
Entah sudah berapa lama mereka berlari menjauh dari kejaran matis. Yang pasti, mereka berhasil menemukan tangga eskalator lain menuju lantai atas dan tengah bersembunyi didalam salah satu toko baju lantai satu. Tapi ada satu masalah baru, hanya ada Yuda, Gilang dan Mirna, yang lain entah kemana.
“mana Andy, Derec dan Siska?” Tanya Yuda.
Mereka aman kok. Jawab Lia satu lantai diatas kalian.
“lantai 2 berarti”
“tapi posisi kita enggak aman sekarang” kata Mirna.
Ucapan Mirna benar, walau cuman beda satu lantai, tetapi ketika ketiga berlari, mereka memilih belok masuk kelorong, dari pada naik ke tangga eskalator terdekat. Sehingga mereka pun naik kelantai atas dengan tangga eskalator satu lagi yang aga jauh, cuman entah mengapa disaat melarikan diri, baik Mirna maupun Yuda merasa seperti diikuti, meski beberapa kali mereka melirik kebelakang tidak ada apapun.
“tapi kita tidak bisa terus bersembunyi disini” kata Yuda berdiri “kita harus bertemu Deren dan yang lain”
“iya, kita harus berkumpul dengan yang lain dan pikirkan rencana kedepan” Mirna ikut berdiri “gilang ayo kita harus….”
Mirna harus menggosok matanya berkali-kali, Gilang sedari tadi tidak mendengarkan ucapan dia maupun Yuda, karena dia terus memandang kelangit atas toko sambil berkata “woa aku tidak pernah melihat wanita secantik itu”
Yuda tidak bisa berkata-kata, sedangkan Mirna tanpa ampun dan permisi dia tendang Gilang, lalu menariknya dan menampar kedua pipinya berkali-kali.
“sadar payah! Kamu tuh udah punya pacar masih mirik yang lain” teriak Mirna.
Gilang langsung tersadar “oh iya bener, aku udah punya Anisa, kok masih mikir wanita lain sih” perlahan-lahan gilang berdiri.
“aahh apa ini efek dari si matis…..eh namanya” ucap Yuda.
“White Lady, kita kasih nama dia White Lady” kata Mirna “kayanya emang efek dari matisnya”
“tapi hipnotis saja kaga” kata Yuda melihat kelakuan Gilang yang masih aga normal.
“hei Gilang” panggil Mirna.
“apa Mir?” Tanya Gilang.
“kamu masih ingat tujuan kita kesini kan?” Tanya Mirna.
“masihlah, buat misi bunuh tuh matis dan menghidupkan empat permata kosong” jawab Gilang.
Baik Yuda dan Mirna sama-sama terkejut, Gilang menjawab pertanyaan mereka dengan lancar.
“terus itu serangan apa?” Yuda kebingungan.
Yang pasti itu bukan hipnotis. Jawab Lia, suara dia terdengar di headset Derec juga sudah mencoba pada Andy seperti yang kalian lakukan, intinya itu bukan serangan hipnotis.
“intinya sekarang lebih baik kita gerak saja dulu” usul Mirna.
Senjata siap ditangan, Mirna memimpin jalan didepan, diikuti Gilang (lebih baik dia ditengah mengingat kondisi), lalu Yuda dibelakang. Lia sudah mengintruksikan ke Derec kalau mereka akan bertemu dilantai 2, itu berarti mereka harus berjalan ke eskalator, niatnya ingin berlari biar cepat, tapi kalau gitu yang ada mereka ketauan, ditambah sepanjang lorong, tidak ada satu pun patung manusia, hanya ada kegelapan peka dan ketal. Penerangan sebatas lampu sorot yang mereka bawa. Mereka bisa saja menghidupkan generator listrik disini, tetapi ada banyak resiko kalau mau melakukannya. Untuk sekarang, mereka harus berkumpul dulu.
