
Drttt..Drttt.
Ponsel Mila tiba-tiba berbunyi sebenarnya Mila malas sih menanggapi ponsel tersebut, apalagi Mila membutuhkan waktu untuk sendiri dulu. Perasaanya masih kacau tapi Mila harus mengecek siapa tau itu kabar penting.
"Assalamuallaikum Mas, ada apa?" tanya Mila mendapat telephone dari Malik.
"Hanan panas banget terus nyariin kamu dari tadi, aku bingung harus bagaimana. Makanya aku sekarang hubungin kamu, kalau boleh ganti VC saja ya biar Hanan lihat muka kamu," jelas Malik yang di jawab iya oleh Mila.
"Mami!" teriak Hanan lemah membuat Mila meneteskan air mata.
"Hanan sakit sayang?" tanya Mila menyaksikan Hanan yang begitu lemah.
"Mami kenapa ninggalin Hanan? Mami kenapa gak mau nemuin Hanan? Apa Mami sudah gak sayang lagi sama Hanan?" Pertanyaan monohok dari Hanan semakin membuat Mila terisak.
"Bukan begitu sayang! Mami rasa kamu aman sama Papi jadi Mami terpaksa ninggalin Hanan, Hanan kan tau Mami tidak bisa mengurus diri Mami dengan baik. Bagaimana jika Hanan juga tidak bisa Mami urus? Mami sayang kok sama Hanan makanya Mami gak temuin Hanan takut Hanan jadi nangis, Mami gak mau ngelihat Hanan nangis. Anak ganteng Mami kan gak cengeng," jelas Mila mencoba menghapus air mata dengan sangat kasar.
"Tapi Hanan maunya sama Mami! Hanan gak mau disini kalau gak ada Mami! Apalagi kalau Papi pergi kerja, Hanan sama siapa Mi?" Hanan terus saja menangis merengek ingin ikut Mila.
__ADS_1
"Hanan dengarkan Mami ya sayang sekarang kamu disitu dulu sampai nanti lulus sekolah, supaya Mami juga bisa mandiri dulu biar gak ngerepotin Hanan. Nanti kalau Hanan udah lulus sekolahnya kalau mau sama Mami boleh kok, kalau Hanan kangen sama Mami tinggal suruh Papi buat anterin Hanan kesini ya. Sekarang Hanan harus nurut sama apa yang Papi suruh, Hanan jangan buat Papi terbebani ya sayang." Mila mencoba untuk membujuk Hanan dengan lembut.
"Baiklah tapi Hanan gak mau lama-lama disini Mi! Mami kan tau kalau Nenek itu jahat! Kenapa Mami jutru ninggalin Hanan? Haruskah Hanan menuruti semua perintah Papi? Yang sudah menyakiti perasaan Mami? Haruskah Hanan nurut? Sama Papi yang udah buat Mami terluka?" Hanan terus membuat pertanyaan yang menyudutkan Mila.
"Kalau Mami gak ada disitu Nenek pasti jadi baik kok sama Hanan dan gak akan nyakitin Hanan lagi, bagaimanapun sikap Papi pada Mami. Hanan tetap harus tunduk pada perintah Papi karena Papi adalah ayah Hanan, Mami gak mau ya kalau Hanan jadi pembangkang. Mami mau Hanan tetap jadi anak yang nurut dan berada dijalan yang benar, Hanan mau kan nurutin semua perkataan Mami?" tanya Mila mencoba mengerti perasaan Hanan saat ini.
"Kalau Nenek jahat lagi bagaimana Mi? Apakah Mami bisa menjamin bahwa Nenek bakal baik sama Hanan? Tapi Mi.."
Mila sudah lebih dulu menyela perkataan Hanan sebelum Hanan menyelesaikan perkataanya, apakah Hanan tetap akan menuruti perintah Papinya? Atau justru Hanan akan menjadi anak nakal setelah kepergian Mila?.
