normal. Lama tidak mendapat jatah membuat Malik frustasi hingga menggoda Mila seperti itu.

__ADS_1


Hasna


__ADS_2