
Sampai didepan rumah Mila langsung bergegas masuk bahkan tanpa mengeluarkan sepatah katapun yang membuat Wawan mengurungkan niat untuk pergi kerumah sakit kembali. Mila menuju kamarnya tapi dirinya terhalang dengan Manda yang ada didepan pintu.
"Ngapain kamu pulang kesini? Kamu masih punya muka untuk pulang kesini?" tanya Manda yang membuat Mila terpancing emosi.
"Nenek jangan berkata seperti itu sama Mami! Bagaimanapun Mami ini Ibu Hanan, Nenek gak mungkin lupa ingatan kan?" Hanan mencoba untuk membela Mila.
"Hanan sayang kamu ikut Om Wawan dulu ya, Mami ingin berbicara sesuatu dengan Papi. Bang tolong bawa Hanan pergi dulu ya, aku tidak biasa bertengkar saat ada Hanan," jelas Mila sambil menyerahkan Hanan pada Bang Wawan yang diangguki oleh Wawan.
"Aku gak mau cari masalah sama Mama jadi aku mohon dengan ketulusan Mama untuk segera minggit dari pintu ini, mau Mama halangin pun niatku tetap bulat Ma jadi tolong sebelum emosiku mulai meledak dan Mama belum tau siapa aku sesungguhnya saat marah geserlah Ma." Mila mencoba menjawab dengan setenang mungkin.
"Kamu yakin ingin masuk kedalam? Kamu tidak akan terluka dengan apa yang akan kamu lihat?" tantang Manda yang membuat Mila menatapnya.
"Apakah tampangku meragukan Ma? Segera minggir dari pintu itu sebelum kesabaranku habis." Mila mulai meninggika bicaranya.
Mandapun minggir dengan tersenyum senang karena Manda yakin setelah ini hubungan mereka pasti akan berakhir.
Brak!
__ADS_1
Mila membanting pintu dengan kerasnya hingga membuat sepasang manusia yang ada dipedepan matanya terbangun.
"Sayang kok kamu udah pulang?" tanya Malik sambil mengrejapkan matanya, sebuah tangan tiba-tiba merangkul perut Malik.
"Dasar permpuan gak tau malu!! Bisa-bisanya kamu melakukan ini semua hanya untuk mendapatkan sebuah uang." Mila menghampiri perempuan yang ada diatas ranjang dengan Malik.
"Kenapa? Siapa yang hanya menginginkan uang? Sudah sejak dulu aku menginginkan suamimu," jelas perempuan tersebut tanpa tau malu.
"Apa-apaan ini? Kamu siapa main tidur disebelahku! Sayang kumohon jangan marah ini hanya salah paham." Malik menghampiri Mila yang hanya mengenakan sebuah celana pendek.
"Cihhh! Dasar wanita ******! Kau pikir aku tidak tau akal bulusmu dengan mertuaku? Kau tau semenjak aku kecelakaan Ibu mertuaku menginginkan perceraian antara aku dan suamiku. Dan apa yang aku lakukan? Aku tetap mempertahankan itu untuk mengetahui sifat asli mertuaku, sekarang aku sadar bahwa sampai kapanpun mempertahankan hubungan ini mertuaku tetap akan memsiahkanku dengan suamiku. Dan kamu sebagai kambing hitamnya aku tau bahwa kamu dan Ibu Mertua sudah menjebak dan mengarang cerita ini, andai semua ini sinetron kamu sudah dihujat banyak netizen dengan ulahmu itu. Tapi sayang ini kehidupan nyata yang orang lain tidak akan tau bagaimana kelakuan biadapmu ini." Mila mulai menyalakan api pada perselisihan ini.
"Berdiri Malik! Kau tidak pantas melakukan semua ini, kau ini sudah merendahkan dirimu sendiri sebagai seorang pemimpin keluarga," teriak Manda yang membuat Malik menatapnya.
"Lihatlah Ma, anakmu yang ingin kau nikahkan lagi bahkan dengan rendah hatinya bersimpuh dikakiku untuk mempertahankan hubungan ini, dan aku yakin jika Mas Malik tidak akan tertarik untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jadi sebelum Mama malu dengan sikap Mama ini lebih baik Mama usir wanita ini sebelum warga berdatangan." Mila yang kemarin hanya diam saja kini mulai melawan Manda.
