
Malik tersenyum lantas melepaskan pelukan Mila, akhirnya Mila bisa bernafas lega. Malik duduk disebuah kursi meja makan, Mila membuatkan minuman untuk malik sambil menyiapkan makanan. Adzan maghrib berkumandang.
"Mas aku bangunin anak-anak dulu ya, makanya nanti habis solat berjamaah saja." Mila bergegas menuju kamar Hanan.
"Loh Mami udah bangun, Hanan udah siap buat solat berjamaah nih. Hanan gak tega buat bangunin Hasna soalnya tidur Hasna pules banget," ucap Hanan yang sudah membuka pintu.
"Ah sayang kamu bikin kaget Mami aja, yaudah tutup saja pintunya biarkan Hanan tidur. Mungkin efek kecapekan jadinya tidurnya pules, yaudah yuk kamu tunggu dibawah ya. Sebelah kamar Mami itu ada mushola kecil, nanti kita sholat berjamaah di sana saja. Mami mau ambil air wudhu dulu," ucap Mila bebarengan menuruni tangga.
"Baiklah Hanan tunggu disana aja ya Mi, Mami gak usah lama-lama. Takut malah keburu isyak nanti," goda Hanan membuat Mila tersenyum.
Mila menuju kamarnya mengambil air wudhu juga mukena, sedangkan Malik masih diam diri di meja makan membuat Mila kesal.
Mas!
Teriak Mila menghentakkan langkah kakinya pertanda Mila sedang kesal.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Kamu datang-datang kok kesal begitu? Memangnya ada yang salah?" tanya Malik tanpa dosa.
"Mas kenapa masih disini? Tadi kan aku sudah bilang kalau kita mau sholat berjamaah, buruan ambil air wudhu. Mas ini bikin aku kesal saja," perintah Mila membuat Malik memasuki kamar.
Mila menuju mushola kecil yang ada di rumah, Hanan sedang membaca al-quran. Melihat Hanan seperti itu membuat Mila terenyuh, anak yang kurang kasih sayang dari seorang Ibu akibat keegoisan masing-masing. Ternyata anak itu berhasil menjadi anak yang baik, diluar sana banyak anak yang menjadi rusak gara-gara broken home.
"Hanan sayang? Mari kita solat, Papi udah ada disini. Nanti kalau mau lanjut lagi boleh kok," tegur Mila dengan halua membuat Hanan berhenti.
"Ayok." Hanan mengembalikan al-quran ketempat.
"Sayang makan yang banyak ya, kira-kira kamu mau pindah sekolahnya kapan? Bukannya lebih cepat lebih bagus ya? Sebentar lagi kan kenaikan kelas, kalau kamu kelamaan pindah nanti malah ketinggalan. Jadi gimana menurut kamu?" tanya Mila mengambilkan nasi serta lauk pauk pada Hanan.
"Kalau Hanan sih ngikut Mami saja enaknya bagaimana, kalaupun memang sudah siap persyaratannya yaudah besok juga gak papa. Intinya mah Hanan siap-siap aja," sahut Hanan menerima piring yang sudah berisi nasi beserta lauk pauk.
"Besuk Mas kayaknya mau ke kantor lama dulu deh sayang, lagian Mas harus ngomong baik-baik juga gak enak kan kalau tiba-tiba berhenti tanpa ngomong baik-baik. Nanti habis pulang dari kantor Mas bakal menuju pabrik," sela Malik menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Yaudah gak papa Mas biar besok aku yang nganterin Hanan, kamu pakai mobil khusu pabrik ya Mas. Mobil yang tadi biar aku pakai, kamu gak mau pulang kerumah Mama juga Mas?" tanya Mila meletakkan kedua tangannya di dagu.
"Kenapa mesti ke rumah Nenek Mi? Kan sudah jelas-jelas Nenek mengusir Papi, bahkan secara gamblang Nenek bakalan coret Papi dari kartu keluarga. Yang jadi heran ya Mi, bukannya setelah menikah emang Papi udah keluar dari kartu keluarga ya? Lah setelah menikah kan Papi udah jadi kepala rumah tangga, yang artinya Papi sudah punya kartu keluarga sendiri. Sebenarnya kemarin Hanan ingin ketawa tapi takut dosa Mi," jelas Hanan membuat Mila terkekeh.
