Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.34


__ADS_3

Akhirnya setelah semur jengkol ludes Hanan dan Hasna menjadi mengantuk.


"Oh ya Mak, karena hari mulai sore sepertinya kita mau ijin pulang terlebih dahulu. Ini juga nanti mau ada urusan lain, kapan-kapan Mila main kesini lagi deh. Yaudah yuk Mas, takut nanti kesorean. Kamu lihat deh anak-anakmu juga sudah pada mengantuk, nanti malah mereka gak jadi seneng-seneng. Cuaca juga agak mendung nih Mas," usul Mila membuat Malik mengangguk.


"Gak nginep aja? Yaudah kalau memang mau pulang hati-hati ya, kabarin kalau sudah sampai rumah. Gak usah kelamaan kalian juga butuh istirahat kan," saran Marni memberikan selembaran uang pada Hanan dan Hasna.


"Wah makasih ya Nek, nanti Hasna bakalan sering kesini deh. Hasna pulang dulu ya Nek, lekas sembuh ya Nek jangan sakit lagi. Semoga rejeki Nenek lancar terus biar kalau Hasna main kesini bakal dikasih uang deh," celoteh Hasna membuat Mardi terkekeh.


"Hasna sayang kok gitu? Kan Hasna juga tiap hari udah Mami kasih uang, kasihan Nenek kalau Hasna minta uang terus sama Nenek. Nanti Nenek gak punya uang giamana?" tanya Mila sambil menasehati Hasna.


"Loh kenapa jadi Mami yang marah? Ini kan rejeki Mi, kata Mami kalau rejeki gak boleh ditolak. Lah otomatis Hasana nerima pemberian Nenek dong," sahut Hasna membuat Mila melongo sedangkan Malik begitu takjub mendegar Hasna yang semakin hari tingkahnya semakin mirip dengannya.


"Hanan juga makasih ya Nek udah dikasih uang, semoga rejeki Nenek ngalir terus kayak sungai. Lekas sembuh ya Nek, Hanan bakal sering kesini kok buar Nenek gak kesepian. Makasih juga ya Kek jengkolnya bener-bener the best," puji Hanan menghampiri Marni dan Mardi untuk mencium tangannya.


"Makasih doanya ya sayang, cucu Kakek udah gede sekarang ya. Hati-hati kalian kalau udah sampai jangan lupa hubungin," ucap Mardi sambil melambaikan tangannya kearah Mila dan Malik yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.


Hanan sedikit berlari menyusul Mila dan Malik juga Hasna, Malik melajukan motornya.

__ADS_1


"Andai mereka tinggal disini ya Pak pasti udah rame, apalagi sekarang tambah Hanan sama Malik. Baru ditinggal sebentar aja sepinya udah terasa ya Pak," keluh Marni duduk disofa sambil kepalanya bersandar di bahu Mardi.


"Maunya juga begitu, tapi kan mereka juga punya rumah. Sayang juga kalau ditinggalin, mereka juga sudah punya keluarga sendiri. Memang lebih baik berpisah biar Mila juga bisa mandiri, lebih leluasa mengurus anak juga suaminya. Kalau Mila tinggal disini belum tentu Malik punya perasaan legowo, yasudah to Buk gak usah diratapin gitu. Lah kan emang kita diberi rejeki anak hanya 1 saja, yang penting kita masih dekat dengan anak kita Buk. Kita juga sekarang udah tau kalau Mila kembali bahagia," jelas Mardi mengusap kepala Marni dengan lembut.


"Yang aku heran nih ya Pak, kok ada ya Ibu macam Ibunya Malik? Bisa-bisanya ngusir anak sendiri, kalaupun memang gak terima dengan keadaan anak kita yang cacat. Kenapa juga harus bersikap seperti itu Pak? Seolah suatu saat nanti gak dapat musibah saja, gemes aku Pak dengan Ibunya Malik itu. Dari dulu gak pernah nyadar sama sikapnya," geram Marni mulai tersulut emosi.


