
Hanan ingat Mi!
Teriak Hanan penuh kegirangan, setelah sekian purnama menunggu. Akhirnya Hanan mengingat apa yang Hasna igaukan.
"Jadi semalem Hasna itu mengigau memanggil nama Papi terus Mi, bahkan Hanan sampai bilang maafin Hasna Pi maaf. Gitu Mi, Hanan juga gak tau sih apa yang sebenarnya terjadi dengan Hasna. Seolah Hasna ketakutan gitu Mi," jelas Hanan membuat Mila mengangguk samar.
"Mungkin karena Hasna waktu itu tidak sengaja memanggil Om Tama dengan sebutan Papi, biarlah nanti Mami akan coba tanya pada Hasna langsung. Makasih udah kasih tau Mami ya sayang." Mila memeluk Hanan.
Keluarga Pasien?
Seorang dokter wanita keluar dari ruangan yang ditempati Hasna, Mila maju menghampiri dokter tersebut.
"Gimana Dok? Apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Mila begitu khawatir.
"Anak Ibu gak apa-apa hanya demam biasa saja, untung Ibu bawa anaknya tepat. Anak Ibu juga sudah siuman, kalau Ibu mau melihat silahkan. Saya tinggal dulu ya," pamit dokter tersebut membuat Mila tersenyum.
Mila dan Hanan masuk kedalam ruangan Hasna, Hasna terdiam sambil menatap sekeliling.
"Kenapa sayang? Kok Hasna kayak kebingungan gitu? Hasna mau makan apa?" tanya Mila duduk disebelah Hasna.
__ADS_1
"Kenapa Hasna bisa ada disini Mi? Lah bukannya Hasna di rumah ya, kok beda sih Mi? Emang Mami ganti warna cat serta dekorasi rumah ya?" tanya Hasna begitu polosnya sangat menggemaskan.
"Haduh Dek, kamu beneran baru di rumah sakit kali ini? Sampai kamu gak tau dalamnya rumah sakit itu kayak apa? Astaga Dek." Hanan menggelengkan kepalanya.
"Memang Hasna baru kali ini masuk rumah sakit sayang, ngomong-ngomong kata Kakak semalam kamu tidur ngigau terus ya? Memang kamu ngimpi apaan kok sampai ngigau? Ini baru pertama kali loh kamu mengigau sayang," tanya Mila meraih tangan Hasna untuk dipegang.
"Hasna mimpiin Papi marah sama Hasna Mi, Papi bahkan ninggalim Hasna sama Kak Hanan. Papi marah gara-gara manggil Om Tama dengan sebutan Papi, Hasna takut Mi kalau sampai Papi dan Kak Hanan bener-bener ninggalin Hasna. Hasna gak mau kehilangan mereka Mi," jujur Hasna membuat Mila tersenyum.
"Kenapa Hasna gak mau kehilangan Papi? Papi sama Kakak baik ya? Mereka gak akan ninggalin Hasna kok, Hasna tenang aja nanti Papi bakal kesini loh. Hasna udah gak sakit kan? Hasna betah disini atau betah dirumah?" tanya Mila memberikan sebuah pilihan.
"Yang benar saja Mi ya pasti betahan di rumah lah, tempat ini membuat Hasna justru pusing karena bau obat. Oh ya Mi disini ada makanan gak sih? Hasna laper nih," rengek Hasna memegangi perutnya.
"Aish yasudah Mami belikan dulu, Mami titip Hasna ya sayang. Mami mau pergi keluar dulu," ucap Mila beranjak pergi meninggalkan Hasna dan Hanan.
"Wah kelihatannya Hasna memang udah sembuh ya? Udah bisa ketawa riang gitu, kalian asik bener bercandanya? Lagi becandain apaan?" ucap Mila sambil menyiapkan makanan untuk Hasna juga Hanan.
"Lah Mi kan Hanan tadi sudah makan, tapi kalau seblak sih perut Hanan muat-muat saja. Makasih ya Mi udah di beliin seblak," ujar Hanan menerima seblak dari Mila.
