
“sepertinya tidak ada yang bertanya lagi, kalau gitu Lia akan menjelaskan mengenai kondisi pertempuran, bagaimana menang dan pembagian para survivor”
Vedric mundur dan melangakah kesamping kanan, gadis berkerudung yang tadi membawa tablet maju kedepan, rasa berani dan percaya diri menyelimuti dia. Seakan-akan apa yang dia jelaskan adalah hal yang sangat penting.
“kalau gitu aku akan langsung menjelaskan”
Proyektor kembali dinyalakan, gambar bola berwarna biru. Seperti permata biru.
“bola biru ini, kami menyebutnya pertama sapphire, bukan permata asli tetapi memiliki warna seperti sapphire” sebelah gambar permata sapphire, muncul permata seukuran tetapi berwarna putih pucat “satu lagi adalah permata kosong, permata kosong dapat menerima cahaya batu sapphire yang kemudian akan berwarna biru terang. Jadi inti dari pertempuran ini adalah kita harus menemukan permata kosong dan lalu mentransfer cahaya biru permata sapphire ke permata kosong. Dan jika kita berhasil menyalakan seluruh permata sapphire dibandung, maka kita menang”
Gambar proyektor berubah menjadi gambar peta bandung.
“ada sekitar ratusan sepertinya permata kosong tersembunyi disepanjang kota bandung”
Yuda, Andy bahkan orang-orang didalam aula tidak bisa menahan rasa terkejut mereka. Ratusan harus dinyalakan rasanya seperti kerja kuli.
“tapi tenang saja, beberapa ada yang telah menjadi pertama sapphire bahkan saat awal-awal pertempuran dimulai, tetapi” Lia mulai serius “kalian tau sendiri Matis ada diluar saat. Tugas mereka adalah menghancur permata kosong maupun sapphire. Maka dari itu tidak ada pilihan lain selain mengalahkannya. Ada dua cara mengalahkan matis. Membunuhnya atau mengusir mereka”
“mengusirnya, gimana caranya?” Tanya Yuda bingung.
Gambar proyektor berubah menjadi, permata Sapphire yang diatasnya terdapat gambar lingkarang membulat opal kesamping. Ini mengingatkan Yuda akan game pok*mon yang dia mainkan di handphone, salah satu pok*mon hantu.
“permata kosong jika sudah ditransfer cahaya dari permata sapphire akan memunculkan portal seukuran menusia selama 20 detik, selama itu jika kalian sanggup, kalian bisa menggunakan portal itu untuk mengusir mereka. Tetapi jangan sekali-kali masuk kedalam. Sekali masuk susah keluar, ada yang mau Tanya?”
Andy kembali bertanya “apakah pertama sapphire ada batasan transfernya?”
Lia menjawab pertanyaan Andy “permata Sapphire hanya bisa mentransfer sebanyak lima kali saja. Bagaimana kalian tau permata sapphire sudah ditransfer berapa kali. Kelihatan dari cahayanya. Makin redup cahayanya makin sering juga ditransfer”
Gambar proyektor berubah menjadi gambar hirarki, dimana yang paling atas survivor terbagi menjadi empat cabang. Ada Front line, operator, backup, standby.
“selanjutnya aku akan menjelaskan pembagian posisi. Ada empat posisi yang bisa dipilih, perlu diketahui. Posisi ini kalian yang pilih sendiri bukan kami. Setelah saya menjelaskan keempat posisi, kami memberi waktu selama 15 menit untuk berpikir” suara Lia tiba-tiba melunak “aku tau apa yang kalian rasakan karena dulu aku juga merasakan apa yang kalian rasakan, makanya kami tidak memaksakan posisi ini kepada kalian”
Lia menjelaskan ada empat posisi yang bisa diambil oleh para survivo disini.
- Front Line : merekalah yang terjun langsung kepertempuran, melawan para Matis dan menyalakan permata kosong dan melindunginya. Front Line terbagi lagi: Defense dan Attacker. Seperti namanya, Attacker menyerang Defense melindungi. Tetapi untuk Defense bertugas di titik tertentu saja.
__ADS_1
- Operator : mereka berfokus dimarkas, mengamati pergerakan Front Line dan Matis. Lalu memberikan informasi kepada para Front line. Bisa dibilang posisi mereka ada dibalik computer.
