Salahku? Atau Takdir?

Salahku? Atau Takdir?
Bab.19


__ADS_3

Teriak seseorang yang membuat Mila membalikkan badannya, Mila terkejut saat seseorang itu meneriakinya. Mila mencoba tersenyum melihat siapa orang yang baru saja memanggilnya, bagaimanapun Mila tetap harus memasang tampang bersahabat.


"Ini beneran kan kamu Mila?" tanya seseorang sambil menghampiri Mila.


"Iya ini saya Buk, lama tidak ketemu banyak perubahannya sekarang ya Buk? Terlihat lebih muda dan makin sukses aja, gimana kesehatan Bu Laras? Baik kan?" tanya Mila sambil menampilkan deretan giginya.


"Alhamdulilah, kamu yang sabar ya cobaan mah emang siapa aja juga bakal nemuin. Waduh kamu ini bikin Ibu jadi salah tingkah," jawab Bu Laras memamerkan gelang yang bertengger ditangannya.


"Pasti lah Bu, kalau gitu saya pamit dulu ya Bu mau istirahat juga nih capek seharian dirumah Dinda mulu belum pulang dari tadi pagi," pamit Mila sambil mendorong kursi rodanya yang hanya dijawab senyuman dan anggukan oleh Bu Laras.


Saat Mila asik berjalan ada sekrumpulan Ibu-Ibu yang sedang ngegosip, Mila tersenyum melewati Ibu-Ibu tersebut tapi Ibu-Ibu tersebut menatap Mila seolah sedang melihat mangsanya. Mila tidak ambil pusing dan terus berjalan hingga perkataan Ibu-Ibu tadi membuat Mila menghentikan kursi rodanya.


"Lihat deh Bu kasihan sekali ya anaknya Bu Marni sudah cacat dikembalikan pula sama suaminya, bahkan parahnya nih ya Bu anaknya Bu Marni sampai harus kehilangan anaknya karena tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Ibu lihat aja dong dengan kondisinya yang seperti itu mana masih bisa mengurus anaknya? Malang banget nasibnya ya Bu," ucap Bu Zizah yang masih bisa didengar Mila.


"Padahal dulu mah kalau kesini senengnya minta ampun suka bagi-bagiin uang pada anak-anak, emang ya nasib seseorang itu tidak ada yang tau. Lihat saja saya sekarang udah tajir melintir kan," jawab Bu Bunga sambil memperlihatkan gelang emas yang bertengger ditangannya.

__ADS_1


"Ya namanya juga nasib Bu gak ada yang tau kedepannya akan seperti apa, roda itu terus berputar gak mungkin yang diatas selalu diatas begitu pula sebaliknya. Lihat saja saya dulu bagaimana sekarang udah sedikit berubah kan Bu," ucap Bu Citra menampakkan gelang yang bertengger ditangan kanan dan kirinya.


Hati Mila benar-benar tersayat memang benar apa yang barusan Ibu-Ibu itu katakan, tapi pantaskah bila Mila merasa sangat tersakiti dengan apa yang baru saja Ibu-Ibu itu katakan. Air mata Mila mulai menetes namun dengan cepat Mila hapus, saat ini Mila harus bangkit. Mila kembali menodorng kursi rodanya meninggalkan Ibu-Ibu yang sedang bergosip ria.


"Loh Nduk kamu baru pulang? Kenapa gak minta Nak Dinda buat antar kamu? Pasti kamu capek ya? Yuk kita masuk," sapa Mardi yang baru pulang dari sawah.


"Iya ini Pak kelamaan ngobrol jadinya begini sampai gak inget waktu, Bapak gak pulang sama Emak? Kok aku gak lihat batang hidung Emak?" tanya Mila celingukan mencari keberadaan Marni.


"Kenapa? Udah kangen? Emakmu kan baru aja sampai ke sawah entah dari mana, katanya sih nganterin kamu," jelas Mardi sambil membuka pintu.


