
Aku membuka mata ku. kupandangi setiap sudut tempat ku berbaring saat ini, di tangan ku juga dicucuk jarum infus. Di samping ku Raka tertidur di kursi tunggu dengan menggenggam tangan ku. benar aku dirawat dirumah sakit saat ini aku tidak ingat apa yang terjadi setelah aku mendengar kepergian ibu untuk selamanya. Ibu bagaimana dengan ibu, aku berusaha bangkit untuk melihat ibu namun tubuhku sulit sekali aku gerakan rasanya begitu lemas. Raka terbangun karena merasakan tangan ku bergerak. Dia mengucek - ngucek matanya mengumpulkan nyawanya kemudian Raka tersenyum pada ku.
" kakak sudah bangun, Kaka sudah pingsan selama tiga hari. Sebentar ya kak Raka panggil ayah dulu" kata Raka dan bergegas memanggil om Bram meninggalkan aku sendirian di ruangan ini. dari penuturan Raka aku sudah pingsan selama tiga hari terus bagaimana dengan ibu apakah ibu sudah dikuburkan.
Raka dan om Bram datang kemudian om Bram memeriksa keadaan ku.
" Alhamdulillah semua baik - baik saja, kamu sudah pingsan selama tiga hari sa. Jenazah ibu Fatimah sudah om makamkan bersama gadis yang menabrak ibumu dibantu orang tuanya.
orang tua gadis tersebut juga meminta maaf pada mu karena anak mereka sudah menabrak ibumu sampai ibumu harus kehilangan nyawanya. Kamu harus ikhlas ya nak kamu tenang saja masih ada om sama Raka disamping mu. Raka juga udah tiga hari menjaga mu disini menunggu mu sadarkan diri". kata om Bram mencerirakan semuanya pada ku sedangkan aku hanya bisa mendengarkan om Bram, rasanya mulutku enggan sekali mengeluarkan suaranya hanya air mata yang menggambarkan perasaan ku saat ini.
" kalo kamu sudah sembuh kita jiarah ke makam ibu mu, tapi sekarang kamu harus makan dan minum obat agar tubuh mu kuat".
Raka mencoba menyuapi aku namun aku enggan untuk memakannya, saat ini aku hanya ingin menyusul ayah dan ibu. Aku tidak bisa bayangkan hidup tanpa mereka.
__ADS_1
" makan ya kak, sedikit saja " kata Raka
" aku ga lapar ka" jawab ku
" sedikit saja kak biar kakak sembuh, sudah tiga hari Kaka ga makan".
" kakak bilang kakak ga lapar ka" sedikit membentak Raka
Kenapa aku membentak Raka padahal Raka sudah baik menjagaku tanpa memikirkan kesehatannya batin ku tapi hatiku saat ini benar- benar sedih. Air mataku mengalir tak bisa ku bendung mengingat nasibku yang sangat buruk. Masalah datang bertubi - tubi menguji kesabaran ku.
Ketika aku sadar aku juga melihat berita di TV yang tergantung di dinding ruangan rawat ku dirumah sakit ini. berita tentang pertunangan Aditia dan Agnes.
Berita ini menambah duri yang menusuk hati ku menambah rasa sakit dalam hidup ku. Aku benar - benar tidak sanggup menanggung semua ini.
__ADS_1
#####
Sudah beberapa hari aku dirawat, aku malas untuk makan bahkan berbicara. Hari - hariku kuhabiskan untuk menangis mengeluarkan semua kesedihan ku bersama air mata. Raka juga tidak mau melakukan pengobatan ia terus menemaniku memberikan semangat kepada ku. Om Bram juga tidak bisa membujuknya untuk menjaga kesehatannya untuk tidak terlalu lelah karena biasanya kesehatan Raka drop kalo dia terlalu kelelahan.
Hari ini om Bram mendatangi ku berbicara berdua dengan ku di taman rumah sakit.
" Sa om mau memintak sesuatu pada mu. tolong ikut om dan Raka ke negara A. Bujuk Raka agar Raka mau melakukan operasi pencangkokan jantung.
om sudah menemukan pendonornya tapi Raka tidak mau meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini, dia kawatir dengan keadaan mu sa". kata om bram pada ku memohon agar aku mau menemani Raka.
Mendengar perkataan om Raka aku merasa diriku sangat egois hanya memikirkan kesedihan ku. Raka mengabaikan kesehatannya hanya demi aku. Aku tidak boleh terus - terusan terpuruk dengan keadaan ku. Aku harus bangkit dan mengikhlaskan semua takdirku. Aku tidak berhak marah pada sang pencipta bukankah Allah yang menciptakan Allah juga yang mengambil semuanya dari kita.
Allah mengambil orang - orang yang ku cinta tapi menggantikan cinta lain untuk ku melalui orang lain yaitu Raka dan om Bram. Hari ini aku memutuskan ikut dengan om Bram dan Raka merangkai cerita baru dalam hidup ku. semoga masih ada kebahagiaan untuk ku.
__ADS_1