- Backup : bagian logistic Front Line, mereka bertugas menyalurkan logistic cadangan ke Front line, bahkan mereka juga bisa menjadi Front Line cadangan jika diperlukan.
- Standby : tidak bisa menjadi bagian dari tiga posisi diatas, tetapi mereka akan menjadi pelatihan dari tiga posisi agar dapat menetapkan apa yang akan jadi pilihan mereka.
Setelah penjelas itu, seperti apa kata Lia. Dia memberi waktu kepada semua orang didalam aula yang berjumlah 25 orang termasuk Yuda untuk berpikir mereka ditempatkan diposisi mana. Yuda bisa melihat pemuda yang tadi protes, dia seperti ingin protes lagi dan tak ingin ambil apapun. Tetapi pada akhirnya dia tidak bisa dan harus memilih. Bahkan seperti ucapan Lia, mereka tidak memaksakan karena kondisi ini bukanlah pilihan mereka. Mereka dipilih pun bukan karena kehendak mereka. Dalam lubuk hati Yuda dia merasa semua ini mimpi dan ingin sekali terbangun tapi, semua ini adalah nyata, dan akan terus seperti itu.
“aku akan menjadi Front Line” ucap Andy.
Yuda terkejut “kamu yakin?”
Andy tersenyum kepada Yuda “Yud alesan aku ambil jurusan pendidikan luas biasa adalah, karena aku ingin mengajari adik perempuanku. Adik perempuanku adalah seorang tunarunggu, mungkin dia bisa berkomunikasi dengan aku dan orang tuaku, tetapi bagaimana nanti dia dilingkungan luar rumah. Membayangnya saja sudah membuatku cemas dan takut, makanya aku ambil jurusan ini, selain itu dengan menjadi Front line, setidaknya aku bisa melindungi masa depan adikku”
Mendengar ucapan Andy membuat Yuda berpikir kebelakang. Kenangan-kenangannya bersama sahabat-sahabatnya, bagaimana dia dan mereka bisa bersama sampai SMA, pastinya mereka sekarang menjadi patung batu disuatu tempat. Lalu Yuda juga masih memiliki impian yang ingin dia raih dimasa depan. Seperti ucapan Andy, ada hal yang harus Yuda lindungi dikota ini.
“aku juga mau jadi Front Line, ada banyak yang ingin aku lindungi” ucap Yuda kepada Andy.
“kalau gitu kita harus berjuang bersama”
Waktu untuk berpikir telah habis. Hasil, 7 orang termasuk Yuda dan Andy Frontline, 5 orang operator, 8 menjadi backup, maka 5 orang tersisa standby.
Setelah pembagian posisi, 25 anggota baru termasuk Yuda dan Andy akan ditempatan disebuah kamar asrama yang berisi 6 tempat tidur untuk 6 orang yang saling berhadapan masing-masing 3 ranjang. Saat pembagian, Yuda sangat senang dapat satu kamar sama Andy. Terlebih kamar tersebut ada lemari baju 6 buah setinggi meja kantor dengan lebar 2 meter, kasurnya sangat empuk seperti dihotel bintang empat, lalu ada meja belajar dan kaca dengan tinggi 180 cm yang jumlahnya disamakan dengan jumlah penghuni yang bahkan ditempatkan didekat ranjang. Sebelah kanan pintu masuk ada TV LCD 4 inci diletakan pada dinding, ada sofa lebar warna abu dihadapan tv plus meja dibawa tv yang dilengkapi sebuah PS5!, didekat tv 2 meja disenderkan ke dinding, masing-masing ada computer. disediakan sebuah kamar mandi seperti didalam hotel kapsul. 6 shower, 6 closet duduk yang disekat dinding dan pintu seperti di mall plus tempat cuci tangan.
Yuda, Andy maupun 4 laki-laki yang akan menjadi teman sekamar Yuda sama-sama tidak percaya akan fasilitas yang mereka terima dalam kamar asrama ini. Bahkan ketika lemar dekat ranjang dibuka, sudah ada baju tidur, beberapa setel baju ganti, sebuah kotak berisi alat mandi dan handuk.
“selama kalian menginap dimarkas ini, kalian akan dilengkapi berbagai fasilitas”
Pemuda yang berdiri didepan pintu masuk, salah satu dari tiga yang mengantar Yuda dan para survivor ke aula, saat ini dia bertugas mengantar para survivor ke kamar asrama mereka masing-masing.
