Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.27


__ADS_3

Sesaat Mila berfikir apakah sekarang saatnya Mila menemui Hanan? Tapi saat ini Mila belum menjadi apa-apa.


Mila menggeleng "Tidak Tam! Bukan saat ini! Pertempuranku baru saja dimulai, aku masih harus menjadi orang yang pantas dibanggakan terlebih dahulu," pekik Mila tak mau mengambil resiko.


"Baiklah jika memang ini keinginanmu, kapan saja kamu mau menemui Hanan aku siap mengantarkanmu La. Jangan pernah sungkan! Aku tidak mau kamu gagal menemui Hanan hanya karena kamu sungkan padaku," jelas Tama memandang teduh wanita disampingnya.


"Terimakasih ya Tam," ucap Mila sambil tersenyum simpul.


Akhirnya mobil itu kembali sunyi tidak ada pembicaraan lagi. Mila memutuskan untuk memberitahu Emak dan Bapakanya perihal kandungannya, Marni bahkan menyuruh Mila agar tidak memberitahukan padah Malik. Namun Mardi menentangnya seburuk apapun Malik tetap ayah anak dalam perut Mila. Semenjak perdebatan panjang itu akhirnya tepat hari ini Mila melahirkan, kandunganya sudah memasuki usia 9 bulan.


"La kamu harus kuat ada aku disini, kamu gak usah khawatir meskipun seharusnya kamu melahirkan ditemani Malik aku lah yang akan menjadi temanmu. Ayo berjuang bersama agar anakmu lekas lahir," ucap Dinda menyemangati Mila yang terbaring lemah didepannya.


"Aku gak sanggup Din, rasanya luar biasa. Apakah aku bisa memilih untuk operasi saja?" tawar Mila keringat bercucuran bercampur air mata.


"Tapi ini udah pembukaan 7 loh La, tinggal sebentar lagi pembukaan itu lengkap. Ayolah La semangat jangan patah semangat," terang Dinda memberikan Mila kekuatan.


Mila mengangguk mengumpulkan lagi energi yang sudah terkuras habis, orang bilang melahirkan yang kedua itu justru lebih muda. Nyatanya ucapan itu tidak sesuai dengan kenyataan, Mila bahkan lebih kesakitan saat lahiran pertama kali, ya Mila melahirkan dengan kaki sebelah saja membuatnya semakin kesulitan. Namun Dinda tetap memilih agar Mila mau berusaha melahirkan secara normal, Mila berdoa berserah diri pada sang Pencipta. Sampai akhirnya pembukaan lengkap Dinda membantu Mila melewati masa sulit itu.


Brak!


Gadis kecil nan cantik menghampiri Mila yang sesang bekerja, manjannya mirip sekali dengan ayahnya Malik. Ya Mila masih ingat betul bagaimana seorang Malik bermanja, Mila memeluk gadis kecil itu yang memiliki mata persis dengan Malik.


"Ada apa sayang?" tanya Mila sambil mencolek hidung putrinya.


"Hasna ingin es krim Mi, boleh kan Hasna makan es krim?" tanya Hasna sambil bergelayut manja dipangkuan Mila.

__ADS_1


"Tapi kalau Hasna jadi pilek gimana? Boleh asalkan gak banyak ya sayang, Mami gak mau kalau sampai Hasna pilek," peringat Mila yang diangguki oleh Hasna.


Hasna berlalu pergi meninggalkan Mila yang masih menatap kearahnya berjalan menghampiri tukang jualan es krim. Gadis cantink bernama Hasna merupakan anak dari Mila dengan Malik, anak itu kini sudah tumbuh dewasa. Tak terasa air mata mengalir disudut mata Mila, Mila teringat dengan Hanan anak laki-lakinya yang penurut itu. Mila selalu berdoa agar sesegera mungkin depertemukam dengan Hanan, apalagi saat ini dirinya sudah sukses. Sudah bisa membuat rumah mewah bahkan mobil mewah sudah bisa Mila beli, hasil kerja kerasnya selama ini membuhkan hasil.


Drett! Drtt!


Bunyi pesan masuk pada ponsel Mila membuyarkan tangisan Mila, Mila mengusap air mata itu mengeluarkan benda pipih disakunya. Nomer asing tiba-tiba mengirim Mila pesan, siapa? Batin Mila.


