
Mila mengamati Tama dengan seksama, ada harapan yang kini terlihat jelas di binar matanya. Tapi Mila bingung harus bagaimana, Mila belum siap menjalin rumah tangga kembali apalagi dengan orang baru. Orang yang dulu pernah mengisi hidup mili kini menjadi orang baru, Mila berusaha setenang mungkin. Sampai akhirnya Mila membuka suara yang membuat Tama …
"Aku tidak tau harus bilang bagaimana Tam, tapi kamu coba lihat ini dulu. Setelah kamu melihat ini baru kamu putuskan tetap mencintaiku atau berhenti," jelas Mila mengeluarkan sebuah benda dan menyerahkan pada Tama.
"Apa ini La?" tanya Tama sambil tertegun.
"Buka saja Tam semoga ini dapat menjawab perasaan kamu yang katanya sejak dulu tidak pernah berubah itu," jelas Mila membuat Tama membuak benda tersebut.
"Jadi?" tanya Tama memastikan bahwa semua ini tidak benar.
"Sesuai apa yang sudah kamu lihat Tam, itu semua memang sudah jelas. Lalu? Bagaimana?" tanya balik Mila membuat Tama terdiam.
Mila tau saat ini Tama sedang berfikir keputusan apa yang akan Tama ambil, bahkan Tama yang tadi menatap Mila dengan penuh keyakinan menundukkan kepalanya. Mila tau keputusan ini begitu berat, namun Mila tidak ingin jika nantinya Tama menyesal dikemudian hari.
"Apakah itu bayi Malik?" tanya Tama akhirnya memandang Mila dengan luka.
__ADS_1
"Apakah kamu mengira bahwa aku sudah bermain dengan lelaki lain?" tanya balik Mila menahan amarah.
"Bukan begitu La, hanya saja aku …akh!" teriak frustasi Tama mengacak-acak rambutnya.
"Aku tau Tam kamu pasti terluka tapi anak ini memang anak Malik, bahkan aku baru tau tadi. Aku kira selama ini sering mual karena aku masuk angin saja, ternyata aku salah. Aku tau ini berat buat kamu Tam, maaf karena aku selalu menyakiti kamu. Aku …," jawab Mila terpotong oleh Tama.
"Semua sudah takdir La, aku hanya berharap kamu bisa bahagia meskipun aku tidak bisa memilikimu. Lalu apakah kamu akan balik dengan Malik?" tebak Tama membuat Mila membuang muka menuju arah luar.
"Aku tidak punya kekuatan untuk bilang sama Malik, bahkan Malik sudah memblokir aku Tam! Aku rasa Malik sudah menemukan penggantiku, jadi untuk aku apa aku bilang pada Malik?" tutur Mila lemah sambil mengamati jalan di luar restoran.
"La? Apapun yang menjadi keputusanmu aku akan mendukung, namun alangkah lebih baiknya jika kamu mengatakan ini pada Malik. Bagaimanapun Malik adalah ayahnya kamu tidak bisa menyembunyikan itu La, suatu saat nanti anakmu juga akan menanyakan dimana Ayahnya berada. Apakah kamu siap membohongi perasaan anakmu demi keegoisanmu itu?"
Tama meraih tangan Mila diatas meja "Aku tau, mari kita akan membuat mereka menyesal." Tatap Tama begitu dalam "Buat mereka malu karena sudah berbuat semuanya."
Mila mengangguk menghapus air matanya yang hanya akan terbuang sia-sia itu, saat ini Mila memilih untuk menyembunyikan kandungannya. Mila tidak ingin justru kandunganya itu membuat nyawa anak Mila menjadi terancam, bisa saja kan karena Malik sudah menemukan pengganti Malik akan kembali dengan Mila karena memiliki seorang anak. Mila tidak ingin hal buruk terjadi!.
__ADS_1
"Mari pulang kamu juga perlu istirahat besok kita kan bakal ngeloncingin pabrik kamu yang baru itu." Tama mulai tersenyum dengan Mila meskipun hatinya begitu hancur.
