Salahku Mencintaimu

Salahku Mencintaimu
33 - Bulan Madu


__ADS_3

Cahaya matahari pagi menembus jendela kamar hotel Tia dan Arnan. Arnan yang baru membuka mata setelah terlelap saat pulang mabuk-mabuk, lekas menyadari sesuatu. kedua mata nya membulat dengan sempurna, tersadar kalau ia ada di bar terakhir kali nya.


"Apa itu Mimpi?." Arnan mengusap wajah nya dengan tangan nya, pertanyaan dalam batin nya di tepian seketika saat mencium aroma alkohol dari mulut nya.


Arnan lalu melihat sebelah nya, namun tak ada Tia di samping nya, entah apa yang terjadi dan bagaimana ia kembali, Arnan sungguh tak mengingat semua itu. Ia pun terfikir oleh istri nya, Ia tahu Tia pasti akan menghujani diri nya dengan pertanyaan yang biasa Tia tanyakan pada nya. kalau biasa ia pulang dalam keadaan mabuk.


"Apa dia masih marah pada ku?, dimana dia?." Gumam Arnan. Arnan tak menemukan Tia ada di dalam rumah. Ia pun bergegas turun dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lama ia di dalam, beberapa saat kemudian, ia keluar dan melihat Tia sudah duduk menikmati sarapan pagi sembari tangan nya memainkan ponsel nya. Arnan melihat ia tampak tenang , seolah tak ada yang terjadi, tidak ada tatapan kesal Tia seperti biasa di rumah. Kata yang bisa Arnan tebak di awal akan di lontarkan padanya.


"Kau dari mana?." tanya Arnan yang berdiri di hadapan Tia. Ia bertanya begitu santai, seolah tidak merasa bersalah pada kejadian tadi malam.


"Beli sarapan, dan cari udara segar. malam lah, setelah itu kita akan pergi jalan kan."Balas nya datar. tanpa menatap Arnan saat berbicara.

__ADS_1


"Aku ada pertemuan sebentar dengan teman Arnold." Ucap Arnan.


"Baik lah, aku akan menunggu."Balas Tia.


Arnan mengenakan kemeja nya dan menatap Tia dengan heran. Tia yang sudah selesai sarapan lebih dulu pun berdiri dari duduk nya, berjalan mendekati jendela, pemandangan Indah dari ketinggian saat itu dapat Tia Lihat, ia dengan perlahan memejamkan mata nya, di ikuti Helaan nafas yang terasa sesak.


Suasana hati Tia benar-benar buruk saat ini, namun ia memilih untuk diam, ia mencoba untuk tidak banyak bicara dengan Arnan, mencoba untuk bersikap tidak perduli, bicara seperlunya saja dengan Arnan.


Sulit memang untuk ia lakukan, namun jika tidak ia lakukan, hati nya semakin sakit karena ketidak peka an Arnan pada nya.


Di tempat lain.


masih di atap yang sama dengan Arnan dan Tia, Boy dan Arnold tengah sarapan di restoran hotel.

__ADS_1


"Aku dan Arnan akan bertemu tuan Bernard." Ucap Arnold yang membuat Boy mengerutkan kening nya.


"Tia juga ikut??" Tanya Boy.


"Tidak, untuk apa, ini pertemuan bisnis." Balas nya.


"Apa kau gila, mereka datang untuk berbulan madu, kau lalu mengajak nya mengurus bisnis." Protes Boy tidak setuju.


"Hei, itu bukan salah ku, Tuan Bernard yang mengajak nya dan dia tidak menolak sama sekali." Ucap Arnold yang tak ingin di salah.


Boy yang mendengar penuturan Sepupu nya itu pun membuang nafas berat, kini ucapan Tia benar-benar terbuktikan dengan Arnan yang tidak memikirkan tujuan mereka datang kesini.


Sementara Arnan sendiri pamit pada Tia yang tampak memilih membaringkan diri karena kecewa. namun masih menyembunyikan nya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, aku janji tidak akan lama." Kata Adnan mencium kening Tia.


Tia mengangguk dengan datar nya, tak ada senyuman, atau pun wajah cemberut. namun tanpa Arnan sadar hati Tia terluka karena nya.


__ADS_2