
Mila benar-benar merasakan dirinya yang begitu teledor, untung saja ada orang yang mau memberitahu Mila. Kalau sampai tidak ada yang tau, sudah pasti Malik bakal jadi rengginang. Duh Malik nasib buruk sedang berpihak terhadapmu sepertinya, sore pun beranjak Mila membawa Hasna untuk pulang.
"Akhirnya Hasna terbebas juga dari bau obat tak sedap yang bikin ngilu itu, Hasna gak akan lagi deh kesana. Ini cukup yang pertama dan terakhir kali, Hasna udah gak mau kesana apapun alasannya. Lebih baik sehat dirumah sendiri," oceh Hasna memandangi luar dari jendela mobil.
"Makanya itu sayang kalau di bilangin Mami jangan suka bandel, kemarin kan Mami udah bilang jika Hasna gak boleh capek-capek. Tapi Hasna ngotot gak mau pulang, Mami ngelarang kamu itu bukan karena Mamii jahat. Mami hanya gak mau kalau kamu sampai jatuh sakit, sehat itu mahal loh sayang. Maka jangan pernah sia-siain kesehatanmu itu, jangan pernah mengeluh. Itu semua Mami lakukan demi kebaikan kamu, sakit itu gak enak loh sayang. Apalagi kamu yang gak doyan obat, padahal kalau udah sakit penyembuhannya harus dengan obat. Lain kali dengerin ya apa yang Mami bilang," perintah Mila.
"Iya Mi, maaf ya karena Hasna sudah jadi anak yang bandel. Hasna gak mau dengerin omongan Mami, Hasna justru ngotot minta Mami turutin keinginan Hasna. Hasna benar-benar salah Mi, Hasna kira Mami melarang Hasna karena Mami gak sayang lagi sama Hasna. Ternyata Hasna salah, Mami begitu sayang sama Hasna. Sampai Mami gak ingin jika Hasna sakit, makasih ya Mi sudah tegur Hasna tanpa dimarahi. Hasna sayang banget sama Mami," ucap Hasna sambil memuji Mila.
"Iya sayang gak papa, kalau kamu memang mau Main ya secukupnya saja dengan kemampuanmu. Lain kali kan Hasna juga masih bisa main, padahal ya permainan disana kan sama saja kayak dirumah. Kenapa kamu betah banget disana dibanding dirumah sayang?" tanya Mila sangat antusias.
"Habis disana banyak temennya sih Mi, kalau di rumah kan gak ada temen. Kalau sekarang mah udah ada Kak Hanan, Hasna seneng banget akhirnya Hasna punya teman bermain Mi. Hasna kan pengen juga punya temen Mi, gak hanya Nenek, kakek sama Mami doang temennya. Lagian kalau ada temen mah kalau udah pergi sekolah Mi," jelas Hasna membuat Mila tersenyum.
__ADS_1
"Kalau gitu Mami tinggal ya, Hasna kalau butuh sesuatu bilang sama Simbok. Mami mau keluar sebentar, gapapa kan kalau Mami tinggal sebentar? Atau mau ditemenin Kak Hanan? Tapi kasihan Kak Hanan sih dia pasti capek, gimana sayang?" tanya Mila mengelus puncak kepala Hasna yang kini terbaring di kasur.
"Iya gak papa Mi, lagian Hasna kan udah gede Mi. Biarin aja Hasna sendirian Mi mau istirahat juga, kalau ada Kak Hanan malah gak jadi istirahat deh. Ternyata Kak Hanan orangnya cerewet juga ya Mi, kalau diajak bicara itu nyambung. Enak aja gitu kayak ngalir saja terus Mi, Hasna kira Kak Hanan itu cool bicaranya hanya sedikit. Eh ternyata melebihi Hasna kalau lagi bicara Mi, Hasna aja sampai ter heran-heran." Hasna menatap ke arah Mila.
