
"Aku tidak akan lama." itu lah yang di ucapkan Arnan sebelum ia pergi.
Namun setelah pergi menjelang siang, kini matahari sudah mulai membenamkan diri nya, dan Arnan belum kembali. Tentu saja Seperti Luka yang di beri kan perasan jeruk, Hati Tia benar-benar perih.
Mungkin ini salah contoh, Luka tapi tidak berdarah.
Saat tengah melamun kan Arnan yang belum juga kembali. Ponsel Tia berbunyi. Ia melihat Telefon dari Tiara.
Tia pun dengan kesal menekan tombol merah untuk mematikan telefon Tiara. rasa nya marah nya karena Arnan, tak telepas karena Tiara yang di suka suami nya. meski Tiara tidak memiliki salah pada nya, namun Rasa benci itu muncul, entah apa yang harus ia lakukan.
Tiara yang sedang bersama dengan Nia pun merasa heran karena Tak seperti biasa Tia mematikan telefon dari Tiara. padahal kedua sahabat nya hanya ingin bertanya dan mengoda nya bagaimana bulan madu mereka.
Nia lalu berinisiatif Untuk menghubungi Tia dengan ponsel nya. namun hal yang membuat Tiara terkejut Tia menolak telefon dari nya tapi mau mengangkat telefon dari Nia.
hal itu juga yang dilakukan Tia saat hari mereka akan berangkat.
Tia tak mengangkat telefon nya, namun mengangkat telefon dari ibu mertua.
Tiara yang memiliki banyak pertanyaan di pikiran nya saat ini, hanya diam saja menyembunyikan yang ia rasakan dari Nia.
"Tia, kau dimana, Kenapa mematikan sambungan telefon tadi?." Tanya Nia.
"Tiara bersama mu?." Tanya Tia. ucapan itu kembali menjadi pertanyaan di hati Tiara.
Tiara lalu berbisik pada Nia, untuk menjawab tidak. Nia pun heran, namun ia mengiyakan.
__ADS_1
"Tidak, tadi Tiara mengirimiku pesan." Jawab Nia.
"Memang nya kenapa Tia?." Tanya Nia yang kini juga merasa ada yang salah.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang tak ingin bicara dengan Ara." Balas Nya.
Nia melihat Tiara, Tiara mengisyaratkan untuk bertanya lagi.
"Kau baik-baik saja kan?." Tanya Nia.
Pertanyaan Nia seketika membuat pecah tangisan Tia saat itu. Nia dan Tiara pun merasa heran. kedua nya saling melihat dengan khawatir.
"Aku tak bahagia Nia, aku tak pernah bahagia, kenapa Dunia tidak adil pada hidup Ku." Ucap Tia menangis sesegukan.
"Apa yang terjadi, Apa Arnan menyakiti mu?." Tanya Nia dengan pelan dan hati-hati.
"Dia?, Dia kenapa?." Tanya Nia.
"Nanti aku akan cerita kan pada mu kalau aku sudah pulang nanti, tapi berjanji lah untuk jangan sampai siapa pun tahu tentang hal ini, termaksud Ara" Ucap Tia.
"Iya, jadi kau akan segera kembali?, bukan kah kalian baru 3 hari disana." Kata Nia lagi.
"Iya. sudah dulu Nia." Ucap Tia dan langsung mematikan sambungan telefon tanpa menunggu balasan dari Nia lagi.
Nia menatap Tiara, Tiara menunduk tak mengerti.
__ADS_1
"Apa ada masalah kau dan Tia?." Tanya Nia.
"Tidak, tapi sejak kejadian aku pingsan malam itu, dia tak lagi menghubungi ku, aku menghubungi nya, tapi ia tak menjawab telefon ku." Ujar Tiara.
"Aku tak mengerti apa yang terjadi Ra, tapi semoga ini bukan hal yang serius." Kata Nia.
Tiara menatap Nia dengan sendu dan bingung.
"Apa aku ada menyakiti Tia tanpa aku sadari?." Tanya Tiara pada Nia.
Nia pun tak bisa menjawab apa-apa, ia sungguh tak mengerti apa yang terjadi pada Tia. kenapa Tia mengatakan tak pernah bahagia, seolah ia selama ini tak pernah bahagia.
•••
Bel Kamar hotel Tia berbunyi, Tia mengintip dan heran melihat Boy datang. Ia pun lekas menyapu air mata nya, agar tak terlihat ia sedang menangis.
"Boy." Tia tersenyum dengan paksa menyapa Boy yang datang.
"Kau mau makan malam bersama? di bawah, kita bisa berbincang ringan." Ucap Boy.
"Em, Arnan..." Jawab Tia Ragu untuk menolak, karena ia takut Arnan akan pulang sewaktu-waktu.
"Dia akan pulang larut malam, Dari pada kau bosan kan disini." Ucap Boy.
Tia mendengar tak terkejut, Boy mengatakan itu pasti ia tahu karena Arnold pasti memberi tahu nya. Tia tak menanyakan apa alasan nya, ia sungguh tak perduli lagi.
__ADS_1
Tia menyetujui ajakan Boy, untuk makan di restoran di lantai bawah.