
Mila hanya tersenyum kecut membalas senyuman dari Manda.
"Mari bercerai Mas." Mila berkata sambil memandangi Malik dengan seksama.
"Tidak Dek! Mas gak mau bercerai!" teriak Malik duduk dilantai sambil mengenggam tangan Mila, wajahnya dibenamkan diantara paha Mila.
"Mari bercerai secara baik-baik Mas, jika kamu merasa bahwa Hanan akan kehilangan kasih sayang dariku maka bawalah Hanan untuk menemuiku kapanpun kamu mau. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan hubungan kita Mas," jawab Mila sambil tertunduk membenamkan wajahnya menggunakan tangannya.
"Baiklah jika memang ini kemauanmu Mas bakalan turutin, tapi Mas akan balikin kamu secara baik-baik. Dulu Mas minta kamu secara baik-baik jadi Mas bakalan balikin kamu secara baik-baik, lihatlah Ma sekarang Mama sudah bisa berbahagia atas kehancuran rumah tangga anak Mama sendiri. Malik benar-benar gak nyangka bahwa Mama tidak mempunyai perasaan dan hati, Mama lebih mementingkan ego dari pada masa depan cucu Mama sendiri. Kalau boleh Malik tau apa alasan Mama mengunci dan menyiram Hanan Ma?" Malik memberanikan diri menyatakan kejadian yang tidak seharusnya Mila dengar.
"Mama bosan mendengar celotehan Hanan yang selalu memanggil nama Mila, makanya Mama siram supaya Hanan mau berdiam diri di kamar," jelas Manda tanpa rasa bersalah.
"Hebat ya Ma! Bahkan selain Mama menyakiti aku, Mama juga menyakiti Hanan? Cucu yang Mama bilang kesayangan, Mila gak habis pikir jika Mama memiliki hati yang kotor. Mas, aku tidak mau kejadian ini terulang kembali, kalau sampai kejadian ini terulang kembali aku tidak segan-segan mengambil Hanan dari kamu. Akan aku besarkan Hanan meskipun harus bersusah payah, lebih hati-hati lagi mengawasi Mamamu yang merupakan musuh sendiri." Mila menghampiri Manda dengan tatapan tajam.
"Kau tidak usah ikut campur lagi lebih baik sekarang kemasi dulu baju-bajumu itu, aku sudah muak melihat mukamu disini. Pergi! dan jangan pernah kembali untuk mengganggu Malik, karena Malik sudah mendapatkan calon istri baru," jelas Manda berlalu pergi meninggalkan Mila dan Malik.
"Sudah lah sayang tidak usah dengarkan perkataan Mama, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah lagi. Aku hanya mau mengurus Hanan disisa umurku, mari Mas bantu membereskan baju-bajumu,"
Malik dan Mila menghampiri sebuah lemari yang cukup besar, Malik mengeluarkan koper yang akan diisi baju-bajunya sedangkan Malik mengenakan pakaian yang pantas, sebelum mengantarkan Mila pulang. Berat rasanya harus berpisah dengan seseorang yang masih dicintai namun setelah Malik berpikir lebih baik memang mereka berpisah.
Malik tidak ingin membuat Mila tersakiti lagi oleh Mamanya yang begitu egois, Malik hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Apa lagi mendengar perkataan Mila bahwa Mila sudah tidak bernafsu lagi pada Malik. Mila mengemasi pakaian dengan seperlunya saja pakaian yang sudah tidak layak dibiarkan begitu saja didalam lemari.
"Kamu tidak ingin menemui Hanan dulu sayang?" tanya Malik masih mencoba untuk tersenyum.
__ADS_1
"Tidak Mas! Aku tidak ingin membuat Hanan menangis, apalagi nanti Hanan pasti tidak mau ditinggal. Semoga kamu berhasil meyakinkan Hanan ya Mas jangan sampai Hanan justru membangkang," jawab Mila yang mencoba ikut tersenyum.
"Baiklah kalau memang itu keputusanmu semoga saja Mas bisa meyakinkan Hanan dan Hanan juga bisa memaklumi semua ini, yuk Mas dorong sampai ke mobil,"
Malik berusaha menciptakan suasana tenang bagaimanapun Malik tidak ingin membuat Mila terluka yang berakibat buruk dengan kondisinya, biarlah saat ini Malik mengalah untuk bercerai dengan Mila.