"Baiklah Hanan istirahat, Mami jaga diri baik-baik disana jangan sampai telat makan. Hanan gak mau ngelihat Mami masuk kerumah sakit lagi, dadah Mami," ucap Hanan sambil melambaikkan tangannya.
"Aku tutup ya biar Hanan istirahat selamat malam dan selamat tidur," pamit Malik mengakhiri panggilannya.
Hiks..Hiks.
Mila mulai menangis hatinya benar-benar hancur, harusnya Mila mengurus Hanan yang saat ini sedang sakit. Harusnya Mila ada disi Hanan saat Hanan membutuhkannya, Marni dan Mardi hanya bisa terdiam menyaksikan putrinya yang menangis histeris. Perasaan terluka ikut menghinggapi mereka berdua, bagaimana mungkin Marni dan Mardi tak terluka melihat putrinya yang harus kehilangan putranya hanya demi menjaga keegoisan mertua.
__ADS_1
Mila memutuskan untuk masuk kedalam kamar tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Marni hanya bisa menatap nanar kepergian Mila. Marni awalnya ingin menyusul Mila tapi dihentikan oleh Mardi.
"Sudalah Bu! Mila butuh waktu untuk sendiri dulu, nanti kamu antarkan makanan ini kekamar Mila saja kalau Mila sudah tenang. Bagaimanapun Mila juga butuh untuk makan, biarkan hatinya tenang dulu," ucap Mardi menyuapkan sisa nasi yang belum habis.
"Pak! Tapi aku takut kalau Mila berbuat sesuatu yang tidak-tidak! Hati Mila itu sangat rapuh Pak, apalagi dengan kejadian Mila saat ini yang mudah bagi Mila untuk depresi. Pak kenapa nasib putri kita jadi seperti ini Pak? Dosa apa hingga putri kita jadi seperti ini Pak." Marni meneteskan air mata meratapi nasib Mila yang begitu hancur.
"Hush! Kamu ini kalau ngomong jangan ngawur! Takdir seseorang tidak ada yang tau Bu! Jangan kamu sangkut pautkan takdir dengan dosa apa yang sudah kita lakukan, memang takdir Mila seperti ini Bu! Yang penting kita sebagai orang tua harus bisa membuat putri kita bangkit dari keterpurukan ini. Perjalanan hidup Mila masih panjang kita harus bisa membuat Mila bangkit bagaimanapun caranya jangan tampakan sedihmu dihadapan anakmu itu," nasehat Mardi untuk Marni yang masih saja menangis.
"Baiklah Pak akan Ibu coba, Bapak mau tak buatkan minum atau bagaimana?" tawar Marni sambil mengusap air matanya.
"Boleh lah Bu buatkan teh hangat saja, habis ini siapkan makanan kekamar Mila. Coba sedikit demi sedikit kamu ajak ngobrol anakmu itu dari hati kehati, Bapak gak mau melihat Mila terus-terusan bersedih. Tanya juga apa yang akan Mila lakukan kalau gak coba untuk pergi kerumah Dinda temannya dulu semasa kecil, barang kali Dinda punya rencana agar putri kita mendapatkan kesibukan yang bermanfaat. Supaya Mila bisa melupakan masalah ini, kalau Mila punya kesibukan otomatis masalah itu tidak membuat Mila seperti ini," jelas Mardi yang diangguki Marni.
"Baiklah Pak coba besuk tak temani Mila buat ketemu Dinda, semoga saja Dinda punya ide untuk Mila ya Pak. Tunggu diruang tamu saja Pak teh angetnya nanti tak bawakan kesana, ini mau tak beresin dulu piring yang kotor," perintah Marni yang diangguki Mardi.
Marni membuatkan teh hangat untuk Mardi dengan perasaan penuh harap, seorang Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya terus-terusan seperti ini. Semoga saja Mila bisa bangkit dari keterpurukan, jangan sampai Mila semakin meratapi nasibnya yang memang sudah digariskan oleh sang pencipta. Asik membuatkan minuman Marni terkaget dengan sebuah suara.
Astofurullah!
__ADS_1