
Tia yang baru saja duduk berhadapan dengan boy untuk makan malam, menerima pesan singkat dari Arnan.
"Sayang, aku minta maaf untuk hari ini, aku harus pulang agak terlambat karena ada sesuatu yang penting, besok aku janji kita akan jalan." Pesan singkat dari Arnan. membuat Tia melihat Boy.
"Ada apa?." Tanya Boy.
"Bagaimana kau tahu Arnan akan pulang malam?." Tanya Tia dengan heran.
Dari mana kau tahu kalau Arnan akan kembali malam?." Tanya Tia pada Boy.
"Aku kan dari sana tadi." Balas Boy sembari tersenyum tipis.
Beberapa jam yang lalu, Boy datang ke perusahaan Arnold dan tanpa sengaja melihat Arnan yang tengah mengobrol dengan Tuan Bernard. Tak menyangka Boy kalau Arnan akan tetap datang dan meninggalkan Tia sendirian di hotel.
Boy pun duduk di ruangan miliki Arnold sembari menunggu Arnan pulang, karena ia ingin berbicara dengan Arnold, Namun hingga ia tertidur di kantor, menyadari hari sudah mulai Sore. Matahari yang terik berangsur menenggelam kan diri.
"Boy, sorry membuat mu menunggu, tadi aku sudah datang tapi melihat mu tidur." Ucap Arnold.
"Apa yang kalian bicara sampai selama itu, apa sudah selesai?." Tanya Boy.
"Aku sudah selesai, Tapi nanti aku akan menyusul mereka ke hotel." Ucap Arnold.
Boy mendengar pun mengerutkan kening nya.
__ADS_1
"Mereka?."
"Iya, Arnan dan Pak Bernard, Pak Bernard mengajak nya untuk makan dan minum bersama." Tutur Arnold.
Boy menatap Arnold penuh selidik. "Hei, turunkan tatapan itu, aku tak mengusulkan apa pun, Istri Arnan memang cantik, tapi mana mungkin aku tega membuat nya sendiri, itu tawaran Tuan Bernard, itu ulah suami nya sendiri." Tepis Arnold. Boy pun menurunkan pandangan nya, membuang nafas berat.
"Kau mau ikut?." Tanya Arnold lagi.
"Tidak, aku akan kembali ke hotel." Balas nya.
"Iya, bagus lah, ajak Tia makan, kami sudah pasti akan pulang malam." Ucap Arnold. Boy tak menjawab Arnold.
Tak semudah itu mengajak Tia untuk keluar, bagaimana pun Tia adalah istri orang lain, meski tak ada perasaan spesial untuk Tia, tapi tentu saja itu bisa membuat ke salah pahaman terjadi. dan itu yang harus Boy jaga.
Boy lalu sampai di depan kamar Arnan dan Tia, sejenak ragu-ragu ia mau menekan bel, namun tetap ia lakukan juga meski dengan banyak pertimbangan di hati nya.
Saat Tia membuka pintu, di lihat dengan jelas kalau kedua mata Tia berkaca-kaca, Ia pasti habis menangis pikir Boy, namun ia tak menanyakan hal itu pada Tia, karena gak ingin Tia merasa malu.
•••
Setelah selesai makan.
kedua nya duduk di taman yang di penuhi ramai orang, bukan taman yang gelap dan sepi, hehe.
__ADS_1
banyak anak-anak berlarian kesana kemari membuat Tia merindukan sosok Artia yang menjadi penyemangat nya selama ini.
Boy pun hanya duduk menemani Tia, menunggu Tia membuka pembicaraan lebih dulu.
"Kau lama tidak bertemu dengan ku, kau pasti bisa merasakan betapa menyedihkan nya aku." Ucap Tia Tertawa Lirih penuh luka.
"Tidak, aku tak melihat kau itu menyedihkan, aku malah melihat kau wanita yang kuat." Balas Boy.
"Hanya berusaha untuk kuat saja."Balas Tia.
Boy pun terdiam, ia pun sulit untuk berkata-kata, karena takut membuat Tia semakin sedih.
"Boy, aku mau kembali ke kamar dulu, Terima kasih untuk hari ini."Kata Tia.
"Aku antar."
"Tidak usah boy, aku bisa sendiri."Balas nya.
"Baik lah."
Tia pun berjalan pergi, Boy hanya melihat punggung wanita itu saat berjalan semakin jauh hingga tak terlihat lagi.
Boy masih duduk, masih memikirkan Tia, Merasa kasihan dengan situasi pernikahan Tia saat ini.
__ADS_1