Toko baju, accesoris perempuan, café, toko mainan anak dan masih banyak lagi pertokoan dilantai 1. Mungkin kalau keadaannya berbeda, sekarang pastinya mereka sedang asik belanja atau menjelajah setiap toko disini, tapi itu tidak mungkin mereka lakukan disituasi seperti ini.
Terlebih kegelapan didalam sini, jauh berbeda dari kegelapan biasa yang mereka hadapi, memang mata mereka sudah terbiasa dengan gelapnya suasana, tetapi entah mengapa didalam sini terasa jauh lebih gelap.
“pake ini”
Mirna memberikan dua kacamata anti gelap kepada Yuda dan Gilang.
__ADS_1
“kenapa enggak dari awal misi dikasih nih kacamata anti gelap?” protes Yuda.
“buat apa?” balas Mirna “mata kitakan sudah dilatih untuk terbiasa dengan gelap”
Intinya Mirna ingin bilang kalau kacamata anti gelap tidak akan berguna untuk mereka. Tetapi karena situasinya aga lain, jadinya kacamata anti gelap terpaksa dipakai.
Yuda pakai kacamata anti gelap “ini lebih baik”
Diikuti yang lain.
Mereka kembali berjalan menuju lokasi tangga eskalator naik yang letaknya ada ditengah-tengah lantai 1, dekat dengan tangga eskalator turun ke basemen (yang tadi dipake Yuda dan temannya untuk naik kelantai 1). Niatnya mereka berharap bisa berjalan musul, sampai didepan sosok white lady menampakan dirinya, berjalan dari toko depan menuju toko sebrang. Terpaksa mereka bertiga sembunyi ditoko terdekat. Rasa tegang menyelimuti diri Yuda, bukan hanya dia Mirna dan Gilang sama merasakan apa yang Yuda rasakan.
“ambil jalan lain?” bisik Gilang.
Mirna melirik kearah belakang, toko tersebut rupanya memiliki 2 pintu yang sama-sama terhubung ke 2 lorong yang berbeda. Ketiga frontline memilih jalan dilorong satu lagi.
Itu menjadi keputusan aman selama beberapa detik, kaca-kaca dari toko yang tadi mereka masuki pecah semua. Tidak ada waktu untuk melihat dan bergegas lari secepatnya karena White Lady ada tepat dibelakang mereka\, berjalan segitu anggon dan lembah gemulai___ bukan itu yang harus dilihat\, dia menyampu tangan kanan kesamping kiri\, kaca toko disamping Yuda\, Mirna dan Gilang pecah tiba-tiba\, pecahan-pecahan kaca tersebut melayang dan langsung menyerang mereka. Tidak ada waktu untuk berpikir\, mereka langsung berlindung dibalik salah satu grobak kayu yang merupakan kios didalam mall.
Dirasa tidak ada serangan apapun, Yuda dan Gilang langsung menembaki matis tersebut. tetapi, si matis berlindung dibalik mannequin dari salah satu toko baju. Sekarang dia balik lagi menyerang mereka. Mirna tidak ambil pusing, dia lempar granat pas kearah simatis. Lalu dia segera menarik kedua temannya menjauh. Dalam sekejap ledakan terjadi dilorong tersebut, membuat sebagian toko dalam mall hancur. Menyisakan si matis dengan dress putih compang camping.
“Aman?” Tanya Mirna.
Perlu waktu untuk menjawab pertanyaan Mirna, karena Mirna tidak habis pikir akan melempar granat bukan bom asap. Tapi berkat itu mereka bisa sembunyi disalah satu toko kacamata, pas sekali didepan mereka ada escalator.
“aman matamu” jawab Gilang “kenapa keluarkan granat bom, gimana kalau langit-langit mall runtuh karena ledakan”
“tenang tuh langit-langit kuat dan tahan banting” ucap Mirna acuh.
“tahan banting dekulmu” balas Gilang
Yuda tidak ingin bergabung dengan pertengkaran mereka, dia mengecek apakah si *Wh*ite Lady masih ada dilorong atau tidak. Tapi dia juga tidak ingin ambil resiko untuk mengecek secara langsung dengan kedua matanya.
