Sang Pemilik Hati Ku

Sang Pemilik Hati Ku
10


__ADS_3

Setelah Adit pulang aku masih menangis di kamar ku ditemani ibu. Ibu berusaha menghibur ku menguatkan hati anaknya yang terluka.


" yang sabar ya nak, banyaklah berdo'a semoga Allah memberikan kalian kekuatan dan jalan untuk hubungan kalian" kata ibu menghibur ku.


" kenapa aku terus kehilangan orang - orang yang ku cinta ibu. Ayah meninggalkan aku kemudian Adit, dia juga meninggalkan aku."


" percayalah pada Adit nak, bukankah ia sudah katakan akan memperjuangkan mu. beri Adit dukungan agar bisa meyakinkan orang tuanya."


" iya buk. Aku percaya tapi hati ini sangat sakit, aku tidak bisa membayangkan jika Adit menikah dengan orang lain meskipun jodoh Allah yang menentukan tapi hatiku tidak bisa menerimanya"


"yang sabar ya nak , serahkan pada sang penentu jodoh. kalau kalian berjodoh apapun rintangannya pasti akan bersatu suatu hari nanti"


Tiba - tiba kami mendengar orang menggedor - gedor pintu rumah kami dari luar. Aku dan ibu bergegas melihat siapa yang datang malam - malam seperti ini. Ibu membuka pintu di luar sudah berdiri pemilik kontrakan dan dua orang berbadan besar serta memiliki wajah yang sangar.


" ada apa buk rani, ada yang bisa saya bantu?" sapa ibu pada pemilik kontrakan kami

__ADS_1


" maafkan saya buk Fatimah nak Raysa, hari ini juga kalian harus meninggalkan kontrakan ini karena kontrakan ini sudah di beli orang lain"


Aku dan Ibu sangat terkejut karena ibu Rani tidak pernah memberi tahu kami ingin menjual kontrakan yang kami tempati tapi kenapa tiba - tiba buk rani meminta kami meninggalkan kontrakan yang sudah kami tempati bertahun - tahun. Masalah yang menimpa ku bertubi - tubi baru saja Adit akan pergi sekarang aku harus di hadapkan pada kenyataan untuk meninggalkan rumah yang memiliki begitu banyak kenangan bersama Adit dan Ayah semasa ayah hidup.


" beri kami waktu sampai besok buk, ini sudah malam kemana kami harus pergi mencari kontrakan yang baru." kata ibu lagi memohon pada buk rani.


" sekali lagi maafkan saya buk Fatimah dan nak Raysa. Saya tidak bisa menentang keinginan pemilik kontrakan yang baru. Saya mohon kalian jangan membenci saya."


" Baiklah buk kami akan pergi".


Aku dan ibu berjalan tanpa arah tujuan, naasnya langit juga tidak bersahabat dengan keadaan kami. Hujan turun sangat lebat aku dan ibu basah kuyup, aku melihat ibu kedinginan tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi. Ku letakan tangan ku di kening ibu , aku merasakan tubuh ibu begitu panas.


" masyaallah buk, ibuk demam".


" ibu ga apa - apa nak "kata ibu berbohong agar aku tidak kawatir.

__ADS_1


" ibu duduk disini dulu, disana ada warung aku beli obat sama makanan dulu ya buk untuk ibu."


Kududukan ibu di halte sedangkan aku berlari menyebrang jalan ke arah warung untuk membeli obat ibu namun tiba - tiba aku terkejut ibu mendorongku kuat sambil berteriak memanggil nama ku ketika aku sadar aku sudah melihat ibu tergeletak di jalanan dengan banyak darah keluar dari kepala ibuk begitu juga sepeda motor dan pengendaranya seseorang seusia aku ikut tergeletak disana. Aku memeluk ibu sambil menjerit - jerit meminta pertolongan dari orang - orang di sekitaran kami.


Kudengar suara orang - orang berkumpul menolong kami, juga ada suara orang yang ku kenal mengangkat tubuh ibu di bantu beberapa orang. Aku rasakan tangan kecil memeluk ku , memapah ku naik kemobil dimana tubuh ibu sudah diletakan.


" sabar kak. semua pasti baik - baik saja. teruslah berdo'a kak ada Raka bersama kakak".


Suara itu adalah suara raka, suara sahabat kecil yang selalu menyayangiku memberikan banyak warna dalam hidup ku. Aku hanya mampu menagis ku pandangi wajah ibu di pangkuan ku. Mulutku membisu tidak tau harus berkata apa. Aku takut ibu juga meninggalkan aku sedangkan Raka memeluk ku dari samping terus memberiku semangat.


Sampai dirumah sakit ibu di tangani oleh om Bram. aku dan Raka duduk di kursi tunggu di ruangan UGD menunggu hasil pemeriksaan ibu. Cukup lama kami menunggu akhirnya om Bram keluar dengan wajah lemasnya. Aku dan Raka berlari menghampiri om Bram ingin menanyakan keadaan ibu.


" Sa kamu harus kuat nak, ibu mu telah meninggalkan kita untuk selamanya ". kata om Bram


Seperti di sambar petir mendengar penuturan on Bram. Hati ini benar - benar sakit semua orang meninggalkan aku Ayah, Adit juga ibu. Aku tiba - tiba merasa pusing dan jatuh tersungkur ketubuh om Bram setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2