
Tak Lama Malik menyadari keadatangan Mila dan Marni, Malik berdiri menyalami Marni. Begitu pula dengan Hanan, Marni mempersilahkan agar Hanan dan Malil duduk kembali.
"Udah lama gak pernah kesini Nak? Gimana kabarmu baik? Hanan cucuku gimana sekolahmu? Lancar?" tanya Marni membuka pembicaraan.
"Iya ini Mak, baru beberapa hari yang lalu juga Malik bisa hubungin Mila. Malik kira Mila sudah memblokir nomer Malik, ternyata tidak Mak. Kalau Emak gimana? Sudah sembuh Mak? Jangan terlalu capek Mak waktunya istirahat ya gunakan untuk istirahat," jelas Malik begitu antusias.
"Alhamdulilah sekolah Hanan lancar Nek, kemarin juga Mami bilang kalau Hanan sekolah disini saja. Hanan gak mau kehilangan Mami lagi Nek," jelas Hanan menatap Iba kearah Marni.
Mendengar penjelasan Hanan, Mardi menatap kearah Mila. Mila mengangguk membuat Mardi mengerti.
"Kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu Nduk, Bapak hanya bisa merestui hubungan kalian. Bapak tidak mungkin melarang kalian untuk kembali bersama, yang Bapak minta jik ada cobaan apapun jamgan langsung grusa-grusu. Mengambil tindakan yang bakal membuat kalian salah paham lagi, Bapak minta jaga keluargamu dengan baik-baik ya Nak Malik. Lalu bagaimana dengan Mama kalian?" tanya Mardi menatap kearah Mila bergantian menatap Malik.
"Kalau soal itu Mas Malik akan tinggal disini Pak, lagian buat apa kembali kesana kalau sudah diusir. Niatnya Mas Malik mau menggantikan posisi Emak, selama ini Mila kepikiran bahwa sudah saatnya Mak istirahat. Mak tinggal mengurus Bapak, apalagi melihat Mak yang sakit begini. Jadi bagaimana Mak? Apakah tidak apa-apa jika Mak berhenti dan menyerahkan tanggung jawab Mak pada Mas Malik?" tanya Mila mengegam tangan Marni.
__ADS_1
"Kalau Mak sih ngikut kalian aja baiknya bagaimana, kalaupun Malik sanggup ya sok monggo. Yang penting jangan serahkan kepercayaan ini dengan orang lain, gak tau kenapa Mak kurang srek aja kalau orang lain yang memegang pabrikmu ini. Bukannya Mak gak percaya, tapi Mak hanya tidak ingin kejadian beberapa tahun itu terulang kembali. Lagian kalau memang Malik nganggur ya gak papa dipegang Malik, Mak juga udah tua sudah saatnya Mak istirahat. Mak sih setuju-setuju saja," ucap Marni sambil tersenyum.
"Sebenarnya sih saya masih bimbang Mak, pasalnya saya masih kerja di perusahaan. Perusahaan yang sudah menemani saya dari 0, kayak sayang aja gitu Mak kalau ditinggalin. Tapi kalau di pertahanin saya gak mungkin bolak-balik kesana-kemari, kalaupun saya tidak lepas dari pekerjaan saya ini. Pengalaman saya jadi gak ada dong Mak, saya bakal fokus dengan pekerjaan itu-itu saja. Kalaupun ada masalah sudah bisa saya tebak dab atasi, kalau memegang pabrik ini kan pengalaman baru buat saya Mak. Saya juga lebih dekat dengan Mila juga anak-anak," jelas Malik memandang lurus kearah Marni.
Suasana jadi dingin setelah Malik menjelaskan apa yang menjadi kendalanya.
"Emm, kalau menurut Bapak. Kamu pilih saja yang mana bikin kamu nyaman mengerjakan pekerjaan itu, kalau kamu gak nyaman otomatis konsentrasimu bakal terganggu. Kalaupun kamu memilih memegang pabrik, kamu juga harus belajar resiko apa yang menjadi jalan keluarnya. Bisnis itu tidak selalu mulus, ada pasang surutnya. Saat kamu dibawah produk macet, kamu harus sudah tau harus berbuat apa. Memilih sesuatu hal yang baru juga membutuhkan pembelajaran baru, Bapak sih yakin kalau kamu bisa. Kamu itu orangnya cerdik, kalau Bapak sih setuju saja kalau kamu mau memegang pabrik ini. Yang penting kamu selesaikan dulu dengan pekerjaan di kantormu itu, jangan sampai perusahaan sudah mengantungkan kamu. Tiba-tiba kamu pergi tanpa berkata apapun," imbuh Mardi menengahi masalah yang terjadi.
