
Semua berkumpul di ruang tamu, setiap wajah nampak begitu kawatir dan berusaha mencari cara menemukan titik dimana Zian berada. Jay sibuk mengotak Atik labtobnya mencari sinyal GPS dari jam yang pernah ia berikan pada Zian sebagai kado ulang tahun namun hasilnya nihil karna nampaknya penculik itu sangat cerdik, entah apa yang dilakukannya pada jam tersebut. Sedangkan Lucky sibuk menelpon semua anak buahnya untuk mencari informasi tentang keberadaan penculik tersebut , namun tetap saja nihil karena kami tidak bisa memprediksi siapa penculik Zian.
Tidak berapa lama Raka bergabung dengan kami setelah ia mengantar Tiara ke rumah sakit dan memastikan Tiara baik-baik saja. Tiara juga tidak melihat wajah penculiknya ia hanya melihat mobil yang ia tumpangi bersama Zian dibawa kabur dan ia berusaha mengejarnya.
Raka tidak datang sendiri, ia membawa gadis kecil yang ku yakini adalah gadis yang menelpon Raysa tadi siang. Semoga saja gadis tersebut bisa memberi informasi sehingga bisa menjadi titik terang bagi kami untuk menemukan penculiknya.
Aku memilih tidak melapor ke polisi bukan karena tidak percaya pada polisi tetapi alasannya karena biasanya Jay dan Lucky adalah orang yang paling bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini.
" Gimana perkembangannya Jay?" tanya Raka pada Jay membuka pembicaraan setelah beberapa saat tadi semua diam membisu sibuk memikirkan cara menemukan Zian.
" belum Ka informasinya minim" jawab Jay.
Raka beralih memandang gadis kecil yang datang bersamanya kemudian ia berjongkok menenangkan gadis tersebut karena nampaknya gadis itu sedikit takut melihat kami berkumpul di sini.
" Mel Om minta tolong sama Mel untuk menceritakan pada mereka seperti yang Mel ceritakan pada Om". Gadis itu belum berbicara hanya memandang Raka meyakinkan dirinya.
" ga apa-apa Mel, mereka orang baik" kata Raka meyakinkan Gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu mulai menceritakan apa yang ia saksikan saat penculikan Zian, gadis tersebut juga bisa menggambar sendiri sketsa wajah penculik tersebut di sebuah kertas. Aku sendiri kagum melihatnya, ia gadis kecil namun keahliannya menggambar kelihatan sangat bagus sehingga sketsa wajah penculiknya terlihat jelas.
Aku memperhatikan sketsa tersebut dan aku merasa tidak asing dengan wajah dari penculiknya. Aku berusaha mengingat-ingatnya dan aku ingat orang itu adalah salah satu pasien yang sama dengan ku dirumah sakit jiwa, ia menjadi gila karena punya penyakit penyuka sesama jenis dan ia dimasukan ke rumah sakit jiwa oleh keluarganya kerena laki-laki yang di cintainya meninggal karena kecelakaan. Tapi aku bingung apa motif dari penculik tersebut menjadikan Zian sebagai sasarannya.
" ini adalah pasien di rumah sakit jiwa yang sama dengan ku dulu tapi aku tidak tau alasan dia menculik Zian. Aku tidak merasa berbuat salah padanya bahkan dia sangat baik kepada ku" kata ku menjelaskan kepada semua yang ada disini.
" kenapa ia bisa masuk kerumah sakit jiwa"Tanyak Jay.
" depresi karena pria yang dia cintai meninggal karena kecelakaan"
" iya"
" fix dia menyukaimu Dit. karena ia tahu kamu dan Kak Raysa sudah menikah ia menjadi kecewa sehingga ia melampiaskan hasratnya pada putramu" kata Jay menyimpulkan membuat aku semakin kawatir terjadi hal yang tidak diinginkan pada Zian.
" tapi bagaimana ia tau tentang ku" karena setelah keluar dari rumah sakit aku tidak pernah berhubungan dengannya.
" dia pasti mengawasi mu selama ini. Orang seperti dia bisa melakukan apa saja"
__ADS_1
" sudah cukup membahasnya cepat cari cara menemukannya" Kata Papa memotong pembicaraan kami.
Jay menarik kertas itu kemudian membuat salinannya dan menyerahkannya kepada Lucky. Lucky menerima kertas tersebut dan pergi entah kemana sedangkan Jay sibuk mengotak Atik labtobnya dengan bekal informasi yang ada dan cukup lama kami menunggu akhirnya Jay menemukan titik tempat keberadaan Zian berada. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Lucky memberi tahu tempat Zian disekap.
" Ayo cepat kita ke jalan xx, Zian di sekap disana" kata Jay sambil mempercepat langkahnya agar cepat bergerak ke tempat yang ingin kami tuju. Aku dan Raka juga mengikutinya dari belakang dan belum sempat kami keluar dari pintu Raysa sudah menghentikan langkah kami.
" aku ikut" Kata Raysa
" tidak kondisimu tidak baik" jawabku menolak permintaannya.
" tapi.."
belum sempat ia meneruskan perkataannya Jay sudah memotongnya.
" kalian tidak usah berdebat, ayo cepat kita harus cepat menemukan Zian sebelum terjadi hal buruk padanya"
" Papa, Ayah dirumah saja jika ada informasi dari siapapun tolong kabarkan kami" pinta ku pada Papa dan Ayah.
__ADS_1