
Malik dan Mila memutuskan untuk tertidur, karena hari yang sudah malam. Pagi harinya Mila memutuskan untuk membawa Hanan mendaftar sekolah, Mila menuju ke kamar Hasna terlebih dahulu.
"Loh sayang? Kamu kok udah rapi? Kamu mau pergi sekolah? Gak dirumah dulu saja? Kamu kan lagi masa pemulihan, gimana kalau kamu dirumah dulu saja sayang? Mau kan?" tawar Mila yang membuat Hasna menoleh.
"Gak ah Mi, Hasna mau sekolah saja. Lagian gak asik dirumah sendirian, Kak Hanan kan juga pergi keluar sama Mami. Hasna gak mau tinggal dirumah sama Simbok saja, biarin Hasna sekolah ya Mi? Hasan sudah sembuh kok, jadi Mami tenang saja. Mami percaya kan sama Hasna?" Hasna melangkah menghampiri Mila yang masih di ambang pintu..
"Sayang, tapi kan Hasna lagi dalam masa pemulihan. Nanti kalau Hasna kenapa-napa gimana dong? Mami gak mau itu terjadi, Hasna nurut ya sama Mami? Kan kalau nurut enak," ucap Mila terduduk menyamakan tinggi Hasna.
"Mi? Plis! Hasna mau ke sekolah, kalau Mami merasa takut Hasna kenapa-napa. Gimana kalau Hasna ikut Mami saja? Nanti Hasna bakal tungguin di mobil kok, Hasna gak akan bandel deh. Ya Mi ya," mohon Hasna membuat Mila iba.
Mila akhirnya mengalah mengajak Hasna ikut dengannya, sebenarnya Mila ingin jika Hasna itu istirahat dirumah. Tapi Hasna ngotot gak mau dirumah sendirian, alhasil Mila ajak saja Hasna. Sampai lah kini Hanan di sebuah sekolah yang cukup elit itu, Hanan mengekori Mila masuk kedalam ruangan guru.
Brak! Aww!
Maaf! Maaf!
Hanan tak sengaja menabrak salah satu murid disekolah itu, akibat tabrakan itu membuat tas murid tersebut jatuh. Hanan mengambil lantas memberikan tas tersebut, Hanan menatap murid tersebut dengan perasaan yang menggebu. Seorang wanita cantik mempunyai bulu mata lentik, mata sipit juga gigi yang begitu rapi.
"Kamu anak baru ya?" sapa wanita tersebut.
"Ii-iya aku anak baru, Mami baru mau daftarin aku. Maaf ya aku gak sengaja nabrak kamu, aku benar-benar gak ngelihat kalau ada kamu. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Hanan begitu tulus.
__ADS_1
"Ini juga salahku, aku tadi terlalu fokus dengan ponselku hingga tidak melihat jalan. Aku juga minta maaf ya udah nabrak kamu, kalau gitu aku permisi dulu ya. Selamat datang disekolah ini semoga kamu betah ya," ucap wanita tersebut berlalu pergi.
Tunggu!
Teriak Hanan, namun wanita itu tidak menoleh. Hanan hanya bisa menatap kepergian wanita tersebut, hingga tangan lembut milik Mila menyadarkan Hanan.
"Sayang? Mami nyariin Hanan loh ternyata Hanan disini, Hanan kenapa gak ikut masuk? Yuk kita masuk," ajak Mila merangkul bahu Hanan.
"Maaf ya udah bikin Mami nyariin, yaudah yuk Mi. Ayo kita masuk," ajak Hanan yang diangguki Mila.
Mila berbincang serius, namun fokus Hanan teralihkan. Hanan terus teringat wajah cantik wanita yang Hanan tabrak, hingga tangan Mila membuyarkan lamunan Hanan. Ternyata pendaftaran itu sudah selesai, Mila mengajak Hanan untuk pulang.
"Cepet banget? Udah selesai saja," tegur Hasna saat Mila dan Hanan masuk.
"Akh maaf ya Mi! Yaudah yuk pulang saja, Hanan udah capek nih pengen rebahan. Kamu juga kan harus istirahat Dek," bohong Hanan membuat Mila semakin curiga.
