Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.37


__ADS_3

Mila memasuki Mila memasuki kamar dengan hati-hati, bagaimanapun takut jika Hasna tiba-tiba terusik tidurnya gara-gara kedatangan Mila.


Papi! Maafin Hasna!


Teriak Hasna sampai air matanya berlinang, Mila mendekat ke tubuh Hasna.


"Sayang! Hasna bangun Nak!" Mila membangunkan Hasna dengan lembut.


"Mi!" teriak Hasna memeluk tubuh Mila.


"Kenapa sayang? Apa yang terjadi dengan kamu? Kamu mimpi buruk?" tanya Mila memberondong.


"Iya Mi, Hasna mimpi Papi marah sama Hasna sampai Papi gak mau sama Hasna lagi, Hasna tau kalau ini kesalahan Hasna Mi. Hasna gak sengaja manggil Om Tama sebagai Papi, Hasna benar-benar lupa hingga membuat Papi cemburu. Hasna gak mau kehilangan Papi Mi," ucap Hasna sambil sesenggukan.


"Ya Udah sayang gak papa, ini bukan salah Hasna. Papi juga gak bakal marah kok sama Hasna, nanti biar Mami yang ngomong sama Papi ya. Hasna gak perlu khawatir lagi, nanti kalau ketemu Om Tama jangan panggil dengan kata Papi ya. Papi Hasna sekarang itu Malik, bukan Om Tama ya. Hasna mau bangun atau mau tidur lagi?" tanya Mila sambil mengelus punggung Hasna.


"Hasna mau tidur lagi saja Mi, tapi Hasna takut kalau tidur sendirian. Apakah Kakak mau kalau Hasna tidur bareng sama Hasna ya?" ucap Hasna menatap kearah Mila.


Mila membopong Hasna menuju kamar Hanan, sebelum masuk Mila menotok pintu lebih dulu.


"Sayang? Kamu belim tidur? Ini Hasna katanya mau tidur sama kamu, Hasna takut kalau hujan lebat gini, kamu gak keberatan kan?" tanya Mila membuat Hanan menguap.

__ADS_1


"Sudah sih Mi kebangun pas tadi ngetuk pintu, sini Dek yang penting jangan ngompol aja ya. Mami gak istirahat?" tanya Hanan sambil meminta Hasna pada Mila.


"Duh maaf ya sayang jadi bangunin, tenang aja Hasna gak ngompolan kok. Mami titip Hasna ya sayang, buruan tidur lagi. Mami juga sebentar lagi mau istirahat, nanti Mami bangunin kalau sudah adzan maghrib ya. Kita sholat berjamaah udah lama kan gak sholat berjamaah," tawar Mila membenarkan selimut Hanan kembali.


Hanan hanya mengangguk lantas memejamkan mata kembali, sebelum keluar Mila mengecup kening putra putrinya. Mila keluar menuruni tangga dengan sangat pelan menuju kamarnya, Mila sedikit pelan membuka pintu takut kalau ternyata Malik sudah tidur. Ternyata Malik belum tidur masih sibuk dengan ponselnya, Mila memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


"Kamu kenapa gak tidur Mas? Emangnya kamu gak capek?" tanya Mila yang baru keluar dari kamar mandi sudah mengenakan baju tidurnya.


"Ada yang ingin Mas tanyakan sama kamu, makanya Mas nungguin kamu. Ya sebenarnya Mas ngantuk, tapi Mas buat gak ngantuk biar bisa dapat jawabannya. Kamu sekarang lama banget mandinya," ucap Malik menyuruh Mila untuk berbaring disampingnya.


"Emang apa yang mau kamu tanyain Mas? Eh dari dulu aku kalau mandi juga lama loh Mas," bela Mila melotot ke arah Malik.


"Mas perlu tau sebenarnya Hasna itu anak siapa? Kalau terlihat lebih jelas Hasna mirip sekali denganku," tanya Malik begitu serius.


"Sebenarnya Hasna itu anak kamu Mas, maaf karena aku tidak memberitahu kamu lebih awal. Sejak tau bahwa aku hamil, aku sudah berniat untuk menyembunyikan kehamilan itu. Aku tidak ingin jika kamu tau Mama juga bakal tau, nanti malah bikin anak kita nyawanya terancam. Bukan karena aku tidak percaya dengan Mamamu Mas, tapi melihat kembali gimana perlakuan Mamamu terhadapku membuatku memutuskan untuk menyembunyikan saja. Memang sih sejak awal Emak menentang ide gilaku ini," jelas Mila sambil menghirup udara.


