Salahku Mencintaimu

Salahku Mencintaimu
42 - Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

Arnan masih mencoba menghubungi Tia melalui sambungan telefon nya, Nasi sudah jadi bubur, kalau pun ia di awal sulit menerima Tia sebagai istri nya, tetap saja status kedua nya sudah bersama dan memiliki anak.


Arnan tentu saja ingin mempertahankan hubungan nya dengan Tia. ia mengakui kalau ia sudah salah mengabaikan Tia selama ini.


Namun sejak kepergian Tia, Tak sekali pun dari ratusan telefon Arnan di angkat oleh Tia, bahkan kini nomor Tia sudah tidak aktif, entah karena kehabisan baterai atau Memang sengaja Tia matikan.


Arnan semakin frustasi memikirkan hal itu.


••••


Malam saat di meja makan, Tia duduk memakan makan malam nya bersama kedua orang tua nya.


"Tia, Kamu sudah bicara dengan Arnan?." Tanya Pak Hartono.


Tia menatap ayah nya, Enggan menjawab pertanyaan itu.


"Mau sampai kapan kamu diam Tia?, Papa dan Mama mau tahu alasan kenapa kamu dan Arnan sampai seperti ini." Ucap Bu Tiwi.


"Aku akan mengajukan surat cerai pada Arnan Ma, Pa, kalau diizinkan aku akan tinggal disini setelah berpisah." Kata Tia.

__ADS_1


Pak Hartono dan Bu Tiwi saling melihat satu sama lain, mereka ingin tahu alasan nya, tapi Tia seperti tidak ingin menceritakan hal itu.


"Setelah kamu kembali ke rumah ini, kamu dan Artia adalah tanggung jawab Papa dan Mama, Tidak perlu minta izin seperti itu." Kata Bu Tiwi.


Tia menatap sendu kedua orang tua nya, ia tahu berat pasti bagi kedua nya menerima kalau hubungan nya dengan Arnan akan berakhir seperti ini.


•••


Keesokan hari nya.


Pagi-pagi Tia tengah bersiap untuk berangkat ke pasar menemani sang ibu sembari membawa Artia.


"Tia, Maaf kan aku, aku mengaku bersalah pada mu, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita." Ucap Arnan.


"Aku sudah putuskan untuk berpisah, dan aku tak akan menarik kembali perkataan ku Arnan, Sudah lama aku memahami mu dan menerima semua kekurangan mu, Tapi tidak sekarang. Tolong jangan ganggu aku lagi." Ucap Tia dengan tegas. Namun tak mampu ia menatap mata sang suami. karena ia pasti akan segera menangis kalau menatap nya.


Bu Tiwi yang mengendong Artia pun membiarkan kedua nya untuk berbicara.


"Aku sangat mencintai Artia, Aku ingin mempertahankan hubungan ini, tolong beri aku sempatan sayang." Ucap Arnan lagi memohon pada Tia.

__ADS_1


Memegangi tangan wanita itu, namun segera di tepis Tia dengan keras, tak ingin Lagi Arnan menyentuh diri nya.


"Aku sudah minta pengacara ku mengurus perceraian kita, segera ia akan menghubungi mu, soal Artia, kita lihat saja siapa yang mendapatkan hak asuh nya, kalau aku mendapatkan nya, sedikit pun aku tidak akan pernah melarang mu untuk bertemu dengan nya, karena bagaimana pun, kau lah ayah nya." Ucap Tia.


Arnan mendengar tentu saja patah hati, Sikap Tia sangat keras, begitu pun hati nya ketika ia sudah sakit hati sangat dalam, sulit untuk Tia memaafkan nya.


Tia lalu masuk ke dalam mobil, Arnan masih ingin bicara dengan Tia, namun Tia tak ingin lagi bicara dengan Tia, ia rasa semua telah usai, tak perlu ada yang di bicarakan lagi.


Arnan lalu ke Artia yang di gendong Bu Tiwi. Tia melihat dari dalam mobil agak khawatir Arnan akan membawa nya pergi.


"Maaf kan Papa sayang, Papa selalu mencintai mu." Ucap Arnan dan mencium kening putri nya.


"Nanti coba lagi bicara dengan Tia, mama nyakin ia pasti akan luluh." Kata Bu Tiwi pelan.


"Baik Ma." Balas Arnan.


Tia pun tak tahu apa yang di katakan Ibu nya dengan suami nya itu. Tia melihat Arnan berjalan pergi setelah mencium kening putri nya, ia merasa lega karena Arnan tak memaksa membawa Artia.


Tia menunduk sedih memikirkan Arnan dan Rumah tangga nya.

__ADS_1


__ADS_2