
Tiba-tiba Hasna berteriak histeris membuat Malik dan Mila meneh, bahkan Hanan yang tadi tertidur terusik dengan teriakan Hasna.
"Mi bisa gak jalannya agak cepetan? Temen Hasna yang disebelah usila bawa temennya yang serem, Hasna takut Mi!" jelas Hasna membuat Malik bergidik ngeri.
"Coba kamu bilang sama temanmu itu buat usir temannya, siapa tahu temannya mau pergi. Kalian kan udah sahabatan sejak kecil masak teman kamu itu gak mau dengerin gak mungkin kan?" saran Mila mencoba meraih tangan Hasna yang bergetar. Hanan tiba-tiba memeluk Hasna.
"Tenang ya Dek, ternyata kamu juga bisa ngeliat? Kata teman disebelah kamu tiba-tiba aja itu anak nongol makanya diajakin, katanya lagi itu anak habis kecelakaan didepan dan gak tau harus bagaimana. Makanya sekarang ngikutin kemanapun temanmu pergi, kasihan Dek sampai nangis sesenggukan gitu katanya gak mau pisah sama Ayah dan Ibunya. Kakak sebenarnya juga kasihan tapi gak tau harus berbuat apa," jelas Hanan yang membuat Hasna sedikit tenang.
"Kasihan sekali Kak tapi muka nya yang hancur ngebuat Hasna takut gak kayak teman Hasna dari kecil," jawab Hasna masih sembunyi dipelukan Hanan.
"Jangan bilang gitu Dek kasihan dia, bahkan saat ini dia bingung harus gimana Dek. Dia lebih kecil dari kamu loh, sayang banget harus Dia yang kehilangan nyawa. Kamu tenang aja Dek Dia gak jahat kok," bujuk Hanan yang membuat Hasna membalikkan badan.
"Jadi di depan macet gara-gara ada kecelakaan? Kasihan sekali, bakalan lama nih Mas kita disini. Biasanya kalau terjadi kecelakaan memang bakalan macet gini jalannya gak terlalu gede hanya bisa dilintasi 1 mobil saja itupun secara bergantian." Mila celingukan menatap luar penasaran dengan kecelakaan yang terjadi.
"Hasna bisa ngeliat juga? Kok bisa kebetulan gini ya, itu sudah jalan di depan mungkin sudah diurus kecelakaanya. Hasna kamu pegang tangan Kakakmu aja ya kalau takut,"
Mobil yang dikendarai Malik kembali melaju dengan kecepatan sedang, 15 menit akhirnya sampai juga mereka di rumah Marni. Rumah yang kini sudah dibangun itu membuat Malik sedikit pangling, rumahnya kelihatan sepi apakah tidak ada penghuninya?. Mereka turun dari mobil lalu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Mak? Emak dimana?" tanya Mila celingukan menyisiri rumah mencari keberadaan Marni.
"Uhuk! Uhuk! Emak di dalam kamar Nak, kamu sama siapa? Kamu cari aja Bapakmu dibelakang," teriak Marni sambil terbatuk.
Mila bergegas mencari Mardi akhirnya ketemu juga kalau Mardi lagi di kamar mandi.
"Kenapa Nduk? Kok kayak penting banget gitu?" tanya Mardi keluar dari kamar mandi menghampiri Mila yang sedang membuatkan minuman.
"Emak sakit Pak? Kata Hasna, Emak hanya sehari saja jengukin Hasna. Oh ya Pak di luar ada Mas Malik sama Hanan," jelas Mila sibuk membuatkan minuman tanpa menoleh.
"Sudah dibawa ke bidan Pak? Maaf ya Pak habis Mila juga ada kepentingan mendadak, Mila gak akan ulangi lagi kok Pak. Ceritanya panjang Pak nanti Mila bakal jelasin, lebih baik Bapak sekarang temuin dulu Mas Malik sama Hanan. Mila mau ke kamar dulu tengokin Emak," jelas Mila berlalu meninggalkan Mardi menuju ruang tamu setelah itu Mila memasuki kamar.