"Mungkin tadi diajak ngobrol tetangga dulu, bagus itu Nduk. Bapak bakal dukung apapun yang akan kamu pilih, giamana kalau sekarang kita pergi kepasar didesa sebelah. Disana kan jual barang-barang bekas gitu Nduk siapa tau yang kamu cari ada tuh disana, kamu bisa kan kalau naik motor duduknya dibelakang? Nanti biar Bapak yang sopirin, Bapak tau kamu pasti masih trauma tapi mau gimana lagi kita hanya punya motor gak punya mobi. Apalagi Bapak gak bisa nyetir mobil, gimana kamu mau kan?" tawar Mardi menatap Mila dengan seksama.


"Boleh deh Pak tapi Bapak lebih baik mandi dulu, aku juga mau siap-siap dulu pak sekalian nunggu Emak pulang. Nanti Mak nyariin kita lagi kalau gak ditunggu dulu," jelas Mila dibalas senyuman oleh Mardi.


Mardi lantas beranjak bangun pergi kekamar mandi meninggalkan Mila yang ada diruang tamu, Mila menutuskan untuk menunggu Marni sambil menganti bajunya. Sampai Mardi selesai mandi dan ganti baju Marni tak kunjung pulang juga, alhasil takut kesorean Mila dan Mardi memutuskan untuk berangkat tanpa menunggu Marni lagi. Awalnya bayang-bayang saat Mkla terjatuh membuat nyai Mila menciut tapi Mila memberanikan diri untuk melawannya.

__ADS_1


"Bapak nanti sekalian beli jajanan pasar dulu ya, aku udah lama banget makan jajanan pasar. Sekalian bawain oleh-oleh buat Emak kapan lagi sih kita pergi kepasar kayak gini." Mila membuak suara saat dirinya sampai disebuah toko yang cukup besar.


"Boleh nanti kita mampir ya, Bapak panggilkan pelayan dulu ya supaya mau kesini, nanti kamu juga bisa tanyakan sendiri model seperti apa yang sesuai keinginanmu," jelas Mardi sambil menyetadar motornya agar Mila tidak terjatuh.


Mila mengangguk tanda menyetujui ide dari Ayahnya, ya karena membawa motor kursi roda Mila otomatis ditinghal dirumah dan Mila harus tetap berada diatas motor, banyak orang-orang lalu lalang menatap kearah Mila. Tak sedikit juga ada yang menyapa Mila, kini Mila benar-benar sedang menjadi pusat perhatian. Mila mulai membiasakkan dirinya menerima tatapan dari orang-orang yang menjumpainya, untuk pegawai ditoko tersebut mau mendatangi Mila dan mengerti kondisinya saat ini.


"Ada yang perlu saya bantu Mbak?" Sapa seorang kasir yang mendekati Mila sambil membawa sebuah nota.


"Maaf ya Mbak kalau saya jadi merepotkan, saya kesini ingin membeli mesin jahit yang bekas kalau ada. Saya mau membeli mesin jahit obras satu sama yang jarumnya satu ya Mbak," jawab Mila sambil memberikan sebuah gambar mesin jahit yang ada diponselnya.


"Baik saya carikan dulu ya Mbak semoga saja stoknya masih ada, kalau gitu saya permisi dulu Mbak nanti kalau sudah ada pihak kasir bakal memberitahu Mbak," jelas Pegawai tersebut sambil undur diri dari tempatnya.


Mila berharap mesin jahit itu ada, kalau tidak ada Mila tidak tau lagi harus membeli dimana. Tempat ini menjdi harapan satu-satunya untuk Mila, Mila mengamati Mardi yang sedang asik memandang sebuah radio. Sesekali Mardi mengelus radio tersebut sampai akhirnya kembali menemui Mila, Mila yang melihat Mardi begitu antusias melihat radio hatinya seketika sakit. Pasalnya Mila sama sekali belum pernah membelikan Mardi barang berharga.


Bapak!

__ADS_1


__ADS_2