
Boy yang masih menatap kepergian Arnan dan Tia di kagetkan dengan tepukan pundak dari Arnold.
"Udah kali lihat nya, istri orang tua." ucap Arnold.
"Kau ini."
"Tapi manis ya istri nya." Ucap Arnold.
"Seperti nya kau yang harus menjaga mata mu." Kata Boy mengusap wajah Arnold. sembari berjalan ke arah lain.
Arnold tertawa dan mengikuti Boy, kedua berbincang bersama setelah itu.
•••
Sementara Arnan di dalam mobil bersama Tia tidak saling bicara. Tia tahu Arnan sedang tidak senang akan sesuatu kalau sikap nya seperti ini. Namun Tia juga tak ingin bertanya.
Ia merasa sudah cukup mengerti Arnan, tapi Arnan tak pernah peka akan dirinya.
__ADS_1
Saat sampai di kamar hotel. Arnan membuka Kemeja nya, membelakangi Tia.
"Apa yang kau bicara kan dengan Boy, kau terlihat akrab dengan nya." Ucap Arnan.
"Bukan kah kau tahu aku lebih dekat dengan boy dari pada dekat dengan mu dulu di kampus. lalu apa salah nya kalau lama tidak bertemu kita saling menyapa." Ucap Tia.
"Kenapa?, Kau tidak suka?." Tanya Tia. Arnan tak membalas nya dan hanya diam. Namun Api kekesalan di hati Tia sudah terbangun karena perkataan nya yang agak menyindirnya.
"Kau cemburu, atau karena boy yang juga dulu mencintai Tiara." Ucap Tia.
"Tidak ada hubungan nya dengan Tiara, untuk membawa-bawa orang lain dalam obrolan kita." Ucap Arnan berbalik menatap Tia.
Tia lalu dengan kesal, melempar tasnya ke lantai, lalu berjalan ke tempat tidur, berbaring dan menutup tubuh nya dengan Selimut.
Arnan melihat membuang nafas berat, ia lalu mengambil tas Tia yang tergeletak di lantai lalu meletakan di atas meja.
Ia pun lalu keluar dari kamar itu. Boy yang datang ke kamar Hotel Arnold berdua, melihat Arnan keluar dari kamar hotel, namun keduanya tidak berpapasan, hanya Boy melihat nya dari dalam mobilnya, Arnan yang lewat di depan nya. Wajah Arnan pun tampak sedang tidak baik.
__ADS_1
"Mereka seperti nya sedang bertengkar." Ucap Arnold.
"Entah lah. seperti mau begitu."
"Aku harap bukan karena kau tadi menyapa istri nya." Kata Arnold agak tersenyum nakal.
"Aku hanya menyapa nya, bukan mengodanya." Balas Boy.
"Lagi pula, kalau Arnan tak mencintai Tia, dan masih mencintai Tiara, tak mungkin ia cemburu. tapi semoga itu memang cemburu, berarti hubungan mereka baik-baik saja, hanya saja mungkin Tia terlalu parno." Batin Boy memikirkan hubungan Arnan dan Tia.
"Untuk apa melamun, sudah lah, kita tidak usah ikut campur urusan mereka, kita bantu kalau memang kita di butuhkan saja." Kata Arnold dan mengajak Boy untuk turun dari mobil. Arnold memberikan kunci pada Penjaga untuk di pindahkan.
Tia yang tak bisa tidur, tahu kalau Arnan pergi saat bertengkar dengan nya. Laki-laki itu bahkan tidak berniat untuk membujuk nya, padahal itu yang Tia butuhkan ketika ia marah.
Kecewa memang ia dengan Arnan, namun ia tak bisa tidak memikirkan laki-laki itu, karena bagaimana pun mereka sedang tidak ada di Indonesia, ini luar negri, dan Tia juga tak ingin sesuatu terjadi pada nya.
Menunggu hingga jam sudah akan menyambut mata hari terbit. Arnan masih kembali, saat masih dalam kegelisahan nya. Arnan tiba-tiba masuk ke dalam kamar dalam keadaan mabuk, bahkan penjaga membantu nya untuk bisa sampai ke dalam kamar.
__ADS_1
Arnan di baringkan di atas tempat tidur, Tia hanya duduk di sofa, menangis melihat Arnan yang tidak perduli sama perasaan nya saat ini.
Padahal kedua nya datang ke negara orang untuk memperbaiki hubungan mereka yang mulai renggang, namun seperti nya tidak memperbaiki apa-apa.