"Ya memang Kakak seperti itu sayang, bagus dong kamu jadi ada temen main sekaligus teman curhat. Kalau gitu Mami pergi dulu ya sayang, kalau ada apa-apa hubungi Mami." Hasna mengangguk lantas Mila meninggalkan Hasna dikamar.
Saat baru beberapa langkah mendekati mobil, Mila mengurungkan niatnya untuk pergi. Mila tesenyum pada tamu tersebut yang tidak lain adalah Tama, Tama menghampiri Mila.
"Gimana keadaan Hasna? Maaf ya tadi aku buru-buru pulang, soalnya memang lagi sibuk. Banyak meeting juga banyak yang ngajakin kerja sama," ucap Tama dengan wajah menyesal.
"Ah kau kan juga tau kalau Dinda orangnya sibuk, secara bidan mah harus 24 jam siap siaga. Ya maunya sih pergi berdua kemana-mana biar gak disangka jomblo, tapi ya sudahlah memang nasib punya calon istri bidan kan gini. Yang penting romantisnya gak hilang, bener gak? Ah iya sama-sama maaf ya gue bingung harus bawaiin apa," canda Tama menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Hahah..kamu bisa saja, ya memang sih yang penting romantisnya, kesetiaan juga perasaannya. Kalau kalian sudah saling romantis tapi perasaan masih sama orang lain ya sama aja bohong, jadinya bertepuk sebelah tangan. Bentar ya aku buatin minum dulu, kebetulan Simbok lagi istirahat jadi aku gak mau bikin waktu istirahatnya terganggu. Kamu gak papa kan aku tinggal dulu bentar? Jangan-jangan…," ucap Mila berhenti karena Tama menggelengkan kepalanya.
"Haduh, kok aku jadi disamain Hasna saja. Aku ini udah gede sebentar lagi juga mau nikah, masak aku masih takut sama hal begituan. Ya gak mungkin lah, jangan manis-manis kamu masih ingat kan seleraku kayak gimana? Jangan sampai berubah jadi kemanisan takutnya diabetes," peringat Tama sambil mendudukan pantatnya di sofa.
"Ck! Ya siapa tau kamu masih takut sama hal begituan, iya-iya aku masih ingat kok tenang saja. Toh kalau kemanisan kan bisa ditambahkan garam gitu kek udah beres kan," canda Mila berlalu pergi meninggalkan Tama sendirian.
Mila membuatkan minum sesuai rikuesan Tama, tanpa kemanisan. Mila juga menyiapkan beberapa cemilan agar ngobrolnya lebih enak, apalagi Mila memang suka ngemil. Kayak ada yang aneh saja kalau tidak ngemil, untung badan Mila tidak melar tetap kurus.
"Lama ya? Nih sekalian aku sedian cemilan, kamu kan juga doyan ngemil. Tapi kok bisa ya kalau cowok ngemil banyak badannya tetap saja kayak gitu? Gak melar juga, gak harus mikirin buat diet maupun olahraga ekstra. Kalian mah suka banget bikin ngiri." Mila meletakkan cemilan juga minuman untuk Tama.
"Gak semua cowok kayak gitu, intinya cowok sama cewek itu sama aja. Hanya saja kalau cowok lebih cuek, meskipun gak ganteng minimal mandi yang bikin wangi. Jadi kalau wangi keluar pun tetep pede, walaupun minusnya ya itu gak ganteng," jelas Tama tentang fakta cowok sesungguhnya.
__ADS_1
"Oh jadi sama aja ya? Aku kira cowok gak punya rasa insecure kayak gak punya beban gitu, yang penting yaudah jalani aja mau gimanapun bentukanmu. Gitu ya? Yaudah gih silahkan diminum sambil nikmatin cemilannya biar aku gak sia-sia bawain kesini," ucap Mila meneguk minumannya sendiri.
Tama melirik Mila sekilas, seolah belum terima saja bahwa wanita yang Tama cintai sampai kapanpun tidak akan menjadi miliknya.