
Malik memeluk Hasna dengan erat, dirinya benar-benar merasa orang paling jahat. Saat seharusnya pulang memeluk tubub Hasna, sambil menanyakan bagaimana kondisinya. Justru Malik membawa sebuah amarah hingga membuat Hasna mengeluh.
"Maafkan Papi sayang, Papi benar-benar gak sempat membaca pesan dari Mami. Maaf sudah membuat istirahat Hasna jadi terganggu gara-gara Papi, Papi janji gak akan ngelakuin hal sebodoh ini. Apakah Hasna memaafkan Papi?" tanya Malik masih memeluk tubuh Hasna.
"Hasna udah gak papa Pi, yang penting Papi gak marah sama Hasna saja Hasna sudah senang. Makasih ya Pi udah mau maafin Hasna, Papi jorok ih! Bauk tauk!" gerutu Hasna menyingkirkan tubuh Malik.
"Ah sayang kan hanya bau kecut saja, yaudah Hasna istirahat lagi gih. Papi mau bersihin badan dulu, nanti Papi bakal ceritain sesuatu sama kamu deh. Sekarang Hasna istirahat lagi ya,"
Hasna mengangguk lantas kembali ke kamarnya, Mila tersenyum akhirnya masalah suami dan anaknya selesai.
"Gimana Mas? Apakah masalah di pabrik sudah selesai?" tanya Mila berjalan merangkul lengan Malik.
"Itu sih beres sayang, hanya ada sedikit kendala saja, nanti deh bakal Mas ceritain. Kalau gitu Mas mandi dulu ya, oh ya dimana Hanan? Kok Mas gak ngelihat sih?" celetuk Malik mengedarkan pandangan mencari keberadaan Hanan.
"Baiklah Mas, kalau gitu aku siapin baju buat kamu ya? Kamu mau minum apa? Hanan ada dikamar Mas, capek mungkin makanmya tidur. Sudah lah biarin saja nanti kalau waktu makan biar aku panggil," jawab Mila membuat Malik tersenyum dan meninggalkannya.
Malik bergegas masuk ke kamar mandi, sementara itu Mila menyiapkan baju ganti untuk Malik. Selesai tugasnya Mila membuatkan susu jahe kesukaan Malik, Mila begitu piwai membuatkan susu jahe kesukaan Malik. Begitu lincahnya hingga beberapa menit kemudian susu jahe siap diminum.
__ADS_1
"Mi? Papi belum pulang? Hanan kok tadi sekilas kayak dengar suara Papi gitu? Apakah Hanan salah dengar?" tanya Hanan menghampiri Mila.
"Sudah sayang, kenapa? Kangen ya sama Papi? Perasaan belum juga ada sehari kamu ditinggal, makan yuk? Kamu laper gak? Kalau iya kita makan bersama sekalian, Mami mau panggilin Hasna dulu. Atau mau kamu yang panggilin Hasna? Mami mau nyiapin lauknya, gimana kamu mau sayang?" tawar Mila sibuk menyiapkan makanan di atas meja.
"Ah bukan begitu Mi, tadi Hanan denger suara ribut-ribut gitu. Hanan pikir Mami berantem lagi sama Papi, untunglah kalau Mami dan Papi baik-baik saja. Kalau gitu biar Hanan saja yang bangunin Hasna Mi," ucap Hanan berlalu pergi menuju kamar Hasna.
Mila terdiam, bukankah selama berantem Malik dan Mila tidak pernah terdengar oleh Hanan? Kenapa Hanan bisa menyimpulkan hal itu? Bahkan saat terakhir kali Mila dan Malik berantem, Mila menyuruh Wawan untuk membawa Hanan. Apakah Hanan mengetahui perdebatan waktu itu dengan Malik? Hingga akhirnya Hanan menjadi anak nakal?.
"Anak-anak kemana sayang?" tanya Malik menghampiri Mila.
"Lagi mau kesini Mas, nih minumnya. Makan dulu,habis ini kamu punya hutang cerita sama aku ya Mas. Jangan lupa buat ceritain semuanya," gertak Mila dengan nada bicara sedikit serius.
