
Sudah seminggu aku berada di tempat ini. Aku mulai betah tinggal disini, bercengkrama dengan orang- orang disini. Aku belum kepikiran memikirkan usaha apa yang akan aku buat untuk melanjutkan kehidupan ku disini.
Aku duduk menonton TV di ruang tamu. Rumah ini cukup sederhana, hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur yang tidak luas dan ruang TV yang merangkap menjadi ruang tamu. Namun untuk ku ini sudah sangat nyaman.
Aku menekan- nekan remot mencari canel yang menarik untuk aku tonton dan tiba-tiba aku berhenti di satu acara drama yang dibintangi oleh Raka. Aku kembali teringat tentangnya, entah kenapa hati ini menjadi sesak hanya dengan melihat Raka di TV. Aku sangat merindukannya ingin rasanya aku menemuinya dan memeluknya namun aku tidak ingin egois menyakiti hati wanita yang Raka cintai. Biarlah apa yang terjadi antara aku dan Raka menjadi rahasia kami berdua.
Tanpa bisa kubendung air mataku mengalir deras mengisyaratkan betapa hatiku sangat sedih. Aku menangis sesenggukan melepaskan semua duka dihatiku, semoga saja rasa sakit ini bisa berkurang tersapu bersama air mata ku yang tumpah.
"Aku tidak akan bisa melupakan mu Ka, tapi aku juga tidak bisa memiliki mu. Aku harus bagai mana Ka.. hik..hik..hik..hik. Seandainya kita tidak pernah bertemu, hatiku tidak akan sesakit ini Ka.. hik..hik..hik..hik". suara tangisan ku memecah kesunyian dirumah ini.
Entah sudah berapa lama aku menangis rasanya kepalaku berat, aku tertidur ditemani dengan suara TV yang lupa aku matikan.
####
Setelah bangun tidur aku memilih untuk menyibukan diriku memasak makanan sendiri untuk mengurangi rasa bosan ku. Aku memilih ayam goreng dengan sambal pedasnya ditemani tumis kangkung sebagai menu malam ini.
__ADS_1
Aku menikmati makanan yang aku masak mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepada ku. Aku masih diberikan Rizki, sedangkan masih banyak orang diluaran sana yang bahkan untuk makan saja sangat sulit.
Ah rasanya benar\-benar membosankan sendirian disini, biasanya saat bosan aku pergi ke club Jackop bercerita panjang lebar membuat semangatku kembali lagi.
"Apa ada diantara mereka yang merindukan ku. Bagaimana dengan Mama dan Kak Adit, mereka pasti kawatir pada ku." batin ku.
Di antara kebosanan yang melanda, aku memilih memainkan smartphone melihat\-lihat hal yang bisa sedikit menghibur, Aku sudah mengganti semua hal yang bisa menghubungkan aku dengan dunia lama ku.
lagi- lagi di sosmed banyak berita tentang Raka, membuat ku sedikit prustasi. Aku menyimpan smartphone kemudian beralih mengambil dompet bergegas pergi berkeliling siapa tahu ada yang menarik.
Aku berjalan kearah warung tersebut, kemudian duduk disalah satu kursi untuk para pelanggan. Seorang pelayan menghampiriku membawa buku menu.
" Silahkan mbak" pelayan tersebut meletakan buku menu tersebut di meja ku.
Aku membolak - balikan lembaran buku menu tersebut. Di buku menu tertera banyak sekali jenis bakso yang disediakan namun semua berlevel pedas bahkan mungkin super pedas terlihat dari gambar yang ada di buku menu tersebut.
__ADS_1
Bakso Beranak..
Bakso lava
Bakso mini
Bakso bla..bla..bla..
Diwarung ini juga bisa disesuaikan tingkat kepedasannya dari mulai
level 10 cabe rawit sampai level 100 cabe rawit.
" pesan Bakso Lava level 20 satu porsi, sama lemon teanya satu dan bakso mini goreng sama kripik bayamnya satu porsi" pesanana yang cukup banyak untuk memanjakan perut ku.
Peramusaji tersebut mengulang pesanan ku kemudian meminta ku untuk menunggu mereka menyiapkan pesanan tersebut.
__ADS_1