Salahku Mencintaimu

Salahku Mencintaimu
45 - Keputusan Berat


__ADS_3

Jam Makan siang Tiba.


Tia yang sampai di sana sudah di tunggu Arnan yang sampai lebih dulu. Arnan pun dengan semangat menghampiri Tia dan mengendong putri mereka.


"Papa." Panggil Artia dengan suara mungil nya.


"Ayo Duduk." Ajak Arnan senang.


Arnan memeluk putri nya, betapa senang nya ia setelah beberapa hari tidak bertemu. "Papa merindukan mu sayang." Ucap Arnan dengan senang.


Tia menatap datar ayah dan Anak yang saling melepaskan rindu. Meski sebenarnya hati nya menangis melihat pemandangan ini. Arnan yang sangat sibuk, sangat jarang meluangkan waktu untuk sekedar duduk semeja di luar seperti saat ini.


Tia membuang Nafas kecil sekedar untuk mencoba menahan air mata yang sudah di ujung mata nya untuk tidak jatuh.


"Ayo pesan makanan nya, Sayang Artia mau Eskrim?." Tanya Arnan. Artia menganggukkan kepala nya.

__ADS_1


Tia pun tak mengatakan apa pun, mencoba untuk memberikan waktu Artia dengan ayah nya. sembari ia membolak balikkan menu. Namun pesanan nya hanya jatuh pada Teh Hangat, Karena ia sedang tidak nafsu makan, apa lagi bersama Arnan.


Setelah Eskrim Artia datang dan duduk asik menikmati makanan nya. Tia pun memulai obrolan mereka.


"Aku hanya ingin bicara tentang hubungan kita setelah resmi bercerai, Kita sama sama tahu kita masih memiliki Artia, Aku pun tak ingin egois menjauhi nya dia dari mu, Itu sebab nya kita bertemu saat ini." Ucap Tia.


"Apa aku benar-benar tidak bisa mendapatkan kesempatan lagi dari mu?." Tanya Arnan dengan sendu, namun tak memudarkan sosok pria macho nya.


"Maaf Arnan, Aku sudah nyakin untuk hal ini, Biar lah untuk sekarang kita berjalan masing-masing dulu, barang kali Kebahagiaan mu bukan ada pada mu, dan kebahagiaan ku bukan ada pada mu juga, jikalau Tuhan memiliki rencana lain nya nanti, Biar lah itu terjadi nanti, untuk saat ini, biar lah dulu seperti ini."Ucap Tia dengan lembut, suara nya agak tertahan karena ia menahan tangis nya. Namun meski ia sudah semampu nya menahan nya air mata itu, tetap juga terjatuh. Hati nya sedih dan terluka mengatakan hal ini.


"Baik lah kalau itu keputusan mu, Aku tak ingin menyakiti mu dengan terus memaksa mu setiap hari, Tapi aku ingin kamu tahu, Aku masih mengharapkan kesempatan itu dari mu, Aku ingin keluarga ini, Ingin memulai hidup baru denganmu dan Artia." Ucap Arnan.


Tia tersenyum lirih, Akhir nya, Hubungan mereka akan berakhir sampai disini.


"Aku ke toilet dulu." Kata Arnan. Tia menganggukan kepala nya.

__ADS_1


Arnan ke Toilet dan menangis di sana, Tangisan yang tak bisa ia keluarkan saat berada di depan Tia. Pernikahan Ini, pernikahan bertahun-tahun yang ia lewati selama ini bersama pun berakhir sudah.


Arnan mencoba untuk menuruti keinginan Tia, tanpa memaksa Tia lagi, Karena ia melihat Tia terus terluka karena dia yang terus datang mengusik nya. Melepaskan walau berat, itu yang di lakukan Tia dan Arnan Saat ini.


Arnan lalu mengantar Tia dan Artia pulang ke rumah.


"Papa, Ayo ikut." Ucap Artia.


"Papa akan sering-sering datang kesini sayang." Ucap Arnan mencium kening putri kecil nya.


"Kami turun dulu." ucap Tia. Arnan melemparkan senyum yang terdapat kesedihan pada Istri nya itu.


Tia pun turun dari mobil, Artia tampak sedih lalu menangis saat mobil Ayah nya meninggalkan nya.


Arnan menangis sembari menyetir, karena harus mau menerima rumah tangga nya yang kini telah hancur.

__ADS_1


Sementara Artia terus menangis, Tia pun mencoba menenangkan nya, di bantu Bu Tiwi dan Pak Hartono yang keluar dari rumah dan menghampiri saat mendengar suara tangisan cucu mereka.


__ADS_2