
Pagi - pagi aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk aku dan suami ku, karena aku tidak mau urusan memasak di handle oleh asisten rumah tangga. Asisten rumah tangga datang setiap pagi kerumah ku bertugas mengerjakan pekerjaan lainnya selain memasak.
Aku juga sudah menyiapkan keperluan mas Adit tadi sebelum aku turun ke dapur. mas Adit sudah turun dari kamar kami yang terletak di lantai dua, dia sudah berada di dapur kemudian duduk di tempat biasa setiap kami sarapan.
Aku mengambilkan nasi goreng dan menyerahkannya pada mas Adit bersama kopi hitam. Aku juga mengambil sarapan ku kemudian memulai sarapan kami.
" mas!" suara ku memecah keheningan memanggil mas Adit
" iya" jawab mas Adit tanpa menoleh kepada ku asik menyantap makanannya.
" sebenarnya aku sedikit gugup dengan oprasi Papa"
" mas percaya kamu pasti bisa sayang" jawab mas Adit.
Kami menyelesaikan sarapan kami dan bergegas pergi kerumah sakit.
__ADS_1
#####
Di ruangan meeting rumah sakit, Papa memberikan pengarahan pada ku, seorang dokter anastesi, seorang dokter muda dan dua perawat yang mengambil peranan membantu ayah selaku dokter senior sebelum menjalankan oprasi Papa David.
Aku terlihat gugup hari ini berbeda dengan oprasi - oprasi lainya yang sudah sering aku laksanakan. Ternyata ayah menyadari keadaan ku, Ayah memberikan aku nasehat untuk meyakinkan diriku. Aku mengangguk mengerti dengan apa yang ayah katakan. Di luar juga Mama Widia, Tiara dan Raka yang menemani temannya menunggu di luar menunggu peroses oprasi Papa David.
Aku dan Ayah sudah memasuki ruang oprasi setelah melakukan sterilisasi, sedangkan yang lainnya sudah melakukan prosedur anastesi pada Papa David. Papa David nampak sudah tertidur efek obat bius yang di berikan, di ruangan itu juga sudah lengkap dengan alat- alat pendukung untuk oprasi Papa David.
Ayah sudah memulai melakukanya. oprasi papa David awal - awalnya berjalan dengan lancar namun setelah beberapa saat terjadi pendarahan sehingga kami butuh donor darah.
"Dokter Raysa bawakan satu kantong darah" perintah Ayah pada ku.
Aku dan seorang dokter muda yang ikut didalam oprasi hari ini keluar dari ruangan tersebut, kemudian aku bertanyak pada mas Adit siapa yang memiliki golongan darah sama dengan Papa David karena di bank darah rumah sakit kehabisan darah golongan darah tersebut.
" golongan darah ku yang cocok dengan Papa kak,a mbil saja darah ku. " kata Tiara menjawab pertanyaan ku.
__ADS_1
Mama menggenggam tangan Tiara dan berkata
" apa tidak apa - apa nak".
" aku anaknya ma, sudah kewajiban ku menyelamatkan ayah" jawab Tiara.
" Terima kasih dek" tambah mas David ucapan tulusnya pada Tiara. Tiara hanya tersenyum pada mas Adit kemudian mengikuti dokter muda ke dalam ruangan disebelah ruangan Papa David, sedangkan aku masuk kembali keruangan tersebut melanjutkan membantu Ayah menyelesaikan tugas mulia kami sebagai seorang dokter.
Oprasi Papa David berjalan dengan lancar. semua sudah diselesaikan, aku dan yang lainnya keluar dari ruangan oprasi. Papa David juga sudah dipindahkan oleh kedua perawat yang ikut berperang dengan kami tadi di ruangan oprasi tersebut.
Mas David memeluk ku diruangan ku setelah aku mensterilkan diriku terlebih dahulu sebelum menemui keluarga yang lain di ruangan Papa David.
" terima kasih sayang" kata mas Adit pada ku.
" terima kasihnya sama Ayah, aku hanya melakukan hal kecil membantu Ayah. ya udah ayo kita ke ruangan Papa" berjalan sambil menggandeng tangan mas Adit menuju ruangan Papa.
__ADS_1
****
jika ada yang salah dalam prosedur operasinya maaf author bukan seorang dokter jadi diharapkan para readers bisa memaklumi.