Malik terdiam hatinya bergemuruh, entah kenapa rasanya benar-benar sakit. Harusnya Malik bisa menemani Mila saat bersalin, bahkan harusnya Malik mengadzani Hasna. Air mata seketika menetes mengingat betapa bodohnya Malik membiarkan Mila berusaha sekuat tenaga melahirkan tanpa sosoknya.


Dasar Bodoh!


Maki Malik yang membuat Mila menoleh, Mila memeluk Malik. Hatinya ikut sakit, ternyata benar kebohongan yang disembunyikan lebih lama akan membuat lebih banyak orang yang terluka.

__ADS_1


"Maafin aku Mas, harusnya aku ngomong lebih awal ke kamu. Aku hanya tidak sanggup saja mendengar kata-kata jahat yang Mamamu lontarkan," ucap Mila bibirnya terasa tercekat.


"Ini bukan salahmu sayang, ini salahku! Aku yang terlalu bodoh sampai tidak mengetahui kabarmu, maaf juga aku sudah mengira jika kamu berbuat seperti itu dengan orang lain. Aku benar-benar bodoh!" umpat Malik geram dengan dirinya sendiri.


"Mas jangan seperti ini, bagaimanapun ini hanya kesalahan saja. Yang penting sekarang kamu sudah tau siapa sebenarnya Hasna, mari kita mulai semuanya dengan suasana yang baru Mas. Mari mulai bahagia setelah penderitaan itu berhasil memisahkan kita, mari lebih saling menguatkan satu sama lain. Dan saling menjaga hubungan agar tidak ada kata pisah lagi," ucap Mila mencium kening Malik sangat lama.


Malik menikmati ciuman itu, Malik merindukan aroma wangi pada tubuh Mila. Aroma yang selalu Malik rindukan kini sudah berada di depan matanya. Wanita itu bahkan kini sedang menciumnya sangat tulus, Malik memejamkan matanya. Karena rasa kantuk yang tidak bisa ditahan lagi, apalagi hari ini benar-benar membuat Malik kecapean.


Krucuk…krucuk..krucuk.


Suara di perut Malik tiba-tiba memberontak, Malik membuka mata melihat sebelah. Namun Mila tidak ada disampingnya, Malik memutuskan untuk keluar. Benar saja Mila saat ini sedang memasak membuat perutnya ingin segera disi.


"Udah bangun kamu Mas? Kenapa lapar ya?" tanya Mila sambil mengelus tangan yang melingkar di tubuhnya.


"Hem, kamu bikin perutku keroncongan. Padahal aku masih enggan untuk bangun, kamu harus tanggung jawab ya. Siapa suruh membuat perutku keroncongan jadi tidurku terusik," gerutu Malik membenamkan wajahnya di leher Mila membuat Mila mengerang.


"Mas jangan lakukan ini plis! Aku lagi fokus buat makanan, gak enak juga kalau sampai dilihat Bibi. Plis deh Mas!" mohon Mila mencoba menyingkirkan wajah Malik dari lehernya.


"Hem sepertinya besok gak usah pakai pembantu saja, lagi pula kamu kan dirumah. Aku ingin kamu mengurus anak-anak biar aku yang mencari uang, sepertinya kita tidak memerlukan pembantu lagi. Tapi kayaknya butuh juga buat bantuin kamu biar gak kecapekan, gimana kalau jam kerjanya saja yang dipotong?" usul Malik membuat Mila menoleh kini mereka saling menatap satu sama lain.


"Maksud Mas gimana? Memangnya ada pembantu yang bekerja waktunya di potong? Yang ada juga gajinya yang dipotong Mas," ucap Mila kembali fokus memasak.

__ADS_1


"Ya ada dong sayang, nanti pembantu itu hanya disuruh masak sama bersih-bersih rumah. Kalau sudah selesai ya boleh pulang, apalagi pembantu itu kan rumahnya dekat. Gimana kamu setuju kan?" ucap Malik membuat Mila mengangguk.


Duh Malik definisi suami idaman ketika istri lagi masak, dipeluk dari belakang sambil dibisikin uangnya kurang gak? Duh Mas tak sayang-sayang selalu nek gitu.


__ADS_2