"Gak papa biar kamu gendutan kayak Hasna, iya sama-sama. Lagian kalau Mami gak beliin kamu bakal ngiler liat Mami makan seblak, ini sayang mie ayamnya dimakan dulu mumpung masih hangat. Pasti kamu senang kan? Kamu kan udah lama gak makan mie ayam." Mila menyuapkan mie ayam kedalam mulut Hasna.
__ADS_1
"Wah kok bisa selang-seling begini sih? Kesukaan Mami sama Hanan, kesukaan Papi sama Hasna. Benar-benar membagongkan," canda Hanan membuat Mila dan Hasna terkekeh.
Ya emang biasanya kan gitu kalau kesukaan Bapaknya suka nurun sama anak perawan, nah kalau kesukaan Emaknya suka nurun sama anak lakinya. Apalagi kalau wajah pasti kebanyakan gitu juga, kadang kalau yang keluar anak pertama perempuan. Pasti bilangnya kok mirip Bapaknya sih, Emaknya udu hamil sama ngeluarin doang.
"Kok Hasna gak ngeliat Papi, Mi?" tanya Hasna mencairkan suasana.
"Papi lagi di tempat kerja nya sayang, katanya juga mau kerumah Nenek dulu. Memangnya kenapa? Takut Papi gak mau nganterin Hasna gitu?" selidik Mila membuat Hasna malu.
"Hihi iya sih Mi, Nenek? Nenek mana? Bukannya kemarin udah ke rumah Nenek ya Mi? Kenapa kerumah Nenek lagi? Memangnya apa yang terjadi dengan Nenek Mi? Nenek gak papa kan?" cerocos Hasna tapa terjeda.
"Kenyang ya Dek? Ngomongnya lancar bener udah gak kayak tadi lemes-lemesan gitu, ternyata mie ayamnya ampuh bikin kamu jadi bersemangat lagi ya?" sela Hanan geram dengan ocehan Hasna.
"Wah diledekin tuh sama Kakak, kamu itu juga masih punya Nenek lain sayang. Hanya saja kamu belum pernah ketemu, nanti ya kalau ada waktu kita bakal ketemu sama Nenek kamu. Sekarang kamu istirahat ya nanti sore kamu sudah boleh pulang kata dokter, jadi kamu gak perlu lama-lama disini. Katanya kamu gak betah kan kalau disini?" goda Mila membuat pipi Hasna memerah.
"Oh jadi Hasna punya Nenek lain lagi, wah Nenek Hasna banyak ya. Kalau pas lebaran THR Hasna bakal banyak juga dong Mi, ya memang Hasna udah gak betah disini Mi. Bau obatnya itu loh terlalu menyengat, memang Mami betah disini? Kok Mami kayak biasa-biasa saja gitu? Kak Hanan juga? Kalian gak bau obat ya? Kalau betah sekalian saja jadi penghuni rumah sakit ini," ungkap Hasna membuat Hanan tak kuasa menahan tawa.
"Sayang kenapa yang dipikiran kamu hanya uang dan uang saja? Astaga Hasna siapa sih yang udah ngajarin kamu begitu? Kayaknya Mami gak pernah ngajarin deh, Mami juga gak betah sayang pengen pulang aja sekarang. Tapi emangnya Hasna mau Mami tinggalin disini? Gak mungkin kan?" Mila menepuk jidatnya tak habis pikir dengan ucapan Hasna.
"Lah gimana sih Mi? Bukannya Mami waktu itu ngajarin Hasna ya kalau jadi perempuan itu pikirannya harus lebih maju dari yang lain, nah Hasna kan udah berfikir maju dari yang lain ya dengan memikirkan uang. Uang kan bisa bikin siapa saja menjadi orang yang berfikiran maju Mi, misalnya nih hari ini gak punya beras. Nah otomatis punya uang jadi bisa beli beras deh," jelas Hasna semakin membuat Mila geleng-geleng.
__ADS_1
Hanan tak henti-hentinya tertawa, seolah perkataan Hasna barusan bagaikan lelucon buat Hanan.
Hasna!