Mila melajukan mobilnya, sesekali melihat spion mobil menatap kearah Hanan. Benar saja Hanan tiba-tiba tersenyum gak jelas gitu, sampai dirumah Mila menyuruh Hasna untuk pergi istirahat. Sedangkan Mila menyuruh Hanan untuk duduk disofa, Mila mengambil nafas sebentar.
"Apa Hanan ingin bercerita sesuatu dengan Mami? Atau Mami yang akan bercerita dengan Hanan?" tawar Mila membuat Hanan kebingungan.
"Maksud Mami?" tanya Hanan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Semenjak Mami nimpuk pundak kamu, Mami menemukan gelagat aneh dari kamu. Kamu menjadi beda untuk Mami, kamu banyak melamun dan tidak fokus. Apalagi saat di mobil kamu selalu senyum-senyum sendiri," jelas Mila akhirnya.
"Ah itu…," ucap Hanan terhenti karena Mila sudah menyambar terlebih dahulu.
"Apakah kamu menyukai seseorang?" tebak Mila tepat membuat Hanan membuang muka.
"Mami sudah tau jawabannya, apapun yang menjadi pikiranmu saat ini. Mami harap tidak mengganggu konsentrasi belajarmu, Mami bukannya melarang kamu ingin menyukai siapapun. Mami hanya ingin agar kamu lebih fokus dengan sekolahmu terlebih dahulu, Mami akui kamu memang sudah besar. Tapi Mami gak mau kamu melakukan apa saja sesukamu, pikirkan sekolahmu terlebih dahulu. Jadikan perasaan suka mu itu sebagai motivasi untuk belajar, Mami ingin yang terbaik buat kamu sayang. Kalau kamu menjadi orang sukses kamu sendiri kok yang bakal ngerasain," tegas Mila membuat Hanan menatap Mila dengan lekat.
"Mi, Hanan hanya mengagumi perempuan itu saja tidak lebih. Hanan hanya memikirkan sekolah Hanan, Hanan bukan bermaksud untuk menjadikan perempuan tersebut sebagai kekasih. Mami tenang saja ya," ucap Hanan membuat Mila tersenyum lega.
"Makasih ya sayang sudah mau mendengarkan Mami, semoga kelak kamu menjadi orang yang sukses. Mami bangga mempunyai kamu." Mila memeluk Hanan sangat erat rasanya pelukan itu tak ingin Mila lepas.
Entah kenapa Mila belum rela jika Hanan sudah dewasa, Mila belum rela Hanan mengenal cinta. Padahal dulu waktu Mila seumuran Hanan juga sudah berpacaran, ah begitulah perasaan seorang Ibu saat merasa anaknya sudah dewasa. Semoga saja Mila bisa rela kelak Hanan dewasa dan menikah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Mila menoleh, Hanan meminta izin pada Mila untuk pergi kearas. Sedangkan Mila menuju pintu, seseorang yang asing membuat Mila mengrenyit. Mila mempersilahkan orang tersebut untuk duduk terlebih dahulu, hari ini Mila memutuskan mempekerjakan pembantu secukupnya saja. Mila menuruti perkataan Malik yang mengharuskan Mila untuk mengurus anaknya, tugas Simbok hanya membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
"Silahkan diminum Pak, maaf ya saya lupa membeli cemilan jadi seadanya saja ya Pak. Ngomong-ngomong Bapak ini siapa ya?" tanya Mila yang sudah terduduk di sofa sambil meletakkan minuman.
"Duh maaf ya Mbak jadi merepotkan begini, gak usah bawa cemilan segala kalik Mbak. Nama saya Hernanto, mungkin Mbak bingung ya dengan kedatangan saya yang bagaikan orang asing ini? Sebenarnya saya bukan orang asing loh Mbak," ucap Hernanto sambil menyesap minumannya.
__ADS_1
Mila terdiam mengingat kembali siapa lelaki di depannya ini, memang benar orangnya asing. Tapi wajahnya tidak asing bagi Mila, lantas siapa ya kira-kira Hernanto ini?.
Mas Hernanto!