"Mak? Sudah periksa belum?" tanya Mila sambil meletakkan oleh-oleh yang sudah dibeli tadi.
"Kamu ini lebay banget sih Nduk, Mak itu hanya sakit demam biasa. Kok kayak rame banget gitu Nduk?" jelas Marni sambil celingukan.
"Tapi udah mendingan kan Mak? Kalau memang belum mendingan lebih baik dibawa kebidan saja, iya Mak ada Mas Malik dan Hanan kesini. Kenapa emangnya Mak?" tanya Mila penasaran kenapa Marni celingukan.
__ADS_1
"Udah gak usah Nduk ini udah mendingan Mak udah gak pusing lagi kalau jalan, jangan bilang kamu kemarin tiba-tiba pergi karena nengokin Hanan?" tebak Marni secara kebetulan memang iya.
"Hanan masuk rumah sakit Mak karena tifus, sebagai seorang Ibu Mila tetap khawatir dengan kondisi Hanan Mak. Mila hanya ingin menebus kesalahan Mila waktu itu yang tidak ada disamping Hanan saat Hanan sakit, Ibu mana sih Mak yang tidak khawatir jika anaknya sakit? Aku ini masih waras Mak," sela Mila sedikit meninggikan intonasinya.
"Tapi tidak meninggalkan Hasna sendirian juga Nduk! Bagaimanapun Hasna itu masih kecil, kamu kan bisa bawa Hasna. Apakah Malik sudah tau kalau Hasna itu anaknya? Dan apakah kamu rujuk kembali dengan Malik?" Lagi-lagi tebakan Marni tepat sasaran.
"Iya Mak maafkan Mila kemarin Mila panik sampai lupa bawa Hasna, Mila janji gak akan ceroboh lagi Mak. Mas Malik belum tau jika Hasna itu anaknya tapi Mila udah bilang jika Mas Malik merupakan Ayahnya Hasna pada Hasna Mak, kenapa tebakan Mak selalu benar? Mak Mila hanya ingin menuruti permintaan Hanan," jelas Mila sedikit cangung.
"Kamu harus tetap bilang pada Malik Nduk, jangan sampai Malik mendengar berita ini dari orang lain. Yasudah apapun keputusanmu Mak mendukung selagi itu memang yang terbaik buat kamu, lalu bagaimana dengan mertuamu itu Nduk? Apakah mertuamu setuju?" tanya Marni kembali membuat Mila merasa tersudut.
"Mila pasti bilang kok Mak, Mila udah ngumpulin tekat buat bilang sama Mas Malik. Makasih ya Mak, Emak selalu dukung Mila dalam keadaan apapun. Mertua Mila gak setuju sih Mak bahkan Mama Manda sampai mengusir Mas Malik loh Mak, makanya ini Mas Malik sama Hanan aku ajakin aja kerumah. Gak ngerti lagi deh Mak sama pola pemikiran Ibu yang satu itu," jelas Mila menahan emosi.
"Waduh bener-bener ya mertuamu itu Nduk, yang penting sekarang kamu udah tenang ngejalanin rumah tanggamu. Kalau memang itu Emaknya Malik ngusir yaudah yang penting kalian sabar aja itu kan juga namanya ujian, yaudah Mak juga pengen keluar nemuin Malik sama Hanan cucu Emak. Kamu bisa bantu papah Emak gak?"
"Emang ya Mak gak semua Ibu itu berhati malaikat, semoga aja Mak yang kemarin dijadikan pembelajaran juga Mak. Ya pasti lah Mak kalau gak sabar udah sejak dulu Mila balas dendam Mak, yuk Mak Mila bantuin. Emak kan gak gendut jadi Mila bisa kok bantu papah Emak," goda Mila sambil membantu Marni berdiri.
Mila dan Marni keluar dari kamar menuju ruang tamu yang sudah ada Malik, Hanan, Hasna serta Mardi. Mereka ngobrol sangat asik sekali hingga tidak menyadari kedatangan Mila dan Marni.
__ADS_1