
Marni berlari menghampiri Mardi yang berteriak memanggil Mila, pemandangan didepanya membuat Marni menangis dan menjerit sejadi-jadinya.
Mila! Astofirullah!
Mardi yang menyadari kehadiran Marni menyuruh Marni untuk berada dibawah tubuh Mila yang kini tergantung disebuah tali, Mardi mengecek apakah nyawa Mila masih ada. Syukurlah nadi Mila masih Mardi rasakan, Mardi membawa sebuah pisau untuk melepaksn tali yang melekat dileher Mila. Akhirnya Mila bisa diselamatkan dalam keadaan sudah pingsan.
"Bapak gak tau lagi kalau sampai Bapak telat masuk Bu, mungkin nyawa Mila sudah melayang!" jelas Mardi berada disamping tubuh Mila yang masih pingsan.
"Benar kan kataku tadi Pak, firasatku tak pernah salah! Mila kenapa harus kau lakukan hal ini sayang!" Marni terisak sambil menangisi tubuh Mila yang terbaring dengan lemas.
"Yasudah Bu ambil minyak kayu putih biar Mila bisa menghirupnya dan lekas sadar. Jangan saling menyalahkan terlebih dahulu, Bapak gak mau sampai kejadian ini terulang lagi Bu! Setelah ini kita harus sadarkan Mila!" jelas Mardi masih disamping tubuh Mila.
Marni mencari sebuah minyak kayu putih lantas dibalurkan ketengorokan terlebih dahulu, setelah itu baru diletakkan tepat didepan hidung agar Mila bisa menghirup. Aroma kuat dari minyak kayu putih membuat Mila akhirnya tersadar juga, Marni memberikan sebuah minuman air putih untuk Mila.
"Kenapa harus Bapak selamatkan nyawaku Pak? Kenapa Bapak tidak biarkan aku mati saja! Apa gunanya aku hidup jika aku tidak bisa memeluk Hanan saat Hanan membutuhkanku Pak!" teriak Mila saat dirinya sadar bahwa masih hidup.
__ADS_1
"Harusnya Bapak yang marah akibat ulah mu ini Nduk! Kenapa kau lakukan semua ini? Hanya karena kau tidak bisa memeluk Hanan saat Hanan membutuhkanmu? Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan sama Bapak Nduk! Bukankah dari awal kalian memutuskan untuk berpisah? Jika kalian saling mengiyakan kenapa sekarang kamu peduli kenapa kamu tidak bisa berada disisi Hanan saat anakmu membutuhkan itu? Makanya Nduk, sebelum memutuskan sesuatu itu dipikirkan dengan baik-baik dulu. Jangan sampai akhirnya kamu seperti ini kehilangan akal warasmu saja!" teriak Mardi kepalang emosi dengan apa yang sudah Mila katakan.
"Wes to Pak! Mbok jangan dimarahin! Mila itu bingung harus berbuat apa Pak, coba bicara baik-baik saja dengan Mila pak," saran Marni yang membuat Mardi geram.
"Loh gimana gak dimarahin to Buk! Kau lihat sendiri gimana keras kepalanya anakmu ini! Pikiran cupetnya bikin Bapak emosi! Bicara baik-baik yang bagaimana lagi to Buk? Bapak ini sudah dari kemarin tidak perah berkomentar apapun atas apa yang sudah anak kita lakukan! Sekarang setelah semuanya terjadi anakmu baru merasa bahwa dirinya sudah kehilangan anaknya, setres aku ini Bu! Bapak sudah meminta Mila agar Mila mau kembali berdoa sama sang pecipta tujuannya agar Mila ini tidak punya hati yang kotor!" Mardi sedikit meninggikan suaranya agar Mila bisa sadar atas perbuatannya.
"Maaf ya Pak, aku benar-benar kehilangan arah. Aku hanya berfikir jika nanti aku mati semuanya akan baik-baik saja dan cepat berlalu," jawab Mila memegang tangan Mardi untuk dikecup.
