Sang Pemilik Hati Ku

Sang Pemilik Hati Ku
35


__ADS_3

Sinar matahari masuk melalui sela-sela gorden lusuh yang ada di kamar kecil dengan tempat tidur sederhana di kontrakan sederhana yang aku tempati sejak tadi malam.


Kontrakan ini aku temukan berkat bantuan sopir taksi yang aku naiki tadi malam setelah pergi meninggalkan Raka yang masih tertidur di apartemen ku. kontrakan ini cukup sederhana namun cukup untuk menemaniku pergi bersembunyi dari masa laluku dan memulai masa depan ku tanpa memakai nama kebesaran keluarga ku.


Kriuk...kriuk.. suara perutku terasa lapar karena tadi malam belum sempat aku isi dengan makanan. Aku bangkit dari tempat tidur kemudian membersihkan diri di kamar mandi dan selanjutnya mencari sarapan pagi.


Tok...tok.. suara pintu di ketuk seseorang. "Siapa yang datang pagi-pagi sekali, bukankan orang- orang belum mengenal ku" batin ku. Aku membuka pintu disana berdiri pak Amin supir taksi yang membantu ku tadi malam.


" assalamualaikum neng, ini bapak mau ngantar makanan disuruh sama istri bapak"


" Waalaikumsalam.. wah kayanya enak tu pak, tau aja lagi laper makasih banyak pak jadi repotin"


" enggak repotin kok neng, sesama tetangga harus saling membantu. sok diterima atu neng" pak Amin menyerahkan rantang makanan ketangan ku.


" sekali lagi makasih banyak"


" sama- sama neng, Oya kalo butuh bantuan bilang aja sama bapak atau istri bapak"


" iya pak".

__ADS_1


Pak Amin meninggalkan aku sendiri. Aku juga bergegas menyantap makanan yang di antar pak Amin. Aku bersyukur masih ada orang yang baik hati yang ikhlas membantu ku. Ketika menyantap makanan ini aku teringat masakan Mama juga perhatian Mama. Mama mengurus dan menyayangiku seperti anaknya sendiri. " maafkan Tiara Ma. Tiara belum bisa membalas jasa Mama".


Aku mulai membersihkan kontrakan ku menyusun barang-barang yang aku bawa, tidak lupa meletakan Poto keluarga ku dan Poto Raka di nakas dekat tempat tidur ku.


hari yang melelahkan namun mampu mengalihkan pikiran ku sebentar dari Raka.


Setelah semua selesai aku memutuskan untuk berjalan- jalan mengelilingi komplek tempat tinggal ku. Suasana disini sangat menyenangkan dengan warganya yang cukup ramah dan anak- anak yang bermain riang bersama-sama. Disini juga ada beberapa warung kecil menjual sembako dan juga warteg penjual makanan. Mungkin aku bisa betah tinggal disini.


Aku berkeliling sekali-sekali menyapa warga yang kulihat melakukan aktivitas nya diperkarangan rumah. Mereka begitu ramah bahkan ada yang memuji diriku memiliki wajah yang cantik.


" pagi pak, buk. Saya Tiara penghuni baru kontrakan di ujung sana". basa- basiku pada penjual warteg.


wah neng ini cantik banget.


iyokan pak" jawab wanita paruh baya yang kuyakini pemilik warteg ini


" Iyo buk, kaya bidadari turun dari surga" tambah suaminya.


" ada- ada aja bapak dan ibu ini.

__ADS_1


Oya buk saya mau pesan nasi sama ayamnya dibungkus ya buk"


" iya..iya neng, tunggu sebentar ya ibu bungkusin"


" iya buk"


Aku duduk di salah satu kursi panjang diperuntukan untuk pembeli yang memilih makan di warteg ini. Aku melihat sekeliling warteg ini, keadaannya sederhana namun makanan yang di jualnya lumayan banyak jenisnya dan juga menjual berbagai jenis minuman. Penjualnya juga sangat ramah membuat pembelinya senang makan di sini.


" ini neng nasinya" kata ibu pemilik warteg menyerahkan pesanan ku.


" berapa buk"


" 15000 aja neng"


" murah banget Bu" aku benar- benar terkejut dengan nominal harga yang disebut kan ibu pemilik warteg ini. Biasanya aku menghabiskan ratusan ribu hanya untuk sekali makan, toh makanan yang di jual hampir sama dengan makanan yang aku makan biasanya.


" itu saja sudah mahal neng.


kalo tambah mahal lagi bisa- bisa dagangan ibu gak akan laku"

__ADS_1


" o gitu ya udah ini buk uangnya". aku menyodorkan uang pas sisa pembayaran taksi semalam.


__ADS_2