Dia mundur untuk saat ini jawab Lia.
Setelah jawaban dari Lia plus, depat antara mereka berdua telah selsai (sepertinya Mirna males meladenin ocehan Gilang). Langsung saja mereka berlari kearah tangga Escalator. Tidak sambutan apapun selama mereka menaiki tangga, malah saat mereka tiba dilantai dua. semuanya terasa sunyi seperti pertama mereka masuk kedalam mall.
Untuk sekarang mereka bisa bernapas lega ya itu pun jika White Lady tidak menunjukan batang hidungnya, pikir Yuda_baru saja dia ingin meregangkan kaki. Sosok White Lady berdress compang camping (gara-gara bom hadiah dari Mirna), tiba-tiba saja menampakan wujudnya dari kiri mereka. Dia pasti menaki tinggal yang lain untuk mengejar. karena tidak ingin bertemu untuk kedua kali, Mirna, Yuda dan Gilang langsung bersembunyi disalah satu restoran cepat saji.
Simatis berjalan begitu santai menyusuri lorong, dengan pakayan dia yang sudah aga berlubang dan sedikit terbakar (enggak sedikit sih, tapi yaa lumayan ya), cuman yang membuat mereka lebih memilih sembunyi dari pada melawan, raut wajah dia, seram dan menakutkan, dia pasti murka karena dress dia telah dirusak.
“wajahnya serem bener” komentar Yuda “kaya cewek pms”
“gimana mau serem, kita udah merusak dressnya, pastilah marah” kata Gilang.
Saking marahnya, dia tanpa ampun memporak-poranda setiap kaca-kaca ditoko hingga hancur berkeping-keping. Menyisakan lorong mall penuh dengan potongan kaca.
Dirasa sudah aman, mereka bertiga keluar dari tempat persembunyian.
“jujur gimana caranya kita mengalahkan matis yang bisa telekinesis?” Tanya Gilang
“dia bisa menghancurkan atau memindahkan barang sesuka hati dia” ucap Yuda.
“benar”
Mirna memutar kedua bola matanya “aku paham apa yang kalian ocehkan tapi untuk saat ini kita harus berkumpul dulu, baru pikirkan jalan tengahnya”
__ADS_1
Lokasi Andy, Derec dan Siska berada dekat dengan kamar mandi?. Mereka bilang awalnya ada didalam salah satu toko parfurm, tapi setelah mendengar kalau matis ada dilantai 2, ketiga frontline itu langsung bersembunyi dikamar mandi, entah apa yang ada didalam isi pikiran Derec sampai memilih sembunyi didalam kamar mandi ketimbang masuk kedalam toko sekitar.
Lia tidak hentinya memberikan kabar kepada Yuda dan teman-temannya lokasi matis saat ini, dia bilang saat ini matis masih saja berada dilantai 2, jalan-jalan menyusuri setiap toko dan lorong malam, kabar bagusnya tempat si matis saat ini berada disisi lain lokasi Derec dan aga jauh dari lokasi Yuda, sehingga ini memudahkan mereka untuk kabar dan pergi ketempat berkumpul, dikamar mandi.
“Hei Derec” panggil Gilang.
Apa? Jawab Derec terdengar lewat headset.
“kita enggak kumpul didalam kamar mandi bangetkan?” Tanya Gilang.
Mana ada kumpul dikamar mandi, jawab Derec terdengar aga sewot, kita cuman kumpul didepan pintu kamar mandinya, kamu jangan mikir macem-macem
“iiiihh enggaklah”
Yuda merasa enggan kumpul dikamar mandi walau itu cuman sekedar didepan pintunya saja. Dia jadi teringat waktu misi di gedung kampus. sembunyi dari kejaran matis, malah dia sembunyi didalam kamar mandi perempuan, untungnya kejadian itu tidak ada satu pun orang yang tau, kalau enggak, mau pasang muka dimana tar.
