Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.25


__ADS_3

Akhirnya setelah banyak jatuh bangun usaha Mila mulai terlihat berkembang pesat, bahkan saat ini karyawan Mila sudah ada 5 orang. Pesanan semakin melonjak membuat Mila berkeinginan untuk mendirikan pabrik sendiri.


"Hari ini dan seterusnya semoga pesanan kita semakin membaik, kalian sudah lama bekerja sama denganku. Aku hanya ingin kalian tetap bekerjasama denganku, kalian yang sudah lama disini akan aku jadikan sebagai HRD. Kita akan mendirikan sebuah pabrik yang memproduksi kerudung, karena peminat kerudung semakin banyak digandrugi maka aku bakal membuat pabrik itu bediri," jelas Mila suara tepuk tangan begitu riuh dirumahnya.


"Aku gak nyangka kalau usaha kita ini yang bener-bener dimulai dari 0 bahkan sampai di tipu sama orang membuat usaha ini semakin maju, bahkan usaha ini akan semakin berkembang pesat luar biasa buat kita semua," imbuh Dinda meramaikan suasana dirumah Mila.


"Usaha ini gak akan bisa berkembang seperti ini tanpa adanya kerja keras dan kerja sama dari kalian, aku sangat berterimakasih berkat kalian semua usaha ini semakin berkembang dengan pesat. Kalian pantas bangga dengan pencapaian kalian saat ini," teriak Mila sambil tersenyum bangga.


Sebentar lagi! Ya sebentar lagi Mila yang dulu hanya seorang wanita cacat tidak bisa apa-apa sebentar lagi akan membuat kejutan untuk orang-orang yang sudah menghinanya. Sebantar lagi Manda,mertuamu yang tak kau anggap layaknya mantu sebentar lagi akan menbuatmu jantungan, eh astofirullah lemes amat ini mulut.


"La? Aku boleh ngomong sesuatu sama kamu?" tanya Tama kin Mila dan Tama berada disalah satu restoran.


"Boleh Tam, emangnya kamu mau ngomong apaan? Serius amat gitu," canda Mila membuat Tama tersenyu.


"Gimana hubunganmu dengan Malik La?" tanya Tama penuh penekanan.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Ucapan Tama membuat Mila tersedak, Mila mencoba mengatur dirinya agar tidak dicurigai oleh Tama.


"Kamu gak papa La? Maaf ya kalau pertanyaanku ini ngebuat kamu jadi tersedak," sesal Tama membuat Mila tersenyum.


"Gak papa Tam aku hanya kaget aja kamu bilang gitu barusan, Malik sudah masa laluku Tam gak ada yang perlu dibahas lagi. Intinya aku dan Malik masih bersilaturahmi dengan baik hanya saja hubunganku dengannya memang tidak bisa diselamatkan," jawab Mila membohongi perasaannya.

__ADS_1


"Jadi? Kamu sama Malik apakah sudah bercerai La?" tanya Tama lagi membuat Mila membuang nafas dengan kasar rasanya Mila malas sekali bila harus membicarakan hal ini.


"Sudah! Bahkan gugatan itu sudah lama aku terima, ngomong-ngomong kamu bawa aku kesini ada perlu apa Tam?" tanya balik Mila mengalihkan pembicaraan.


"Silahkan hidangan nya sudah siap, selamat makan," sela salah satu pelayan restoran memberikan pesanan pada Mila dan Tama.


"Terimakasih," ucap Mila sambil tersenyum yang dibalas senyuman oleh petugas tersebut.


"Makan dulu La nanti bakal aku jelasin kalau kita udah selesai makan, nanti makanannya gak enak lagi kalau udah dingin. Gapapa kan La?" tanya Tama menatap ke arah Mila dengan seksama.


"Iya Tam makan dulu," ucap Mila singkat.


Mila mulai menyuapkan makanan yang sudah disajikan itu, dengan mulut yang sesekali meniup makanan agar tidak terlalu panas. Saat sebuah parfum yang begitu menyengat tercium oleh hidungnya Mila mulai merasakan sesuatu yang aneh.


