
Aku dan bik Nani asisten rumah tangga kami sudah selesai menyipkan sarapan untuk keluarga ku. Semua yang aku masak sudah diletakan bik Nani di meja makan tinggal menunggu penghuni rumah ini turun untuk sarapan pagi.
Aku duduk di salah satu kursi meja makan. kulihat ayah datang dan duduk di kursi paling ujung memulai sarapannya, sedangkan aku lebih memilih menunggu adik ku Raka.
" Kamu hari ini Bawak mobil sendiri ya Sa. Ayah harus pergi kerumah salah satu pasien ayah dulu sebelum kerumah sakit"Kata ayah. biasanya aku selalu berangkat bareng ayah kerumah sakit tempat ku bekerja.
" iya ayah, Raysa juga mau beli kado buat jay." jawab ku.
Jackop yang sering kami panggil Jay adalah salah satu sahabat Raka di negara A. Jackop dan lucky adalah teman bagi Raka ketika Raka melakukan pengobatan serta melanjutkan pendidikannya di negara A tersebut, tentunya aku juga menani hari - harinya disana. Aku juga melanjutkan pendidikan ku disana selama enam tahun sehingga aku menjadi dokter spesialis bagian dalam mengikuti jejak Ayah Bram. Saat kami meninggalkan negara kami, ayah Bram mengangkat aku menjadi putrinya toh aku tidak punya siapa - siapa lagi di dunia ini.
" gimana ni ayah lupa belum menyiapkan kado buat Jay, anak itu pasti kecewA. Ayah titip sama kamu aja ya nak buat beli kado untuk Jay".
" sip ayah."
__ADS_1
Ketika Aku dan Ayah sibuk membahas kado buat Jay, Ketiga biang kerok yaitu Raka, Jay dan lucky sudah menuruni anak tangga dan berjalan kearah kami. Mereka bertiga adalah pembuat onar yang handal tetapi mereka memiliki wajah yang tampan sehingga banyak kaum hawa tergila - gila pada mereka. Meskipun tingkah mereka sering membuat aku kesal tapi mereka membawa warna dalam hidup ku saat aku melewati hari - hari ku setelah kehilangan Ibu juga Aditia, laki - laki yang paling kucinta setelah Ayah hingga saat ini.
Raka adalah seorang Aktor yang cukup terkenal sedangkan Jay lebih memilih menjadi bos di beberapa club terkenal di negara ini, berbeda denganlucky, lucky lebih tertarik menjual mobil - mobil mewah dengan harga milyaran. Sifat mereka juga berbeda. Raka memiliki sifat baik seperti ayah sedangkan Jay adalah play boy cap Kampak, entah berapa gadis yang sudah menjadi korbannya. Berbeda dengan lucky, Lucky adalah pria yang bersifat dingin seperti ice kutub Utara. Perbedaan sifat mereka menjadikan persahabatan mereka sangat erat bahkan Jay dan lucky rela meninggalkan keluarga mereka untuk ikut bersama kami pulang kenegara kami.
Raka dan kedua sahabatnya sudah duduk di kursi mereka masing - masing berada di hadapan ku. Ayah juga sudah pamit duluan meninggalkan kami karena ada pekerjaan mendadak.
" Pagi honey!" sapa mereka serentak pada ku. Mereka bertiga selalu memanggilku dengan sebutan honey.
" Aku cuma mau ke showroom aja, asistenku bilang ada yang mau berkunjung hari ini." kata lucky
" Kalau aku mau ke club buat siapin pesta untuk nanti malam" kata Jay
" awas kalo kamu mabuk lagi kaya tadi malam, kamu cuma bisa nyusahin Kakak aja kerjaannya" ancamku pada Jay, karena Jay memang suka minum - minuman beralkohol. Aku maklum saja, di negara mereka tidak ada larangan meminum minuman beralkohol tersebut.
__ADS_1
" Oya kamu jadi ikut casting Ka. kata anggel kamu hari ini ada jadwal casting". pertanyaan ku pada Raka. Kemarin anggel laki - laki bertulang lunak asisten pribadi Raka meminta ku mengingatkan jadwal Raka hari ini karena Anggel ada urusan mendadak sehingga ia harus terlambat hari ini.
" Ia honey. Bentar lagi aiku langsung ke tempat casting, Anggel juga nunggu aku disana". jawab Raka.
" Emang casting buat apa Ka?"
" Untuk mencari pemeran utama sebuah Film layar lebar. Film itu di angkat dari novel best seller judulnya " Sang Pemilik Hatiku " Aku udah baca novelnya, ceritanya menarik sekali. Ceritanya hampir sama dengan cerita kehidupan Kakak yang membedakannya di novel tersebut tokoh wanitanya meninggal." cerita Raka panjang lebar menjelaskan pada kami, sedankan aku Jay dan lucky mendengarkan cerita Raka.
" benarkah kakak jadi penasaran, apacerita ini kisah nyata atau hanya fiktif belaka aja Ka?".
" Entahlah kak, aku juga belum bertemu dengan tokoh aslinya."
Kami mengakhiri pembicaraan kami. kami memilih sibuk memakan sarapan kami memenuhi hak cacing - cacing yang ada didalam perut kami. hening hanya suara sendok dan piring yang kadang - kadang bertabrakan menghasilkan suara - suara yang terdengar di telinga kami.
__ADS_1