"Bener itu Mas, kalau kamu memang memilih untuk memegang pabrik aku juga bisa bantu kamu. Ya setidaknya aku bisa kasih solusi ke kamu, kalau kamu kembali lagi ke kantor. Kamu bisa ngekos disana, hanya saja kamu bakal berpisah dengan anak-anakmu. Semua keputusan ada padamu Mas, apapun itu aku siap ngedukung kamu. Yang penting kamu pikirkan dulu dengan matang-matang," sela Mila.
"Sebenarnya gak apa-apa sih Mas, hanya saja Hasna masih butuh asuhaku. Bukannya aku gak percaya sama pengasuh dirumah, aku ingin merawat anakku dengan usahaku Mas. Karena itu sudah tanggung jawabku, kalau Hasna udah gede mah gak apa-apa aku tinggal. Lah kamu kan tau sendiri Hasna masih butuh pantauanku Mas," ucap Mila membuat Malik mengangguk.
Benar juga apa yang dikatakan Mila, buka tidak ingin mempercayai pengasuh dirumah. Sekarang banyak kan pengasuh yang seenak jidak saat majikanya tidak bisa mengawasi, Mila merupakan sosok Ibu yang baik. Itulah alasan mengapa Mila menyerahkan tanggung jawab pabrik pada Marni, hanya Marni lah yang saat itu Mila percayai.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu biar aku yang ambil alih memegang pabrik tersebut, tapi aku juga butuh bimbingan kamu. Bagaimanapun aku perlu belajar, aku bakal meninggalkan perusahaan itu. Aku ingin mencoba tantangan yang baru, jadi aku harap kamu bisa membantuku La. Belajar sendiri tidak akan membuatku mudah memahami aku butuh orang yang lebih berpengalaman," ucap Malik akhirnya membuat Mila bernafas lega.
"Pasti Mas aku bakalan bantuin kamu, aku harap setelah ini Emak tidak sakit-sakitan lagi. Gunakan waktu Emak untuk beristirahat, Mak gak usah khawatir keperluan sehari-hari pasti akan Mila penuhi kok. Makasih ya Mak untuk segalanya," ucap Mila sambil memeluk Marni.
"Hem, Mak bakalan kangen sama berondong-berondong disana deh. Semoga kalian bisa menjadi partner untuk bekerjasama, semoga kesuksesan menghampiri kalian. Yang lalu biarlalu berlalu," ucap Marni mengelus punggung Mila.
"Makan dulu yuk, itu Bapak udah masak tadi pagi. Kata Emakmu pengen banget semur jengkol makanya Bapak masakin semur jengkol," sela Mardi membuat semua tersenyum tak terkecuali Hanan.
"Wah Hanan sudah lama gak makan semur jengkol buatan Nenek sama Kakek, terakhir kali lebaran kemarin. Yuk kita makan," ajak Hanan lebih dulu menuju meja makan.
"Ah anak itu tidak pernah berubah, yuk Nak Malik. Ini kan juga kesukaanmu," ajak Marni.
Kini mereka semua menuju ke meja makan, Mardi ini memang jago masak. Bahkan rasanya mengalahkan masakan Marni, dulu sih Mardi bercita-cita menjadi chef terkenal. Karena dulu tidak ada biaya Mardi tidak bisa meraih cita-citanya, alhasil menjadi chef dirumahnya sendiri deh.
__ADS_1
Hem Mantab!
Puji Hanan sambil mengacungkan kedua jempolnya, ah memang ya semur jengkol itu primadona sekali. Hasna dan Hanan makan dengan lahap, bahkan nambah terus membuat Mila mengelengkan kepalanya. Padahal sebelum ke rumah Marni, mereka sudah makan di rumah eh sekarang makannya banyak juga.