
Yuda terbangun mendapati dirinya sedang tiduran diatas lantai dingin, perlahan dia terbangun dan menyadari kalau sekarang dia ada disebuah ruang kelas. Ada papan tulis warna putih, kursi-kursi kampus sekitar 20an, sebuah meja kayu dan kuris besi dipojok samping papan tulis, dilangit ada proyektor menggantung menghadap ke arah papan tulis. Kegelapan kelas tanpa cahaya membuat Yuda aga kesulitan untuk berjalan tetapi berkat jendela besar di samping, menurunkan tingkat kegelapan dalam kelas. Sehingga dia bisa melihat tata letak kelas beserta isinya. Dia bisa bernapas lega karena masih selamat, tapi ada beberapa hal yang harus dia cemaskan. Pertama senter dan handphone hilang bersama dengan senjata dia sendiri, kedua dia terbangun seorang diri didalam kelas, teman-temannya entah ada dimana, terakhir ini lantai berapa?.
Jika dilihat dari jendela, diperkiraan Yuda ada disekitar lantai 6 atau 7. Padahal jelas sekali sebelumnya dia ada di lobby kampus, sedang bersama teman-temannya berusaha mencari Reza, ketika ketemu Reza tengah kerasukan. Lalu yang terakhir Yuda ingat kembali, Reza tiba-tiba menyerang mereka semua dengan rambut yang menggantung dipenjuru lobby. Setelahnya Yuda terbangun didalam ruang kelas.
“ah benar jam” jam di tangan kiri menunjukan pukul 13:18. Waktu mereka masuk kedalam kampus sekitar pukul 12:45. Jika dihitung dengan waktu yang dihabiskan sepanjang penelurusan lobby, sekitar 20 menit. Itu berarti sudah 12 menit berlalu semenjak Yuda tak sadarkan diri.
Yuda melirik kearah pintu keluar “pintunya kaca, masih untung dindingnya bukan kaca”, Yuda baru teringat akan headsetnya kalau selama ini headsetnya juga terlepas. Itu berarti dia tidak bisa berkomunikasi sama teman atau Rizky dimarkas. Ini benar-benar masalah. Seluruh senjata dan bomnya telah dilucuti. Itu berarti jika dia hendak berjalan keluar kelas, dia harus menyusuri lantai ini seorang diri tanpa alat komunikasi atau senjata apapun.
Walau sebelumnya dia merasakan ketakutan sampai bulu kudunya berdiri, situasi sekarang bukan membuatnya takut sama sekali tetap membuat dia bingung harus bagaimana. Ditambah hal pertama yang dia ketahui adalah mengenai matis. Sebelum dia keluar dia harus kembali berpikir soal matis yang baru saja ditemuinya. Matis tersebut jelas-jelas adalah sosok anak kecil terbukti dari suara yang keluar dari mulut Reza, suara anak kecil perempuan, ditambah tak sengaja Yuda juga melihat sosoknya samar-samar dalam diri Reza. Kemudian dia dapat merasuki lawannya lalu dapat mengendalikannya dari dalam, dia juga dapat mengendalikan rambut-rambut yang selama ini mengantung di lobby. Cuman ada satu yang membuat Yuda penasaran, boneka. Boneka perempuan yang dibawa Reza. Kenapa Reza sampai membawa boneka itu bersamanya? apakah itu mainan kesayangan si matis.
Hahahahah….hahahahaha….hahaha
Suara tawa anak-anak terdengar dari luar kelas. Matis itu ada diluar. Kemungkinan juga dia yang membuat Yuda dan yang lain terpisah satu sama lain. Perlahan-lahan dia berjalan kearah pintu, bersembunyi dari samping, melihat dari balik kaca pintu. Sepanjang lorong kampus rambut-rambut hitam bak kain selendang penari menggangung disana-sini. Tak ada angin apapun yang bisa memasuki gedung kampus, anehnya rambut-rambut itu bergerak gemulai layaknya ditiup angin.
Untuk saat ini Yuda memprioritas utama menemukan teman-temannya, jika dia untung, bisa menemukan sesuatu untuk dijadikan senjata. Walau dia telah belajar seni bela diri pencasilat untuk situasi seperti ini. Tapi, memakai senjata yang biasa dia gunakan mungkin lebih baik.
Dari kaca pintu, dia bisa melihat lorong kampus yang memanjang lurus kedepan ditambah ada beberapa belokan ke kiri dan Ke kanan tak jauh dari ruang kelas, entah setiap belokan menuju kemana. Tetapi yang ingin Yuda pastikan adalah ada dimana si matis saat ini. Akan sangat buruk jika Yuda keluar sekarang tanpa memastikan posisi si matis. Bisa saja saat ini matis menunggu dirinya keluar dan menyergapnya saat itu juga. Tapi jika dia berlama-lama disini, yang ada malah makin makan waktu.