"Terima kasih karena tetap profesional, maaf jika aku sudah menghancurkan perasaanmu Tam. Aku berharap suatu saat nanti kamu mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan, semoga kelak wanita yang menjadi pendamping hidupmu begitu mencintaimu dan keluargamu. Yaudah yuk aku juga sudah capek nih," pungkas Mila mengakhiri pembicaraan.
Tama menggandeng tangan Mila sampai ke mobilnya, perasaan luka tidak menjadikan Tama untuk berhenti mencintai Mila. Saat ini memang Tama hanya bisa mencintai Mila tanpa ada yang bisa menggesernya, entah beberapa tahun kemudian akankah Mila tergeser dalam hati Tama? Tama melajukan motornya, tanpa ada suara menyertai perjalanan pulang mereka. Mila sebenarnya ingin berbicara banyak hanya saja Mila tau bahwa saat ini Tama butuh sendiri.
"La? Memangnya beneran Malik memblokir nomer kamu? Lalu bagaimana dengan Hanan? Apakah Hanan sama sekali tidak menanyakanmu?" ucap Tama menyudahi kegundahan Mila.
"Beneran Tam, aku juga gak tau kenapa Malik tiba-tiba memblokir nomorku. Hanan? Apakah aku masih pantas ditanyakan? Setelah aku meninggalkan anakku begitu saja? Tanpa ada kata perpisahan sekalipun?" tanya Mila raut wajahnya terlihat sedih.
"Aku punya dugaan lain deh La, ini beneran atau bukan tapi gak tau juga bakal ngasih pertanyaan ke kamu atau enggak. Aku mengira kalau sebenarnya yang ngebelokir nomer kamu itu bukan Malik melainkan Ibunya, bukannya mau suudzon ya La. Kenapa memangnya? Aku sih yakin sebenarnya Hanan itu selalu nanyain kamu La," jelas Malik membuat Mila berfikir.
"Benar juga kata kamu ya Tam, awalnya aku juga mengira seperti itu. Gak mungkin kan Malik tiba-tiba nge blokir nomorku gitu aja, orang gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba begitu aneh aja sih. Aku jadi rindu dengan Hanan, udah pinter apa saja itu anak ya? Hanan itu anak yang baik bahkan penurut Tam, tidak pernah sedikitpun membuatku jengkel. Hanan selalu membuat hari-hariku jadi berwarna, aku yang sudah mengandungnya. Bahkan aku menaruhkan nyawaku untuk melahirkannya, tapi kenapa bukan aku yang membesarkannya Tam? Rasanya gak adil, aku yang cacat seperti ini harus kehilangan anakku yang jauh sudah ada sebelum kakiku cacat. Apakah aku memang sebegitu tidak meyakinkan untuk membesarkan anakku sendiri? Bahkan sampai detik ini aku bisa sukses, aku bisa membeli sesuatu yang dulu aku andai-andaikan. Kenapa sebegitu bencinya mertuaku terhadapku Tam?" isak Mila hatinya bergemuruh menahan luka.
"Bahkan luka melahirkan Hanan saja masih membekas Tam di tubuhku! Yang menandakan bahwa aku ini memang Ibunya, kenapa aku tidak boleh merawat anakku sendiri Tam? Apakah setiap wanita yang cacat harus dipandang rendah? Tidak! Jangan menutup mata hanya karena bisa mendengar, apa fungsinya hati jika mereka tidak bisa menggunakannya." Mila semakin terisak dengan emosi yang memuncak.
__ADS_1
Seorang Ibu mana yang tidak sakit saat dirinya harus kehilangan anaknya? Saat harus merelakan anaknya dibesarkan dengan tangan lain bukan dengan tangannya, bahkan tangan itu bukan tangan yang sudah melahirkannya.
"Apakah kamu mau menjenguk Hanan?" tawar Tama tidak kuasa melihat Mila yang begitu hancur.