“permisi kak Rizal, apakah semua fasilitas ini apa tidak terlalu berlebihan” ucap laki-laki yang berdiri dekat sofa.
“tenang kok, semua kamar asrama memiliki fasilitas yang sama, kecuali kamar asrama perempuan yang ada tambahan fasilitas” kak Rizal menjelaskan.
“eh apa itu?” Andy penasaran.
__ADS_1
“cuman meja rias dan beberapa kosmetik itu saja”
Mendengarnya sudah membuat seisi calon penghuni asrama kecewa. Mungkin bagi laki-laki itu hanyalah fasilitas biasa, namun yang pasti para cewek yang menerimanya sangat senang dan girang.
“soal fasilitas yang kalian dapat, itu sepadan ditambah ketua ingin setidaknya kalian merasa nyaman dan tak terlalu terbebani akan tanggung jawab yang akan kalian pikul nanti” Rizal menjelaskan kepada semuanya dengan tenang.
“tapi apakah fasilitas ini tidak terlalu mewah?” walau Yuda yang mengatakannya tapi dia tetap tidak percaya.
“tenang kok, semua yang kalian dapat sepadan dengan yang akan kalian lakukan nanti. Selain itu organisasi kita juga sebagian kecil di biayai dari salah satu perusahaan swasta terkemuka di Indonesia. Selain itu juga ketua kita pula ikut membiayai ini semua”
Yuda masih tidak bisa mempercayai ini semua. Walau ini adalah fasilitas yang hanya dia terima selama tinggal disini, tetapi tetap saja seperti berasa tinggal di hotel mewah.
“untuk sekarang kalian istirahat dulu saja. Lalu mulai besok kalian akan mendapat pelatihan selama 2 minggu. Setiap orang jadwalnya beda-beda tergantung dari posisi apa yang kalian ambil, ngomong-ngomong jika kalian ingin makan, tinggal pergi saja kekantin. Kantin hanya buka sampai jam 9pm”
Setelah mengantar dan menjelaskan kepada para survivor, Rizal menutup pintu kamar asrama dan pergi meninggalkan para survivor aga mereka setidaknya bisa istirahat.
Hal pertama yang dilakukan para penghuni asrama adalah, memilih ranjang, Yuda dengan cepat memilih ranjang yang dekat dengan tv, pas sekali Andy ada disebelahnya.
“cepatnya kamu pilih ranjang” seorang pemuda berambut coklat berdiri didepan tempat tidur Yuda.
“kamu sendiri udah dapat ranjangmu?” Tanya Yuda kepada dia.
“tepat disebrangmu” pemuda rambut coklat tersebut teringat akan hal penting “ah aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Reno, operator”
“aku Yuda, ini Andy kami berdua Front line”
Andy melambaikan tangannya kepada Reno.
Tiga orang yang dari tadi sedang melihat-lihat ikut bergabung. Salah satu memiliki badan tinggi sekitar 170an, lalu ada juga yang aga pendek sekitar 150an.
“kami juga lupa memperkenalkan diri. Aku Hizam, Backup” pemuda tinggi itu berjabat tangan dengan Yuda dan yang lain.
“aku Putra, Backup juga” pemuda pendek itu walau kecil tapi suaranya lantang.
“sedangkan aku Luca, aku sama seperti kalian berdua Frontline” Luca tingginya sama dengan Yuda, dia sepertinya sepantaran, cuman dia memiliki suara lembut dan mata hitam kalem
__ADS_1
Para pemuda tersebut saling mengobrol dan bercerita dari mana mereka berasal. Reno, Putra dan Luca sama seperti Yuda, siswa SMA. Reno kelas 3, Putra kelas 1 sedangkan Luca kelas 2 seperti Yuda, mereka juga berasal dari berbagai SMA di Bandung, terlihat dari logo seragamnya. Sedangkan Hizam, seorang mahasiswa tahun ke 3 dikampus swasta. Diantara mereka semua ada yang mengalami hal yang sama seperti Yuda ada juga yang tidak, tetapi satu hal yang pasti sekarang mereka menjadi teman satu kamar dan rekan bertarung. Terlebih Luca, dia juga sama seperti Yuda dan Andy, seorang Front line.[]