"Nduk masalah itu bukan untuk ditinggalkan tapi gimana kamu bisa menyelesaikan masalah ini, kalau kamu mati bukannya masalah akan hilang tapi masalah semakin banyak! Bapak gak mau kamu kayak gini lagi kalau sampai kamu kayak gini lagi Bapak gak akan anggap kamu sebagai anak lagi!" jawaban monohok dari Mardi membuat Mila menghapus air matanya.
"Yasudah Nduk, Bapak juga minta maaf sudah ngebentak kamu. Sekarang lebih baik kita tidur hari sudah beranjak malam, kamu mau tidur sendiri atau ditemani Emakmu?" tanya Mardi sambil melirik kearah Marni.
"Eh makan dulu to Pak, ini Emak udah bawain makanan buat kamu. Tadi kamu kan makannya hanya sedikit jadi Mak takut kamu kelaparan, yaudah Mak suapin dulu kalau badanmu masih lemes sambil berbaring gak papa," jawab Marni menyendokkan sesuap nasi kedalam mulut Mila.
"Tau aja sih Mak, aku emang doyan makan akhir-akhir ini. Makasih ya udah perhatian Mak." Mila membuka mulut menerima suapan nasi dari Marni.
__ADS_1
"Yasudah kalau gitu Bapak keluar ya mau tidur dulu, besok Bapak harus berangkat kesawah. Badan Bapak juga pegel nih." Mardi berdiri sambil berjalan menuju kamarnya yang ada disebelah Mila.
"Mila boleh ikut gak Pak?" Mila menghentikan langkah kaki Mardi yang sudah sampai didepan pintu kamarnya.
"Gak usah! Besuk kamu pergi saja kerumah Dinda teman kecilmu itu, kamu kan udah lama gak main kesana. Cari tau juga Dinda punya kesibukan apa yang bisa kamu kerjakan, intinya kamu harus menyibukkan diri agar tidak terbayang masalah ini terus," jawab Mardi sedikit beteriak agar Mila mendengar suaranya.
"Benar juga kata Bapak ya Mak, sepertinya aku butuh menyibukkan diri. Syukur-syukur bisa dapet hasil dari menyibukkan diri, tapi kira-kira apa ya Mak? Sebenarnya sih aku masih ada sisa tabungan cuman bingung mau dibuat apa, kalau kuliner aku belum jago masak kayak Emak," jelas Mila tanpa menjawab Mardi yang membuat Mardi memutuskan untuk memasuki kamar dan tertidur.
"Yaudah coba saja besuk mau dibikin apa Nduk, lebih baik sekarang kamu istirahat. Bukankah kamu bercerai gara-gara Ibu mertuamu yang menghina kamu tidak bisa apa-apa? Ayo buktikan pada mantan Ibu mertuamu itu kalau kamu bisa bangkit dan sukses! Berikan kejutan untuk Ibu mertuamu melihat kamu yang berjaya setelah bercerai dengan Malik," jelas Marni membuat senyum terbit dibibir Mila.
"Ah benar! Kenapa aku tidak berfikiran seperti itu? Ah dasar bodoh sekali aku ini! Baiklah mari kita bergandeng tangan membuat Ibu Manda yang terhormat itu tidak bisa berkata-kata melihat mantan mantu sukses jaya!" teriak Mila begitu antusias menyambut ide dari Emaknya.
"Bagus sayang! Emak akan mendukung apapun yang nantinya menjadi usahamu, semoga Allah angkat derajatmu. Bukankah setiap kesedihan akan ada hikmah dibaliknya? Mungkin ini adalah jawaban dari kesengsaraanmu kemarin," jelas Marni mengelus puncak kepala Mila dengan lembut.
"Ah ya! Aku jadi punya semangat baru Mak, tidak sabar juga menunggu esok untuk berjuang kembali menghadapi sebuah kenyataan baru," jelas Mila sambil memeluk Marni
__ADS_1
Marni tersenyum dan ikut bahagia melihat Mila yang akhirnya mendapatkan kembali semangat hidupnya, setelah kesakitan yang dilaluinya bahkan hingga mengakhiri hidup Mila kembali mendapatkan jiwa yang baru. Ya Mila harus bangkit dari keterpurukan dan membuktikan bahwa Mila bukan lawan yang dengan mudah dikalahkan.