"Benar juga ya sayang kenapa Mami baru sadar, mungkin itu hanya gertakan buat kamu aja sih Mas. Sebenarnya Mama tuh gak mau kehilangan kamu Mas, makannya Mama ngergetak kamu biar gak balik sama aku. Ya kalau pun Mama bisa menerima aku sih aku bakal ajak Mama kesini kok, itupun kalau Mama mau. Tapi kan Mas lihat sendiri bahwa Mama gak mau nerima aku, coba deh kamu kesana Mas. Ngomong baik-baik sama Mama, bagaimanapun Mama sekarang kan tinggal sendiri. Apalagi sekarang kamu dan Hanan disini, Mama pasti gak ada temen Mas." Mila menepuk lengan Malik.
"Kata siapa Mama hidup sebatang kara? Gak ada sayang Mama udah ada temennya kok, tapi nanti Mas coba deh buat ngomong baik-baik sama Mama. Kalaupun memang Mama gak bisa diajak baik-baik yaudah mau gimana lagi, Mas tuh pengennya kamu sama Mama ya baik-baik saja. Tapi kalau mengingat perlakuan Mama sama kamu, aku juga ikut jengkel. Mama itu keterlaluan," ucap Malik mulai terbawa emosi.
"Hah? Maksud kamu Mas?! Kalau aku pribadi sih udah maafin Mama Mas, bahkan aku udah gak mikirin masalah itu. Aku juga datang dengan niat baik kok, emang Mama aja yang gak suka sama aku Mas. Dimata Mama aku ini sama sekali gak punya nilai plusnya Mas, gak tau juga kenapa Mama seperti itu. Kalau memang Mama gak suka dari awal, kenapa Mama gak ngomong aja sih? Seenggaknya aku kan bisa nyelondoh Mas," jawab Mila menyeruput air putih.
"Nenek begitu bukannya semenjak Mami kecelakaan ya? Sebelum Mami kecelakaan Nenek selalu memanjakan Mami kok, bahkan Nenek meratukan Mami. Itu menurut Hanan ya Mi, walaupun Hanan saat itu masih kecil. Hanan tau kok bagaimana sikap Nenek terhadap Mami, bahkan Hanan saja kaget kalau Nenek bisa berbuat jahat seperti itu. Tapi Hanan juga gak tau sih sebenarnya bagaimana," ucap Hanan membuat Mila menoleh.
"Mami juga merasa begitu, mungkin karena Mami cacat dan gak bisa hasilin uang. Nenek jadi gak suka sama Mami, tapi Mami gak mau ambil pusing. Sekarang mah Mami jalani saja sesuai kehendak Allah, ngomong-ngomong Hanan sering ya baca Al-Quran?" tanya Mila merubah topik pembicaraan.
"Semenjak Hanan ditinggal Mami, Hanan kan gak punya ponsel yang otomatis ketika Hanan rindu dengan Mami tidak bisa bertemu. Jangankan bertemu mendengar suara Mami aja gak bisa, jujur ya Mi semenjak kepergian Mami hidup Hanan benar-benar hancur. Hanan bahkan sempat kok bolos sekolah selama 1 minggu, Hanan selalu membuat masalah yang membuat guru memberikan surat peringatan untuk Papi. Tapi Hanan tidak memberikan surat itu, Hanan tau Papi gak akan pernah bisa datang kesekolah. Karena Hanan gak mau sampai Papi mengetahui kenakalan Hanan sebenarnya, Hanan bahkan suka berantem dengan teman-teman loh Mi. Gak tau kenapa setiap ngelakuin itu Hanan merasa puas," ucap Hanan terhenti sambil melirik Malik.
__ADS_1
Malik menatap lekat pada putranya tersebut, ya bahkan baru kali ini Malik mendapati kelakuan Hanan. Malik pikir selama ini Hanan tidak pernah berbuat salah dan baik-baik saja.