
Tiara POV
Zian nampak bersenandung sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan ke kiri, nampaknya ia senang bisa ikut berjalan-jalan dengan ku. Entah kenapa rasanya aku juga senang sekali hari ini padahal ini hal yang sering aku lakukan bersama Zian tetapi kenapa hari ini perasaan ku begitu senang, mungkin bawaan bayi di dalam perutku. " Semoga saja bayiku nantinya akan menyayangi Zian begitu juga Zian" batin ku.
" Tante, Zizi ingin makan burger, ayam goreng, sosis dan banyak lagi" kata Zian mengabsen makanan kesukaannya.
" boleh tapi apa perut Zizi muat makan semua itu?"
" muat perut Zizikan sudah gendut" jawabnya bersemangat.
" nanti kalo perutnya meledak seperti balon gimana? hayooo..."
" tinggal di oprasi Mama" jawabnya enteng.
Memang Zian sangat lucu, ada-ada saja jawaban yang bisa dia berikan dari pertanyaan ku .
" sayang sebentar ya, Tante mau beli minuman dulu"
" iya Tante"
Aku turun dari mobil berjalan ke arah supermarket untuk membeli air mineral sebab tenggorokan ku terasa haus. karena aku hanya sebentar Zian tidak ku bawa pergi ia aku tinggalkan di dalam mobil.
Setelah selesai membeli air minum dan beberapa cemilian untuk Zian, aku kembali namun aku melihat seseorang membawa kabur mobil milik ku bersama Zian didalamnya. Aku berlari sekuat tenaga mengejar mobil itu sambil berteriak " tolong...tolong...penculik..tolong"
Semua orang yang mendengar ku ikut mengejar mobil itu bahkan ada beberapa sepeda motor yang berusaha mengejar namun hasilnya nihil.
Seluruh tubuh ku terasa sakit dan diselangkangan ku nampak darah segar namun aku tidak peduli yang paling ku kawatirkan adalah Zian. Tubuhku ambruk di pinggir jalan tidak mampu lagi untuk berlari bahkan otak ku rasanya Blang tidak bisa memikirkan cara apapun untuk menyelamatkan Zian hingga aku melihat seorang gadis kecil berlari ke arah ku kemudian memapah tubuh ku duduk di suatu warung kecil, ia meninggalkan aku sebentar kemudian membawakan aku air minum.
" nama saya Melati" kata gadis itu memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
" saya Tiara" jawab ku.
" Kaka ada ponsel biar saya bisa memberi tahu pada keluarga Kaka" kata gadis kecil itu membuat saya berpikiran sama.
" itu ditas ambil saja dek"
" tapi kak..." ia nampak ragu
" sudah tidak apa-apa dan tolong kamu hubungi orang yang bernama kak Raysa"
ia nampak mengotak atik ponsel ku mencari nama yang kusebutkan. meskipun usianya baru 8 tahun namun nampaknya gadis ini begitu pintar. Ia meletakan ponsel tersebut di telinganya menunggu jawaban dari sebrang sana.
" hallo Tante ini Melati begini tolong datang ke jalan xx kak Tiara kelelahan mengejar mobil penculik putranya".
" hallo, hallo Tante...hallo" Gadis itu memanggil lawan bicaranya di telpon dan sepertinya Tidak ada jawaban setelah beberapa saat nampak ia bicara kembali di telpon.
Setelah ia memberi tahu keluarga ku melalui telpon kemudian ia menghampiriku dan sesekali ia melihat ponsel miliku yang berada di tangannya. Tidak beberapa lama ponsel itu berbunyi kembali.
" iya ini Melati"
" kami di jalan xx di warung kecil pinggir jalan"
" baik om". Ia nampak melambaikan tangannya pada seseorang dan orang itu adalah Raka suami ku. Setelah berterima kasih pada pemilik warung tersebut Raka membawaku ke Rumah Sakit milik Ayah, kami juga membawa Melati gadis kecil yang menyelamatkan aku.
Di rumah sakit aku ditangani secara intensif dan kata dokter keadaan ku baik-baik saja begitu juga dengan bayi ku. Ada sedikit kebahagian di hati kami di balik musibah ini ketika Dokter obygen mengatakan aku mengandung bayi kembar.
Raka dan Melati masuk keruangan setelah dokter mengijinkan mereka menjenguk ku. Wajah kawatir Raka yang kulihat tadi sedikit berkurang, ia memeluk ku erat melepaskan semua kegundahannya namun kegundahan hati kami pada Zian tidak akan berkurang sebelum ia ditemukan.
" Mas apa sudah ada informasi tentang Zian?" tanyak ku dengan suara bergetar karena menahan tangisan ku. aku merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Zian namun aku juga harus kuat demi bayi-bayi ku.
__ADS_1
" belum"
" Om Mel tau wajah penculiknya" kata Melati ikut menanggapi pembicaraan kami.
" benarkah?" tanya Raka pada Melati meyakinkan apa yang ia dengar.
" tadi pas Mel mau menawarkan jualan Mel ke mobil milik Tante Tiara, Mel melihat mobil itu bergerak dan melihat anak laki-laki memukul-mukul kaca mobil tersebut. Mel yakin anak itu dalam bahaya sehingga Mel meminta pertolongan pada orang-orang yang Mel kenal disekitaran sini. Dan saat Mel ikut mengejar mobil tersebut Mel melihat Tante Tiara ambruk di pinggir jalan dan berdarah sehingga Mel memilih menyelamatkan Tante Tiara dulu". Melati menjelaskan apa yang ia saksikan secara rinci.
" Syukurlah" jawab Mas Raka sedikit lega. " Mel mau tolong Om buat ikut bersama Om mencari Zian? dan sebelum itu Om ijin dulu sama orang tua Melati" kata Raka memohon pada Melati.
" tidak perlu ijin dari ibu om"
" kenapa Mel bukannya nanti Ibumu kawatir"
" Ibu tidak akan marah kalo Mel bawa uang untuknya"
" apa kamu selalu mencari uang untuk ibu mu dan apa ibumu sakit?" tanyak Raka pada Melati.
" Ibu baik-baik saja tapi memang seperti itu, Mel dilahirkan untuk memenuhi kebutuhan Ibu seperti itu kata Ibu pada Mel"
Ya Allah penuturan Melati sedikit menyayat hati kami yang mendengarnya. Seorang anak kecil berusia 8 tahun dipaksa Ibunya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ibunya sungguh miris sekali nasib anak ini.
" Ya sudah ayo Mel kita pergi" ajak Mas Raka pada Melati. " Sayang aku tinggal sebentar ya ga pa-pa kan?" katanya pada ku.
" ga pa-pa Mas dan tolong temukan Zian"
" kami pasti berusaha Ra"
Mas Raka dan Melati pergi meninggalkan aku sendiri. Semoga saja informasi dari Melati bisa membantu mereka menemukan Zian.
__ADS_1