Sedangkan perempuan yang tadi dengan bangganya tidur diranjang dengan Malik kini pergi ngiprit sambil menyambar ponsel dan tasnya, sebelum perempuan itu pergi sempat mengeluarkan kata-kata yang membuat Manda semakin malu.
__ADS_1
"Bukannya untung malah jadi buntung," gumam wanita tersebut yang masih didengar Mila.
"Makannya sebelum masuk kelubang buaya kamu masuk dulu kelunang kelinci sebagai alat senjatamu, ingat ya perbuatanmu ini mungkin tidak membuat kamu merasa bersalah. Tapi aku yakin anak cucumu nanti akan merasakan berada diposisiku." Mila tersenyum dengan menahan gemuruh didadanya.
"Sayang? Kamu tidak akan menyudahi hubungan ini kan? Mas hanya dijebak sayang." Malik mulai memandang Mila kembali sambil jongkok dihadapannya.
"Dengan tatapanmu kali ini sudah tidak membuatku bergairah Mas, dengan tubuhmu yang telanjang hanya mengenakan celana pendek membuatku merasa jijik. Meskipun kamu tidak melakukan apapun tapi perempuan iti berhasil mencolek tubuhmu yang seharusnya hanya milikku, aku bukan perempuan tipe pemaaf mendapati suaminya yang satu ranjang dengan perempuan lain. Aku juga bukan tipe wanita yang mau memberikan kesempatan kedua setalah apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, bukankah ini juga yang diinginkan oleh Mamamu? Mamamu ingin mempunyai mantu yang tidak cacat dan menghasilkan banyak uang Mas," jelas Mila dengan sangat tegas.
"Tapi aku tidak mau menyudahi hubungan ini sampai kapanpun kamu tetap menjadi istriku." Malik mencoba meraih tangan Mila.
"Jadi kamu ingin melihatku yang terus-terusan disiksa oleh Mamamu itu Mas? Kamu ingin hidupku penuh kesengsaraan? Bagaimanapun Mamamu tetap akan memisahkan kita, lebih baik kita menjalani kehidupan masing-masing. Saat ini aku tidak ingin mempertahankan hubungan kita tapi aku tidak tau dengan takdir Allah kedepannya, kalaupun kita memang ditakdirkan untuk berjodoh suatu saat nanti pasti kita akan kembali lagi. Namun jika kita tidak berjodoh maka aku berdoa agar kamu mendapatkan perempuan sesuai porsi Mamamu," jelas Mila sambil memandang kearah Manda.
"Lalu bagaimana dengan Hanan? Apa kamu siap mengatakan ini pada Hanan? Apa kamu siap melihat Hanan jadi bersedih?" tanya Malik yang membuat Mila terdiam.
"Memangnya apa yang kamu harapkan dari wanita ini Malik? Kamu ingin jika Hanan ikut dengan perempuan ini? Apa kamu tidak lihat, bahkan mengurus dirinya sendiri saja tidak sanggup apalagi harus mengurus Hanan." Manda semakin membuat keadaan memanas.
"Uruslah Hanan dengan baik Mas, jangan sampai kecewakan kepercayaanku ini padamu. Aku yakin bahwa kamu mampu mengurus dan memberikan Hanan pengertian, ingat Mas meskipun kita berpisah jangan sampai kita merusak moral Hanan. Jadi aku mohon tetap jadi ayah yang pantut dibanggakan," jawab Mila dengan tegas meskipun hatinya begitu pilu.
__ADS_1
Jika memang sebuah perpisahan menjadikan warna dalam kehidupan seseorang mungkin itu sudah jalannya, mana ada orang yang ingin berpisah. Semua orang mendamba menikah hanya cukup sekali seumur hidup, namun jika dengan pembicaraan baik-baik dan saling memaafkan tidak membuat hubungan berjalan, maka mau tidak mau berpisahlah yang harus diterima.
Sedangkan Manda tersenyum melihat kehancuran rumah tangga anaknya yang sudah ada didepan mata, Manda tidak peduli kedepannya akan seperti apa, yang Manda mau saat ini Malik dan Mila harus berpisah. Manda menyungingkan sebuah senyuman sambil menatap kearah Mila dengan remeh.