Akhirnya mereka kembali berkumpul. Yuda melihat Andy dan Siska yang bergitu senang melihat kehadiran Yuda, Mirna dan Gilang. Tanpa basa-basi apapun Derec langsung mengutarakan isi rencananya.
Sang ketua tim menjelaskan, dari hasil pengamatan Lia dan apa yang dialami Yuda, Mirna dan Gilang, si matis White Lady (Derec protes soal pemberian nama ke Mirna), mudah tersinggung, tetapi jika sudah marah, kekuatannya akan jauh lebih kuat.
“apalagi Telekinesisnya, tidak ada satupun peluru yang berhasil mengenai dia bukan” ucap Derec “jadi hanya Mirna seorang yang bisa menyerangnya, tapi itu juga mustahil” Derec melirik ke arah Mirna.
“ucapan Derec benar, walau aku bisa menyerangnya dengan pedang, tapi dia bisa telekinesis, salah sedikit, pedangku juga bisa diambil oleh dia” kata Mirna.
“maka dari itu karena matis ini sangat berbahaya dan ini diluar batas kita, maka satu-satunya cara adalah mengirim dia lewat portal”
Semua orang terkejut mendengar keputusan Derec, termasuk Yuda, Siska dan Andy selama ini mereka tidak pernah mengirim matis kembali kedalam portal, emang betul setelah permata kosong diberi cahaya dari permata sapphire, maka akan muncul portal tapi itu tidak bertahan lama, sehingga sangat beresiko untuk mengirim matis kembali lewat portal.
“kau yakin mau pakai rencana ini?” Tanya Mirna.
“iya” jawab Derec serius “kita tidak punya pilihan lain, ada empat pertama kosong diatas, itu berarti kita hanya punya 4x kesempatan saja, tapi_”
“tapi apa?” Tanya Siska.
“entah mengapa aku punya firasat kalau matis itu masih memiliki kemampuan yang belum kita ketahui” ucap Gilang.
Teman-teman, kalian harus segera pergi, Lia tiba-tiba terdengar panik
“ada apa?” Tanya Andy.
si White Lady, dia tengah kearah kalian kata Lia memperingatkan.
Yuda melangkah pelan kedepan, mengecek dimana posisi si matis. Rupanya saat dia melihat, tidak sengaja Yuda bertatapan dengan matis yang jaraknya lumayan jauh. Raut wajah amarah penuh emosi terlihat jelas. Tanpa ampun dia lempar kepingan kaca kearah Yuda. Pemuda itu langsung melompat menghindari pecahan kaca yang berterbangan menghampirinya.
“dia tau kita disini” teriak Yuda.
“siapkan bom asap 3” perintah Derec.
Siska, Andy dan Gilang masing-masing memegang 1 bom asap. Mereka menunggu si matis datang, tepat sekali matis muncul dihadapan mereka semua. Wujud dia masih sama seperti terakhir mereka lihat dilorong lantai 2. Gaun putihnya compang camping dengan beberapa bekas bakar.
“LEMPAR”
Ketiga bom asap dilempar bersamaan kearah matis, asap tebal memenuhi seluruh lorong depat pintu kamar mandi.
“Semua ayo pergi”
__ADS_1
Semua orang langsung pergi meninggalkan matis. Lia sang operator kali ini langsung memandu semua orang aga tidak ada yang terpisah lagi. Derec langsung mengarahkan teman-temannya menuju pintu keluar ke parkiran mobil, dia tidak bisa mengambil resiko untuk masuk kedalam mall, sebab dari informasi Mirna, si matis menghancurkan kaca-kaca disetiap toko mall, itu berarti mengambil jalan masuk kedalam mall, sama saja seperti masuk kedalam perangkap secara langsung.
Dan sekarang mereka harus sembunyi kembali dibalik mobil-mobil terparkir tak jauh dari pintu masuk mall.[]