
“pelajaran hari ini sampai sini”
Guru matematika meninggalkan ruang kelas, menyisakan para murid yang bersiap menyambut guru mata pelajaran berikutnya. Yuda memperhatikan dua temannya, Sela dan Andre mereka menyimpan buku pelajaran sebelumnya dan menyimpan buku pelajaran selanjutnya, tetapi dibelakang Sela ada bangku yang kosong, Mirna sudah tiga hari tidak masuk sekolah, malahan bisa dibilang sudah lima hari semenjadi kejadian di asia afrika Mirna susah dihubungi. Sela bahkan sudah beberapa kali menghubungi dia tapi tak ada balesan. Apalagi saat hari senin. Wali kelas menjelaskan kalau Mirna izin selama 4 hari karena ada urusan keluarga di Jakarta, bersamaan dengan itu tugas kelompok Sejarah yang dikerjakan oleh Mirna sudah dikirim ke Yuda, lawau masih ada beberapa yang salah tetapi Yuda tetap menerimanya, karena bagaimana pun juga gadis itu susah dihubungi.
“Yud pulang sekolah ada waktu?” Tanya Andre.
“akukan ada les” jawab Yuda.
“hmmm, yaudah besok kerja kelompok ya” ucap Andre “dirumah Sela”
“lah kenapa seenak jidat main putusin kerja kelompok dirumahku” Sela teriak-teriak ke Andre dan Yuda.
“habisnya tempat kamu yang paling pas” Andre menutup kedua telinga dengan kedua tangan.
“seolah-olah tempat kamu kaya enggak cocok” ledek Sela.
“dirumahmu itu ada free konsumsi”
“ihhh bilang aja ingin yang gratisan”
Yuda pura-pura tak dengar dan tak perhatikan, dia hanya bisa angkat tangan jika mereka sudah mulai seperti itu, jika ada yang Tanya kenapa mereka seperti itu, Yuda hanya jawab “mereka belum sarapan jadi gitu”
__ADS_1
Yuda kembali memperhatikan bangku Mirna yang kosong sama mengingat lagi saat hari itu. Ketika terjadi guncangan, semua orang jelas-jelas panik dan barusaha mencari tempat berlindung. Mirna, jika Yuda ingat-ingat kembali, enggak ada rasa panik sama sekali pada wajahnya, daripada rasa panik yang ada rasa terkejut, seakan-akan dia…….Yuda pun bingung bagaimana mengutarakannya, apalagi bila dilihat lagi kebelakang, sikap Mirna itu terkesan seakan tertutup, walau sudah tiga hari dikelas, harusnya segitu sudah cukup membuatnya bisa beradaptasi, mau didalam sekolah atau diluar sikapnya tetap sama saja. Dia pikir setidaknya jika diajak keluar akan ada sikap baru dari Mirna yang belum dilihat Yuda, tetap sama saja.
Yuda mengambil beberapa buku sejarah diperpustakaan, apa yang dia dapat saat mengunjungi museum serasa ada yang kurang, sehingga dia berpikir untuk menambah lagi isi laporannya dengan beberapa sumber dari buku, toh tidak ada larangan mengambil sumber tambahan dari tempat lain. Tak luput juga dia membawa laptopnya, sehingga apa yang dia temukan dapat langsung dituangkan dalam ketikan.
Sejarah konferensi asia afrika, mempelajari sejarah tersebut membuat mata Yuda tersebuka lebar, dia kira aktifitas konferensi hanya diadakan diarea museum saja, tapi dibagi-bagi keberbagai tempat, bahkan apa yang dibahaspun sangatlah luas. Istana Bogor pun tak luput dari bagian acara tersebut. pada zaman itu semua orang pasti berusaha mencari tempat damai bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk keluarga dan semua orang. Kalau disbanding dengan dunia sakarang, semua menjadi damai berkat usaha pahlawan bangsa yang berusaha keras menciptakan dunia damai seperti ini. Yuda tidak bisa membayangkan apa jadinya jika dia terlahir pada jaman itu, entah dia akan menjadi apa atau bertindak seperti apa.
Mirna memperhatikan aktifitas pedagang sepanjang jalan dago atas dekat perempatan dago, mereka mempersiapkan dagangan menjelang sore nanti, jalan ini memang selalu ramai dikunjungi orang-orang, apalagi jalan Dago sendiri salah satu icon terkenal kota Bandung, banyak orang-orang luar kota bandung datang dari berbagai daerah untuk mengunjungi jalan dago, akses jalan dago sendiri dekat dengan beberapa kampus seperti ITB, Unikom, Unpad Dago dan masih banyak kampus lainnya. jika melajukan mobil keatas lagi maka bisa tembus ke kota Lembang, selain itu ada juga Dago Tea House yang menjadi icon pertunjukan panggung dibandung, berbagai pertunjungan dari beranekan banyak kalangan pentas disana, pertunjukan seni dari kampuskampus pun ada disana.
Sesuai perintah sang kakak, Mirna tidak diizikan masuk sekolah, sang kakak sudah membuat alesan supaya pihak kampus beranggapan kalau Mirna Izin keluar kota. Ada alesan khusus Mirna tidak diizikan sang kakak masuk sekolah, tetapi alesan tersebut enggak akan dijelaskan ke pihak sekolah.
Gedung dekat perempatan dago, sebrang restoran cepat saji. Ada bayangan hitam berdiri disana, dia tak bergerak sedikit pun, kehadirannya begitu misterius tapi bisa membuat siapapun yang melihatnya waspada.
Pelan-pelan Mirna, meraih Handphonenya.
Bayarangan hitam tersebut menyadari tindakan Mirna, dia menunjuk jari telunjuk didepan mulut.
Ssssstthhh
__ADS_1
Mirna terbengong sendiri sampai……
Tanah dibawah Mirna begoyang, menciptakan gempa, orang-orang sekitar begitu panik dan berlarian keluar dari rumah-rumah mencari tempat berlindung, rasa getaran ini seperti ketika dia berada di jalan asia afrika. Mirna menggertakan giginya. Ini adalah peringatan ketiga. Itu berarti……
Gempa berhenti…..
Yuda keluar dari gerbang sekolah bersama dua sahabatnya, seluruh siswa lain pun berhamburan keluar gerbang karena sudah jam pulang, Yuda melihat jalan cihampelas dipenuhi mobil dari berbagai arah, kalau macet begini dia bisa terlambat ke tempat les.
Yuda berlari kearah jalan cipaganti, kedua teman-temannya hanya bisa melambagikan tangan karena tau tempatnya ini ada kegitan les.
Selagi dia berlari, masih sempat pula mencuri-curi pandang jam tangan, berharap belum terlambat.
Malam engke (malam nanti)
Lagi-lagi suara aneh terdengar
Ditunggu wartos malam engke (ditunggu waktu malam nanti)
__ADS_1
Kenapa, sudah 3x Yuda mendengar suara orang bicara dalam bahasa sunda seperti ini. Tak ada siapapun didekat Yuda selain, mobil mengantrik ke jalan Cihampelas. Sudah tidak peduli, Yuda berlari sekencang mungkin karena takut terlambat.[]