Tuk Tuk Tuk Tuk
Suara sepatu, ada orang diluar. Tetapi lorong kampus begitu gelap tidak ada siapapun disana.
Tik tik kling
Satu lampu nyala begitu saja. Padahal tak ada satu pun lampu yang dinyalakan, hanya satu lampu ditengah lorong yang menyala. Seperti lampu sorot, sinar lampu tersebut menyinari sosok dibawahnya. Itu Reza dia berdiri sambil menggandeng seorang anak kecil. Reza masih menggendong boneka yang sama, tetapi sigadis yang digandeng Reza, diseperti berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Rambutnya hitam sepanjang pundak, tak terlihat wajah atau ekspresinya karena tertutup poni rambut, hanya terlihat mulut dia saja, salah satu tangan gadis yang bebas memegang sehelai rambut panjang seperti selendai, rambut tersebut separuh dililitkan pada lengan sampai pundak, sisanya mengantung bebas. Tiba-tiba saja tangan gadis yang terlilit rambut menunjuk kearah pintu dimana Yuda berada. Kemudian dia tersenyum begitu saja, sebuah senyuman lebar tapi menakutkan. Berikutnya hal yang tidak bisa Yuda bayangkan terjadi, kaca-kaca pintu pecah begitu saja. Dia tau Yuda masih ada didalam ruang kelas. Tanpa pikir panjang Yuda langsung berlari keluar dari ruang kelas dan berbelok ke kanan. Entah dia berlari menuju kemana, yang penting lari saja kabur dari Reza yang kesurupan dan sosok gadis kecil bersamanya.
__ADS_1
“gelap, gelapnya lebih parah dari diluar” Yuda tak bisa melihat atau memilih jalan.
Sesuatu yang cepat tiba-tiba saja muncul dari belakang Yuda, tanpa pikir apapun Yuda melompat kedepan. sesuatu menghantap lantai yang tadi Yuda injak. Entah itu apa, tetapi telingat Yuda menangkap suara seperti dua benda melilit dan langsung melesat begitu saja. Sesuatu terpikir dari dalam dirinya. Tapi dia tak ada waktu untuk berpikir, karena serangan tadi datang lagi dari arah belakangnya. Kegelapan dalam lorong kampus membuat Yuda kulahan dan hanya bisa mengandalkan pendengaran dia.
“kalau kaya gini andai punya pendengaran seperti kelelawar” guman Yuda.
Kali ini suara yang dia denger seperti suara cambuk, melesat tepat dihadapan Yuda menghandap dinding disampingnya. Cambuk tersebut bergerak enggak karuan, seakan-akan dia berusaha mencari keberadaan Yuda.
Sebuah ide terlintas dalam diri Yuda. Dia ambil sepihan dinding didekat kakinya, lalu dia lempar kearah yang lain dari asal cambuk. Suara serpihan yang tadi Yuda lempar membuat cambuk terbuat langsung menyerang keasal suara. Ini kesempatan Yuda kabur, ditambah sebelumnya selagi cambuk itu menyerang kesana kemari secara acak, tak sengaja terdengar seperti suara pintu terbuka. Pintu itu terbuka mungkin secara kebetulan ada didekat Yuda dan menjadi sasaran random dari cambuk. Sehingga ini menjadi kesempatan Yuda untuk sembunyi masuk kedalam ruangan dari balik pintu tersebut.
Cambuk berhenti mengamuk, tak ada suara apapun lagi yang dapat Yuda dengan hanya kehampaan dan kekosongan, apa matis tersebut sudah pergi atau berhenti mencari Yuda. Setidaknya dia ingin memastikan apakah diluar aman atau tidak.
“hayu akang, maen yuk[1]”
Itu suara si matis, dia masih ada dilantai ini.
Suara sang matis menggema dipenjuru kampus, diikuti suara langkah sepatu. Mereka sedang mencari Yuda. Bahkan suaranya saja makin kesini makin jelas seakan-akan dia ada didekat sini. Walau Yuda sudah bersembunyi dibawah meja dalam ruangan, tetapi saja rasa tegang dan takut menyelimuti dirinya hingga jantungnya berdengung kencang.
“aaahh hese iyeu mah, si akang teu kaluar wae[3]”
Perlahan-lahan suara langkah kaki makin menyusul jauh, hingga tidak terdengar kembali. Yuda sampai memasang lebar telingat demi memastikan apakah matis tersebut sudah pergi jauh atau tidak. Hingga 1 menit lewat, tak terdengar lagi suara langkah kaki mau pun matis tersebut.
Untuk sekarang Yuda bisa bernapas lega, walau untuk sesaat. Karena bisa saja matis tersebut balik lagi untuk mencarinya.
“gelap banget, ini ruangan apa ya” pelan-pelan setidaknya supaya tidak menabrak apa yang ada didepan (sudah nabrak kok, meja kayanya). Entah ini ruangan apa, yang penting harus menemukan barang apapun itu yang penting berguna untuk tar.
