
Sebuah pensil yang ingin untuk membuat pola tiba-tiba patah menjadi 2, pikiran Mila benar-benar kacau. Hingga Mardi menghampiri Mila, mendapati gelagat aneh menghampiri Mila.
"Nduk? Kok dipatahin? Bukannya tadi mau buat pola? Kenapa jadi dipatahin? Lalu gambarnya pakai apa dong kalau udah patah gini?" tutur Mardi sambil mengelus punggung Mila.
"Astaga! Duh kenapa jadi patah gini ya, maaf Pak aku benar-benar gak sadar udah matahin pensilnya," jelas Mila menatap kearah Mardi.
"Yasudah nih Bapak pinjamin tapi nanti dinganti ya? Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Mardi sambil menyerahkan pensil yang baru.
"Makasih Pak, beres mah kalau hanya gantiin pensil Bapak yang ini. Gak papa Mila hanya kangen aja sama Hanan Pak," kilah Mila sambil tersenyum.
"Nduk, Bapak tau rasanya jauh dari anak itu gimana. Coba mulai dari sekarang jadikan Hanan untuk acuan semangatmu menuju kesuksesan, jika nanti kamu sukeses bawalah Hanan. Sewa pembantu, Bapak yakin Mertuamu itu tidak bisa berkutik," jelas Mardi memberikan semangat untuk Mila.
"Bagaimana jika Hanan menolak Pak? Apakah Hanan masih mau bersamaku Pak? Setelah apa yang aku lakukan?" Mila kembali lesu mengingat kenyataan yang terjadi.
"Nduk cah ayu, didunia ini tidak ada yang namanya mantan anak. Sesalah apapun orang tua pada anak pasti anak tetap akan mencari orang tua yang sudah melahirkannya," ucap Mardi sambil menepuk pundak Mila.
"Baiklah Pak, Mila akan buktikan bahwa Mila pasti bisa sukses. Mila bakal kembali dengan Hanan." Semangat kembali menghinggapi Mila.
Mardi tersenyum meninggalkan Mila sendirian, sedangkan Mila kembali fokus membuat pola. Karena keasikan membuat pola Mila tidak sadar dirinya ketiduran, sampai sinar matahari membuat Mila mengeliyat.
__ADS_1
"Astaga! Mak? Siapa yang mindahin Mila?" teriak Mila berlalu menuju dapur yang sudah ada Marni disana.
"Ya Bapakmu to Nduk! Kamu ini kalau capek itu ya udah gak usah dilanjutin lagi, Emak sama Bapak ini membuat usulan biar kamu sibuk bukan membuat kamu kerja rodi begini," keluh Marni membuat Mila terkekeh.
"Ya maaf dong Mak, habisnya Mila udah lama banget gak bikin pola gitu jadi Mila keasikan deh. Oh ya Mak hari ini Mak sibuk gak? Kalau enggak Mila mau minta tolong buat beliin kain ya Mak, soalnya Mila mau buat pola yang lainnya. Gimana Mak? Mau kan?" tanya Mila menambahkan susu pada roti tawar.
"Yaudah nanti Mak belikan, kamu tinggal catat aja kain apa yang harus Mak beli. Tapi inget jangan sampai kamu jadi kelelahan ya, kalau sampai kayak semalam lagi awas!" ancam Marni mengepalkan tangannya tepat dimuka Mila.
"Ah Emak pagi-pagi udah ngeluarin jurus jitunya, siap Mak gak akan kayak semalem deh," timpal Mila mengeluarkan jari kelingkingnya.
Mereka asik mengobrol dengan canda tawa, selesai mengobrol Mila memberikan catatan untuk Marni. Setelah itu Mila kembali fokus membuat pola, Mila dengan serius dan telaten membuat pola. Ada rasa bangga saat pola-pola itu begitu menawan dipanadang dimata Mila, rasanya Mila tidak sabar membuat pola itu menjadi nyata.