Lagi-lagi Mila merasakan mual. Mila berlari menuju toilet membuat Tama penasaran apa yang terjadi dengan Mila, apakah Mila sakit? Atau jangan-jangan … aha tidak! Itu hanya spekulasi pikiran Tama saja.


"Kenapa La?" tanya Tama saat Mila kembali menduduki kursinya.


"Gak tau tadi ada yang lewat parfumnya kebanyakan gitu bikin aku eneg, yaudah terusin lagi makannya maaf ya udah bikin kamu jadi kebingungan," jawab Mila membuat Tama mengangguk.


"La kamu beneran hanya eneng bau parfum aja gak ada yang lain?" tanya Tama memastikan bahwa pemikiranya itu salah.


"Maksud kamu Tam?" Mila mengernyitkan keningnya tidak paham dengan arah pembicaraan Tama.

__ADS_1


"Kamu gak sedang …," ucap Tama terhenti karena dipotong Mila.


"Maksud kamu hamil? Ya enggak lah Tam mana ada aku hamil, jangan ngaco deh bikin orang parno aja," sangkal Mila kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Ya bukan nya ngaco La tapi kamu itu aneh aja gitu gak biasanya kamu eneng kalau ada orang yang memakai parfum kok, bahkan kamu aja kan penyuka parfum kenapa tiba-tiba kamu eneng?" tebak Tama membuat Mila kepikiran.


Bener juga apa yang dikatakan Tama, biasanya nih kalau orang hamil kan suka banget sama hal aneh-aneh gitu? Apakah memang benar Mila hamil? Sepertinya Mila harus membeli test pack agar dugaan itu salah, tanpa menjawab pertanyaan Tama. Mila ngacir pergi begitu saja membuat Tama semakin kebingungan,Tama gak ambil pusing mungkin Mila mau ke mobil mengambil barang yang ketinggalan.


Ngomong-ngomong soal Mila sekarang Mila sudah tidak menggunakan kursi roda lagi, Mila mengenakan kaki palsu agar lebih leluasa dalam beraktifitas. Bahkan dengan kaki palsunya kini Mila menjadi Mila yang lain bukan Mila yang dulu, Tama begitu bahagia mendapati perubahan pada Mila.


"Maaf Tam aku tiba-tiba pergi begitu saja, pembahasan kita tadi sudah sampai mana ya?" ucap Mila kembali duduk dibangkunya.


"Gak usah dibahas La, karena aku mau bahas hal yang lainnya. Ini mengenai perasaanku ke kamu La, sejak awal kita menjalin hubungan aku tidak berniat untuk mempermainkan hubungan kita. Hingga akhirnya aku harus memutuskan dan merelakan kamu menikah dengan orang lain, perlu kamu ketahui La. Aku memutuskan hubungan bukan karena aku tidak menyukaimu lagi, bukan juga karena aku tidak bisa berhubungan jarak jauh. Aku hanya tidak sanggup melihat kamu yang harusnya selalu bersama kekasihnya namun aku tidak ada untukmu," jelas Tama membuat Mila menjadi serius.


"Lalu? Apa hubungannya dengan perasaanmu saat ini Tam?" tanya Mila pura-pura tidak tau.


"Jadi begini La, perasaanku ke kamu dari dulu tidak berubah sama sekali. Aku masih tetap mencintaimu aku juga masih tetap mengagumimu," ungkap Tama begitu antusias.


"Tapi aku ini sudah janda Tam! Bahkan aku ini cacat! Apa yang akan kamu peroleh dari aku itu semua tidak lebih dari kesengsaraan," sanggah Mila mencoba membuka mata Tama.


"Perihal bagaimana kondisimu saat ini aku tidak peduli La, mau statusmu itu apa aku juga tidak peduli, yang aku pedulikan bagaimana dengan perasaanmu?"


Mila diam bingung harus menjawab apa, di satu sisi Mila nyaman dengan Tama. Namun disisi lain Mila juga masih menyimpan perasaan suka terhadap Malik, akibat perpisahan Mila dengan Malik itu semua bukan kesalahan Malik. Melainkan mertuanya yang begitu membenci Mila, apakah Mila akan menolak perasaan Tama? Atau justru Mila memberikan kesempatan untuk Tama?

__ADS_1


__ADS_2