"Namanya juga watak Bu, kalau sudah watak ya gak bisa dirubah. Kalau batuk masih bisa disembuhin, lah kalau watak kan sudah melekat Bu. Sudah gak usah mikirin Ibunya Malik, biarkan saja nanti juga bakal minta buat Malik balik lagi kok Bu. Sekarang istirahat saja yok Bu, atau mau ngaji bareng Bapak?" tawar Mardi.


"Ya bener juga sih Pak, tapi gak habis pikir aja. Ada seorang Ibu yang hati dan fikirannya bagaikan iblis, mau ngaji aja deh Pak. Lagipula kalau istirahat terus capek Pak, yok Pak aku mau ambil air wudhu dulu. Bapak juga buruan ambil air wudhu," jawab Marni berlalu pergi meninggalkan Mardi.


"Mi? Kok kelihatanya Nenek sedih gitu ya waktu kita tinggal? Apakah ada sesuatu yang Nenek sembunyikan? Tidak biasanya Nenek seperti itu, aneh!" ucap Hasna sedikit maju kearah Mila.


"Mungkin karena kita gak nginep dirumah Nenek, ya gimanapun kita kan udah punya rumah sendiri. Kalau kita tinggal dirumah Nenek sia-sia dong rumah kita gak ada yang nempatin," terang Mila membuat Hasna mengangguk.


"Yaudah kapan-kapan kita nginep dirumah Nenek ya, kalian mau kan? Nanti kalau Papi gak sibuk kita bakal sering kerumah Nenek deh, ngomong-ngomong kita mau belanja dulu atau mau main dulu sayang?" tanya Malik membuat Mila menoleh.


Setuju!

__ADS_1


Teriak Hasna dan Hanan secara bersamaan, Mila tersenyum mendapati kedua anaknya yang begitu kompak.


"Kalau aku sih ngikut anak-anak aja Mas, kalau anak-anak mau main yaudah main dulu. Kalau mau belanja ya belanja," jawab Mila tersenyum kearah Hasna dan Hanan.


"Hasna sih maunya main aja, gak asik ah kalau belanja. Apalagi belanjanya sama Mami suka lama, selalu nanya bagusan yang ini atau itu sayang? Kalau udah dijawab sesuai selera Hasna justru Mami milih yang lainnya, kalau memang Mami sudah punya pilihan kenapa Mami harus nanya sama Hasna?" ucap Hasna sedikit merajuk membuat Mila terkekeh.


"Itulah kehebatan Mamimu sayang, keunikan Mami yang sudah melekat sejak dulu. Dulu juga kalau sama Papi suka begitu kok," ejek Malik ikut terkekeh.


"Ya namanya juga perempuan Pi, nanti kalau Hasna udah gede pasti juga kayak Mami kok. Gimana kalau aku sama Hasna pergi main, sedangkan kalian pergi belanja? Biar gak sama-sama bosen gitu Mi," saran Hanan yang dari tadi hanya menyimak saja.


"Nah iya benar kata Kakakmu sayang, nanti kalau Hasna udah gede juga bakal kayak gitu. Papi jangan gitu dong bikin Mami malu saja, boleh deh sayang biar pekerjaannya cepet juga ya? Eh maksudnya bagi tugas gitu kan? Kamu jagain Adek? Mami sama Papi belanja? Gitu kan yang kamu maksud?" tanya Mila yang diangguki Hanan.


Sampailah kini mereka disebuah mall yang cukup besar, Hasna begitu bahagia sambil menggegam tangan Hanan dengan eratnya.


"Nanti kalau kalian udah selesai jangan kemana-mana ya? Kalau memang udah bosen main langsung ke mobil saja, jagain Adek ya sayang. Mami sama Papi belanja dulu ya inget pesan Mami," peringat Mila yang diangguki Hanan.


Sekilas Mila mengamati Hanan yang begitu menjaga Hasna, perasaan haru menghinggapi hati Mila. Tanpa sadar sebuah tangan merangkul tubuh Mila.

__ADS_1


__ADS_2