__ADS_1
“aduh, aaaw. Iiihh apa sih ini” beberapa kali entah tak terhitung, Yuda beberapa kali menabrak, menendang entah apa itu sampai kesakitan (meja entah apa yang dia tabrak tidak sengaja mengenai bagian anunya).
“kalau ini meja setidaknya ada apalah diatasnya” seperti orang buta, Yuda merabah-rabah permukaan meja, meja tersebut begitu dingin seperti habis dari lemari es, mungkin karena meja tersebut bagian atasnya berlapis kaca ditambah hawa dingin menyelimuti ruangan ini. Hal pertama yang dia temukan adalah, batu aga melengkung kecil dan panjang kebelakang, tetapi diujung batu ada benda kotak licin dan tipis, dirabah-rabah serasa handphone. Jika benar itu handphone maka Yuda bisa menggunakannya untuk penerangan. Tanpa pikir panjang Yuda mengambil benda tipis yang dia kira handphone lalu mencari sebuah tombol disampingnya. Ada satu tombol kecil. Yuda menekannya, permukaan licin tersebut mengeluarkan cahaya. Itu memang handphone. Dengan ini Yuda bisa menggunakannya untuk penerangan. Cuman saat dia tak sengaja melihat layar handphonenya ada foto seorang pemuda paruhbaya sedang memeluk gadis cantik sambil menatap kearah layar handphone.
“mesra banget fotonya” komentar Yuda.
Yuda menyoroti depan dia sendiri. wajah manusia muda menatap tajam Yuda, dia begitu terkejut sampai-sampai terjatuh. Saat disorot lagi. Manusia tersebut telah menjadi patung. Bukan hanya dia saja. Yuda menyoroti setiap sudut ruangan. Ada sekitar 5 orang patung manusia didalamnya. 2 diantara sedang duduk di kursi, sisanya berdiri. Ruangan ini berisi meja sekitar 7-8 masing-masing ada 2 kursi saling berhadap. Setiap meja ada berkas-berkas atau buku lengkap dengan alat tulis.
“apa mungkin ini ruang dosen” pikir Yuda, karena suasana ruangannya mengingatkan Yuda akan ruang guru di sekolah.
Ketika dia mengamati setiap meja lebih dalam. Tak sengaja mata dia tertuju pada salah satu meja penuh berkas tapi tak ada satu pun dosen yang menepatinya, entah dosen tersebut sudah pulang atau meja tersebut emang kosong. Cuman ada 1 benda yang menarik perhatian Yuda. Sebuah senter kecil yang tergeletak tepat disamping berkas tersebut. Yuda meletakan handphone ditengannya dan mengambil senter, walau kecil tapi sinarnya sangat terang.
“bagus sekarang tinggal mencari sesuatu untuk jadi senjata”
Yuda bergegas meninggalkan ruangan, dia tak bisa berlama-lama disana karena teman-temannya bisa saja dalam bahaya, berkat cahaya dari lampu, akhirnya Yuda menyadari kerusakan karena cambuk, dinding-dinding lorong rusak parah, bahkan sepihannya sampai berjatuhan. Tetapi ada yang mengantung dari langit-langit. Rambut yang dililit bersamaan membentuk ujung pensil. Pelan-pelan dia sorot dari bawah rambut sampai keatas. Kumpulan helai rambut tak terhitung melilit bersamaan menciptakan pensil raksasa. Tetapi baru Yuda sadari rambut-rambut tersebut muncul dari permukaan langit-langit gedung, sedari awal rambut tidak menempel melainkan memang muncul dari permukaan dinding. Bukan hanya dari langit-langit saja, ada beberapa rambut keluar dari dinding samping. Selain itu, jika dilihat baik-baik lilitan rambut berbentuk pensil raksasa, ada serpihan dinding menempel pada rambut, itu berarti yang selama ini menyerang Yuda bukanlah cambuk, melainkan rambut itu sendiri.
“aaahh begitu rupanya” akhirnya Yuda tersadar “sedari awal matis itu yang menyerangku, rambut-rambut ini juga yang menghancurkan pintu ruang kelas”
Dengan kata lain. Matis penghuni kampus ini dapat mengontrol rambut-rambut yang bersarang pada kampus.
“aaaahhh sial!, sepanjang lorong dan sudut kampus penuh dengan rambut, itu berarti mau lari segimana pun bisa ketangkep, buntulah”
Sekarang, meski sudah mendapat titik temu soal kemampuan matis, walau aga ragu, Yuda tetap melangkah untuk mencari teman-temannya.[]
[1] Ayo kak, main yuk
__ADS_1
[2] Kakak sembunyi dimana? Dimana ya, dari tadi enggak ketemu
[3] Susah, si kakak enggak keluar