
Aditia POV
Aku pergi kerumah sakit membawa keperluan yang dibutuhkan Papa. Papa dirawat di Rumah sakit milik om Bram kerena papa terkena serangan jantung . Papa mengalami koma kemarin dan sampai saat ini papa juga belum sadar.
Aku tidak bisa menemani Papa hari ini, ada beberapa pertemuan dengan klien penting yang harus ku hadiri dan rencananya setelah itu aku yang bertugas menggantikan Mama menjaga Papa dirumah sakit.
Aku sudah berada diruangan Papa. Kuberikan semua barang yang dipesan Mama kemarin dan makanan yang kubeli tadi pada Mama kemudian Mama meletakanya di lemari rumah sakit tersebut. Mama mulai membuka bungkusan makanan yang aku bawa mungkin Mama sudah sangat lapar belum sarapan pagi.
" kamu udah makan nak?" tanyak mama pada ku.
" udah ma tadi pas beli makanan itu. soalnya aku laper banget makanya cuma bungkus satu buat mama".
" ya udah kalo gitu mama makan ya!
Oya dit Tiara udah dikasih tau Papa masuk rumah sakit?" tanyak mama pada ku sambil terus mengunyah makanannya.
" udah Adit telpon, tiara paling besok kemari dia ada kerjaan. Tiara juga mau menghadiri acara ultah temennya".
" ya udah ga pa pa. kasian adik kamu udah capek harus kemari lagi".
__ADS_1
" Adit juga ga bisa lama - lama ma, nanti siang Adit kemari lagi soalnya ada klien mau bertemu Adit".
"ga usah di pikirin kan ada mama kok . Kalian fokus aja sama kerjaan kalian"
" ya udah Adit kekantor dulu ya ma. Oya ma kalo ada apa - apa cepet hubungi Adit".
" ia nak, kamu juga jaga kesehatan jangan lupa makan ya".
#####
Di kantor aku segera menyelesaikan pekerjaan ku. Aku benar - benar kawatir dengan keadaan Papa. Setelah semua pertemuan selesai dengan hasil memuaskan dan laporan - laporan yang diletakan sekertaris ku sudah semua aku tanda tangani, aku menekan tombol interkom pada telpon ku meminta sekertaris ku masuk keruangan ku.
" hari ini aku mau kerumah sakit, jika ada yang mencari ku katakan aku gak ada".
" ia pak" jawabnya singkat.
Aku buru -buru keluar dari ruangan ku menuju lift menekan tombol lift dengan angka tempat parkiran kantor ini. Lift bergerak membawa ku ketempat parkiran, setelah lift berhenti aku keluar dari lift kemudian berjalan ke arah mobilku yang terparkir. Aku masuk ke mobil dan mengendarainya menuju rumah sakit.
Sampai dirumah sakit aku bergegas keruangan Papa namun langkahku terhenti melihat seorang wanita yang aku pikir telah meninggal menggandeng tangan anak kecil turun dari tangga lantai dua rumah sakit ini. Aku benar - benar terkejut. Aku ingin menemuinya, memeluknya melepaskan semua kerinduan ku serta menanyakan mengapa ia tidak pernah menemuiku. Tapi lagi - lagi ku urungkan niat ku karena melihat seorang laki - laki tampan mencium pipinya.
__ADS_1
Luka ini kembali terbuka setelah aku ikhlas kehilangan Raysa kenapa Aku malah melihatnya bahagia bersama laki - laki lain bahkan telah memiliki putri kecilnya. Aku mematung melihat mereka berbicara dari jauh karena tempat ku agak jauh dari mereka, Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bahas. Setidaknya Raysa bahagia mendapatkan orang yang mencintainya dan berhasil menggantikan namaku di hatinya.
Aku bergegas keruangan Papa, disana mama menungguku. Mama menyadari wajah ku terlihat sedih setelah pertemuanku dengan Raysa.
" ada apa nak, apa kerja samanya tidak berhasil?" tanya mama kawatir.
" bukan begitu ma semua lancar".
" jadi apa yang membuat mu sedih?" Tanya mama lagi sambil mengelus pundak ku menguatkan aku.
" Raysa masih hidup ma. Raysa sudah menikah dan memiki putri yang cantik. Baru saja aku melihatnya bersama suami dan putrinya". jawab ku dengan suara bergetar menahan sesak di dada.
" benarkah? kamu harus sabar Dit, ikhlaskan semua nak, Setidaknya ia masih hidup dan bisa merasakan bahagia bersama keluarganya. Kita sudah menyakiti keluarganya".
" aku juga berpikikiran begitu ma tapi tetap saja hati ini sakit melihat orang yang kita cintai bahagia dengan laki - laki lain".
" kamu harus kuat nak, mama gak mau kamu kaya dulu lagi"
" Adit berusaha kuat ma, Adit ikut bahagia jika Raysa bahagia. Do'akan Adit bisa melalui semua ini ma".
__ADS_1