"Kenapa Pi? Tumben amat sumringah gitu mukanya? Biasanya mah dulu sebelum ada Mami, Papi sering banget kalau pulang wajahnya jadi asem. Udah gitu sering banget pulang larut malam, kadang Papi gak pulang juga. Sekarang beda ya Pi?" rayu Hanan membuat Mila memandang lekat kearah Malik.
"Jadi dulu Papi suka gak pulang kerumah? Lalu siapa yang urus Hanan? Mas kamu gak kira-kira ya, terus gimana dengan Hanan? Kamu gak urus Hanan gitu? Mas semandiri apapun anak mereka masih butuh dampingan dari kita, kamu gak bisa seenaknya lepas dari tanggung jawab gitu dong Mas. Untung Hanan anak yang mudah diatur, diluar sana banyak anak yang hancur masa depannya karena kesalahan orang tua. Aku melepaskanmu itu, karena aku merasa tak mampu mengurus Hanan Mas. Tapi bukan berarti aku tidak mengkhawatirkan kondisi Hanan, kamu yang mampu menjaga Hanan kenapa berlaku seperti itu Mas?" Brondong Mila membuat Hanan menunduk.
"Maaf sayang aku benar-benar frustasi, orang yang sangat aku cintai begitu saja melepaskan ikatan denganku. Aku tidak sanggup kehilanganmu La, makanya aku berbuat seperti itu. Aku lalai akan tanggung jawabku sebagai seorang Ayah, aku bukannya melupakan tanggung jawabku. Aku hanya frustasi saja, semua itu bukan aku sengaja sayang. Aku janji gak akan pernah seperti itu lagi, aku berharap kamu juga tidak meninggalkanku lagi. Maafkan aku," ucap Malik dengan lirih seolah tak mampu berucap
__ADS_1
kembali.
"Emm.. Katanya mau makan, Hasna sudah lapar nih. Kalian kenapa jadi ribut sih? Memangnya gak di marahin sama Allah kalau ribut ya? Mami kan selalu bilang gak boleh marah-marah ataupun berantem, karena berantem temannya setan. Makanya Hasna dengerin apa kata Mami, yaudah sini Mi biar Hasna ambil sendiri saja. Keburu cacing Hasna pada demo nih, Mami sih pakai acara ribut segala sama Papi. Mana piringnya Mi?" celoteh Hasna membuat Mila terdiam.
"Biar Papi saja yang ngambilin ya sayang, maaf udah bikin cacing diperut Hasna semakin demo ya. Papi gak akan berantem lagi kok sama Mami, kan Papi temennya Hasna bukan setan. Nih makan yang banyak ya sayang," ucap Malik memberikan lauk pauk beserta nasi pada Hasna.
Hasna menerima piring tersebut, Malik menoleh kearah Hanan yang masih tertunduk.
"Makan sayang, ini bukan salah Hanan. Papi sama Mami lagi diskusi saja kok, Hanan jangan merasa bahwa Papi dan Mami seperti berantem gara-gara Hanan ya. Sudah yuk dimakan udah Papi ambilin." Malik mengelus puncak kepala Hanan, seketika itu Hanan mendongak.
Malik tersenyum kearah Hanan sambil mengangguk, Hanan pun ikut tersenyum lantas menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ah kejadian ini membuat Mila menyesal, tak seharusnya Mila mencerca Malik saat sedang bersama anak-anaknya. Mila benar-benar tidak berfikir jernih, kala emosinya meledak.
"Sayang habis makan minum obat dulu ya, nih sudah Mami siapin. Hasna harus minum obatnya agar cepat sembuh, Hasna gak mau sakit lagi kan? Gak mau kerumah sakit lagi kan? Kalau iya Hasna harus dengerin apa kata Mami," ucap Mila memberikan obat beserta air minum kehadapan Hasna.
"Haduh Mi kenapa harus obat lagi sih? Gak ada cara lain apa? Hasna gak mau Mi obat itu kan pahit!" tolak Hasna sambil menutup hidungnya agar tidak mencium bau obat.
"Hasna? Katanya gak mau lagi sakit, yaudah Hasna gak usah minum biar nanti sakit dan Mami bawa kerumah sakit lagi. Itu kan yang Hasna pengen?"
__ADS_1
Mila kembali mengambil obat tersebut, sambil berdiri ingin meninggalkan meja makan.
Mami!