Bahkan membuat Marni sampai menitihkan air mata haru saking tidak percayanya dengan hasil buatan Mila. Hari demi hari berlalu Mila terus menciptakan karya-karya baru, bahkan sekarang banyak pesanan masuk. Mila semakin kewalahan dengan pesanan yang begitu banyak, hingga hari ini Mila tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang menggajal.
"Nduk ini beneran pesenan banyak banget gini? Kok Emak curiga ya ada yang aneh gitu," tanya Marni menghampiri Mila yang sedang menjahit.
"Loh kok jadi curiga sih Mak, ya syukur alhamdulilah kalau banyak yang pesen Mak. Jangan suudzon gitu ah Mak sama orang, gak baik loh. Mungkin memang untuk acara gitu Mak," sahut Mila masih fokus dengan jahitanya.
"Bener juga kata kamu ya Nduk, tapi ini sih masih ada kok stok persediaanya. Mungkin nanti kamu tinggal nambahin aja beberapa Nduk," jelas Marni sambil membaca pesan yang masuk.
__ADS_1
"Yaudah Mak kemas aja dulu yang ada, nanti biar Mila buatin lagi kalau kurang," jawab Mila masih fokus menjahit.
"La? Ini kerudungnya tinggal 4 doang ya? Soalnya pesenan banyak banget, lagi trend loh La banyak yang nyariin gitu. Aku sampai kewalahan buat nyatet," potong Dinda yang membuat Mila menghentikan aktifitasnya.
"Emang pesnenanya berapa sih Din? Coba kamu cek dulu cari siapa tau ada yang keselip," jawab Mila mengamati catatan yang ditulis Dinda.
"Banyak La, sampai 60an biji tapi aku cansel takut lu kewalahan. Makanya aku hanya nyanggupin 30 biji doang, habis akhir-akhir ini banyak banget pesenan jadi ya aku pikir kamu gak akan kuat La," jelas Dinda yang membuat Mila melotot.
"Aduh Dinda! Kenapa kamu cansel sih? Aku masih kuat kalau cuman 30 nambahin 30 doang, yaudah deh lagian udah terlanjur juga. Lain kali hubungin aku dulu jangan main cansel aja," celetuk Mila sambil mencubit hidung Dinda.
"Kayaknya kamu perlu nambahin karyawan baru Nduk, lagian karyawan kamu kan baru ada 1. Kalau ditambahin 1 lagi kayaknya bisa tuh kekejer pesenanya," saran Mardi yang membuat Mila berfikir.
"Benar juga ya Pak, tapi emang masih ada yang mau kerja disini Pak? Bukan apa-apa sih Bapak kan tau sendiri Emak-emak disini maunya anaknya itu kerja dipabrik besar yang gajinya gede," terka Mila yang membuat Mardi terdiam.
Benar juga gimana mau nyaru pegawai lagi kalau Emaknya aja maunya anaknya kerja dipabrik besar yang gajinya gede, tidak mau ambil pusing Mila kembali menyelesaikan pekerjaanya. Hari ini benar-benar membuat Mila lelah hingga Mila memutuskan untuk menutup pekerjaan lebih awal, bagaimanapun Mila butuh istirahat juga. Mila kan hanya manusia biasa bukan robot yang butuh untuk istirahat.
Tapi Mila sangat bersyukur kerja kerasnya membuahkan hasil yang membuat Mila tersenyum, niatnya kalau Mila mendapatkan banyak uang Mila ingin membeli kaki palsu agar tidak berada dikursi roda terus menerus. Dan bebarapa hari pula Mila kehilangan kabar dari Malik dan Hanan, sepertinya benar dugaan Mila bahwa Malik sudah memblokir nomer ponselnya. Mila kembali mengecek pesanan yang tertulis dalam nota.
Saat ini memang setiap yang pesan harus dicatat dalam nota dulu agar memudahkan pengerjaanya, nanti gak tau sih kalau sudah berkembang pesat mungkin Mila akan membeli laptop untuk memudahkannya. Selama berhari-hari pula hubungan Mila dan Tama terjaliin kembali, Tama menepati omongannya untuk membantu Mila.
__ADS_1
Astofirulah!