Malik mulai melajukan mobilnya sepanjang perjalanan Malik dan Mila saling terdiam tidak ada pembicaraan lagi. Hingga beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai juga di depan rumah Mila, hati Mila berdegup dengan kencang. Mila belum siap menyaksikan wajah kedua orang tuanya mengetahui kondisi Mila saat ini.
Mila!
Teriak Ibunya Mila berhambur memeluk tubuh putri tercintanya yang sudah lama tidak berkunjung. Mila terisak sejadi-jadinya air mata yang sedari tadi Mila tahan sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Kenapa dengan kakimu sayang?" tanya Mirna Ibu Mila yang kini menatap Mila yang masih terisak.
"Kenapa tidak bilang sama Emak Nak? Ya sudah yuk kita masuk gak baik dilihat orang kalau kamu menangis seperti ini, yuk Nak Malik masuk kedalam," ajak Marni yang diangguki oleh Mila dan Malik.
"Bapak kemana Mak?" tanya Mila yang sudah berada diruang tamu bersama Malik juga Marni.
"Itu ada dibelakang, Emak panggilkan dulu ya," jawab Marni sambil berlalu pergi.
"Anak kesayangan Bapak tumben baru kesini." Mardi ayah dari Mila masuk sambil menyalami Malik dan Mila.
"Iya nih Pak lagi ada waktu," jelas Mila menjawab setenang mungkin.
__ADS_1
Marni masuk membawa minuman lengkap dengan cemilannya, Marni menyuruh Malik untuk minum terlebih dahulu sembari memakan cemilan yang sudah disiapkan.
"Jadi kedatangan saya kemari karena ada hal yang ingin saya sampaikan Pak," sela Malik sambil meletakkan gelas diatas meja.
"Apa yang ingin kamu sampaikan Nak? kelihatannya penting sekali?" tanya Mardi sambil memandang Malik dengan seksama.
"Dulu saya meminta Mila secara baik-baik sekarang saya juga akan mengembalikan Mila secara baik-baik pula Pak, maaf jika sebagai suami selama ini saya belum bisa membahagiakan Mila." Malik menghirup udara supaya tidak sesak nafas.
"Terimakasih karena kamu sudah mengembalikan Mila secara baik-baik tapi Bapak perlu tau apa alasan kamu mengembalikan Mila? Apa karena Mila yang sekarang cacat? Atau karena Mila tidak becus mengemban sebagai seorang Ibu maupun seorang istri?" tanya Mardi masih dengan intonasi tenang.
"Ini semua kesepakatan antara saya dan Mila Pak, bukan karena Mila yang kini cacat ataupun Mila yang tidak becus menjadi seorang istri maupun Ibu," jelas Malik sambil melirik ke arah Mila yang tertunduk.
"Kini tugasku sebagai suami telah selesai Mila, aku hanya berharap kamu selalu bahagia disini. Selalu jaga kondisi kamu dan jangan sampai kamu masuk ke rumah sakit lagi," imbuh Malik memutar tubuhnya agar bisa menatap Mila dengan jelas.
Mila mendongakkan kepalanya, menatap Malik dengan penuh cinta untuk terakhir kalinya. Lelaki yang sudah 5 tahun menjadi suaminya harus berakhir sampai disini, pernikahan yang diinginkan menua bersama hingga akhir hayat akhirnya kandas pula. Malik mengecup kening Mila dengan penuh kasih sayang, kecupan terakhir yang dilayangkan untuk Mila sebelum dirinya benar-benar menjadi orang lain.
KUTALAK KAU SEKARANG MILA!
Teriak Malik setelah melepaskan ciuman di kening Mila, seketika itu air mata Mila dan Malik luruh. Pertahanan Mila yang sudah ditata dengan apik kini membuat dirinya lemah seketika, perkataan Malik benar-benar menyayat hatinya. Talakan itu sudah terucap yang membuat Mila maupun Malik resmi menjadi orang lain.
"Tugas saya sudah selesai Pak, saya kembalikan Mila pada Bapak. Kalau begitu saya permisi dulu Pak takut Hanan mencari saya, aku pamit dulu ya Mila jaga diri baik-baik." Malik berdiri sambil menyalami Marni dan Mardi. Malik hanya bisa menatap Mila dengan penuh luka.
"Malang sekali nasibmu sayang, Emak tidak menyangka gadis Emak yang dulu Emak rawat kini hidupnya hancur." Marni masih memeluk Mila memberikan kekuatan.
__ADS_1
Mila hanya bisa terdiam dengan isak tangisnya. Dirinya bingung harus bagiaman, karena semua memang sudah terjadi.