
semua makanan sudah di siapkan di box dan aku juga sudah rapi dengan dres kembang bermotip bunga yang panjangnya selutut dan dipadukan dengan rambut yang di Cepol di atas juga sendal ber- sol tipis dengan tali-tali kecilnya menambah elegan penampilan sederhana ku. tadi Aku juga meminta pak Budi untuk mengantarkan ku ke kantor Mas Adit.
semua yang hendak aku bawa sudah dipindahkan pak Budi kedalam
mobil begitu juga diriku yang sudah duduk cantik di kursi penumpang. selanjutnya pak Budi masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya selanjutnya mobilpun bergerak membelah jalanan hitam menuju kantor Mas Adit. Aku tidak mengabari Mas Adit kedatangan ku namun Aku datang di awal sebelum jam makan siang agar sesampainya disana Mas Adit belum memesan makanannya karena begitulah suamiku, dia tidak suka keramaian hanya saat acara atau meeting dengan clien saja barulah Mas Adit makan bersama orang lain.
Aku sudah sampai di lobinkantor suamiku, kemudian aku berjalan memasuki kantor megah milik suami ku. memang rasanya pakaian ku ini tidak cocok dengan status istri pemilik perusahaan namun begitulah keluarga ku selalu ku ajarkan untuk hidup sederhana karena bagiku dan Mas Adit harta adalah titipan sang maha kuasa.
Cukup beberapa menit di atas lift aku sudah berada di lantai atas kantor suami ku. Lantai ini memang hanya diperuntukan untuk ruangan direktur tentunya ditemani asisten dan sekertarisnya. Aku melihat sekertarisnya duduk di depan ruangan suami ku sibuk mengotak atik komputer yang ada di hadapannya dan kadang-kadang matanya ia alihkan pada suatu berkas yang entah apa isinya.
" selamat pagi" sapaku pada wanita cantik dengan bodi aduhai yang menjabat sebagai sekertaris suamiku. Suara ku berhasil mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya.
" eh buk direktur pagi juga, ada yang bisa saya bantu buk" jawabnya dengan sifat ramahnya seperti biasa saat aku mengunjungi kantor Mas Adit.
" Mas Aditnya ada diruangan?"
__ADS_1
" ada buk" ia bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah pintu ruangan suami ku dan membukakan pintu tersebut " silahkan buk" katanya mempersilahkan aku masuk. aku hanya tersenyum ramah padanya kemudian aku masuk kedalam ruangan Mas Adit. Mas Adit juga bangun dari tempat duduknya kemudian menghampiriku, wajahnya nampak senang melihat kehadiranku apalagi melihat box makanan di tangan ku.
" kenapa ga bilang kalau mau kemari sayang?" tanya Mas Adit pada ku karena sebenarnya aku memang tidak memberi kabar bahwa aku hendak berkunjung ke kantornya.
" suprise" jawabku singkat ditambah dengan senyuman manis dan mata yang berbinar.
" ini makan siang ku" tangan mas Adit menunjuk box bekal yang kuletakan disamping ku.
" iya Mas tadi masak buat Zian sekalian masak buat kamu"
" putramu lebih memilih jalan-jalan sama Tiara dari pada menghabiskan waktu bersama Papa dan Mamanya padahal tadi pagi dia yang merengek minta aku temeni sampai-sampai aku minta cuti"
" hahahaha" suara tawa Mas Adit. " kamu lucu kalo lagi kesal sayang, ya sudahlah namanya juga anak kecil"
" iya aku tau"
__ADS_1
trut...trut..trut..trut..
suara getar ponsel dari tas ku " siapa yang menelpon, apa mungkin Tiara. Apa Zian nakal membuat Tiara kesulitan" batin ku.
aku mengambil ponsel ku dari dalam tas dan benar saja yang menelpon adalah Tiara. aku mengangkat panggilan dari Tiara.
" hallo Ra"
" hallo Tante saya Melati ini mbak Tiaranya kelelehan karena mengejar mobil penculik putranya tolong datang ke jalan xx ya Tante".
suara anak kecil yang berbicara di seberang sana namun kata-katanya membuat nyawaku seperti lepas dari tubuh ku.
BRUK....
suara tubuh ku jatuh kelantai setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi semua nampak gelap.
__ADS_1