"Mila? Bagaimana kabarmu?" Isi pesan dari pengirim.


"Ini dengan siapa?" tanya balik Mila tidak menjawab pertanyaan dari sang pengirim pesan tersebut.


"Malik"


Deg!


"Malik? Apakah itu kau Mas?" Tanya Mila masih sopan.


"Iya ini aku Malik, maaf baru bisa menghubungimu. Aku tidak tau bahwa Mama sudah memblokir nomermu, kemarin aku sempat kerumah Emak dan Bapak namun tidak ada orang. Bahkan rumah kalian dulu berbeda sekarang sudah berdiri sebuah pabrik, apakah itu milikmu? Aku senang akhirnya bisa menghubungimu kembali, apakah kamu punya waktu? Hanan anakmu kini sudah tumbuh dewasa, saat ini Hanan masuk rumah sakit jika kamu berkenan bisa kesini disalah satu rumah sakit yang akan aku kirimkan alamatnya," jelas Malik membuat Mila buru-buru menyambar kunci mobilnya.


Mila terus memikirkan Hanan, Hanan anak Mami kamu harus kuat. Mami sebentar lagi kesitu, Hanan harus sembuh! Mami gak mau kehilangan Hanan! Gerutu Mila dalam hati, 2 jam perjalanan tak membuat Mila merasa lelah. Dengan mobil mewahnya Mila memarkirkan mobilnya, Mila langsung menuju keruangan yang sudah Malik kirimkan.


Ceklek!


Mila membuka pintu, membantingnya cukup keras hingga berbunyi.

__ADS_1


Brak!


Mila berhambur memeluk tubuh Hanan yang terbaring dibanker itu.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Mami!


Protes Hanan membuat Mila melepaskan pelukannya, Mila tersenyum yang dibalas senyum oleh Hanan.


"Anak Mami kenapa?" Tanya Mila masih memandangi Hanan.


"Hanan gak papa Mi hanya masuk angin biasa, Papi aja yang lebay bawa Hanan kerumah sakit segala," celoteh Hanan melirik kearah Malik.


"Anak Mami udah gede ya sekarang, Mami sampai pangling ngelihat Hanan," ucap Mila mulai meneteskan air mata.


Mila benar-benar bisa melihat Hanan kembali, bahkan saat ini Mila bisa menyentuh Hanan. Mila terharu beberapa tahun Mila berjuang menahan rindu akhirnya rindu itu bisa Mila buang. Wajah Hanan yang dulu masih imut kini terlihat lebih dewasa dengan beberapa jerawat di mukanya, Hanan mengusap air mata Mila dan memeluk Mila dengan sangat erat membuat Mila semakin terisak.


"Mami udah bisa jalan? Hanan bahagia banget akhirnya Mami bisa jalan dan menghampiri Hanan, tebakan Hanan gak pernah salah jika Mami pasti akan kembali dan memeluk Hanan. Hanan bahagia akhirnya tebakan Hanan jadi kenyataan," ucap Hanan masih memeluk Mila.


"Mami juga bahagia bisa ngelihat Hanan lagi, Mami pikir gak akan pernah bisa bertemu Hanan. Mami janji gak akan tinggalin Hanan lagi, maafkan Mami," ucap Mila dengan suara seraknya akibat menangis.


"Hanan udah maafin Mami sebelum Mami minta maaf, Hanan berharap Mami tidak akan ninggalin Hanan lagi. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan Hanan, bawa Hanan kemanapun Mami inginkan. Hanan akan ikut Mami kemanapun Mami bawa pergi," jelas Hanan membuar Mila semakin terisak.


Pemandangan yang begitu mengharukan membuat Malik ikut meniteskan air mata, rasa rindu seorang Ibu pada anaknya tidak bisa ditutup-tutupi dengan egonya. Memang benar ada mantan istri maupun suami, tapi tidak ada yang namanya mantan anak ke Bapak maupun anak ke Ibunya. Malik menghapus air matanya seblum ketahuan sama Mila, bagaimanapun Malik barus menjaga wibawanya dihadapan Mila. Perempuan yang masih berada didalam hati Malik, yang masih menempati posisi nomer satu dihatinya.

__ADS_1


Lepaskan tubuh kotormu itu sekarang juga! Sebelum kau akibatnya!


__ADS_2