
3 hari setelah misi pertama, Yuda seakan merasa semua ini adalah mimpi yang baru saja lewat, tetapi semakin hari dia marasakannya, semuanya adalah nyata. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, tuyul yang kata orang bisa dikurung dalam botol, ada diluar sana, berdiri di studio foto berpesta seperti orang berfoya-foya.
Bahkan dia kira tuyul cuman bocah kecil botak, rupanya memiliki bentuk yang berbeda-beda. Namun sifat mereka yang menginginkan duit tetap ada.
Sekarang dia sudah tidak menerima misi lagi, cuman tugas Defensif beberapa lokasi tertentu. Defensif sendiri secara spesifik tidak ada pertempuran pasti. Cuman disuruh menjaga lokasi yang telah menerima cahaya permata sapphire saja. Jika tidak dijaga ada kemungkinan permata dihancurkan lalu tempatnya akan kembali ditempati. Walau kebanyakan lokasi-lokasi yang dijaga memang tidak langsung diserang Matis. Senior-senior ysng ikut berjaga bersama Yuda sudah menjelaskan kepadanya, jangan meremehkan para Matis, walau tempat sudah dijaga dan tak pernah ada penyerangan langsung bukan berarti Yuda dan para Front Line Defensif tak diawasi. Para senior yang telah terlatih sudah bisa merasakan hawa yang kuat kalau mereka tau tengah diawasi. Sehingga sedikit saja lengah bisa bahaya. Tidak seperti seorang pencuri yang mencuri disiang bolong ditengah cctv. Matis jauh lebih cerdik dari pada itu.
Memikirkan ucapan seniornya ketika melakukan Defensif membuat Yuda berpikir kalau, melawan dengan cara sembarangan dan tergesa-gesa bukanlah ide bagus. Terbukti dari para matis yang memiliki kemampuan telepati. Bukan hanya itu saja matis biasa memang tidak memiliki kemampuan special selain pemimpinnya yang hanya memiliki Telepati, tetapi matis tingkat A keatas mereka memiliki kemampuan diluar nalar. Sehingga untuk menghadapinya dibutuhkan para Front Line terlatih dan strategi matang.
Yuda meminum secangkir teh hitam selagi dia memikirkan apa yang dia pikirkan selagi memadang pemadangan taman dari balik kaca kantin. Cukup aneh juga ada taman di bawah bangunan tanpa sinar matahari. Tetapi yang jelas taman ini cukup memperindah lokasi markas.
“jika saja ini semua tidak terjadi, aku sedang apa ya kira-kira” pikir Yuda.
Mungkin sekarang dia berpikir untuk kembali belajar giat dirumah atau bermain bersama kedua sahabatnya ke tempat-tempat seru, sekadang menghilangkan rasa penat.
Memikirkannya, membuat Yuda jadi rindu keluarga dan sahabat. Tetapi jika dia berpikir untuk menemui mereka, itu bukanlah yang bagus. Yang ada adalah rasa yang tak ingin dia rasakan melihat kenyataan didepan kedua matanya.
“Hei sendirian saja”
Yuda melirik seseorang dihadapannya dari bawah keatas, dia mengenakan celana jins dan kaos hitam bertuliskan ‘Anak bandung’. Mengambil kursi didepan Yuda dan duduk dihadapannya.
“begitulah” jawab Yuda.
“kita dapat misi baru, kali ini bareng sama Luca”
“Front Line junior bertiga dalam 1 misi, wow”
“ada kemungkinan mereka sedang menguji kita” ucap Andy “tetapi untuk misi kali ini Lia tidak menjelaskan secara langsung karena dia ada misi sendiri jadinya penjelasan misi akan dijelaskan oleh perwakilan, tetapi sebelum itu kita diberi ini”
Andy memberikan Yuda sebuah map coklat, dia bilang jika Lia sedang bertugas maka untuk misi akan diberikan berupa map coklat, perwakilan sendiri yang dimaksud adalah ketua tim. Yuda membuka map coklat, berisi dua lembar kertas hvs. Lembar pertama adalah rincian anggota tim
...Misi Tingkat B...
Yuda berdiri tiba-tiba, dia terkejut karena menerima misi tingkat B padahal baru saja tiga hari lalu dia dan Andy meyelesaikan misi tingkat C, sekarang dikasih tingkat yang lebih tinggi. Yuda melirik Andy, pemuda dihadapannya hanya membalas gelengan kepala seolah mengatakan ‘saya juga sama terkejutnya sama kamu’.
...Ketua Tim: Gin...
...Operator: Rizky...
...Anggota:...
...Deren...
...Luca...
...Andy...
...Yuda...
... ...
Misi sebelumnya Yuda sudah mengenal Gin dan Rizky, kali ini Gin kembali menjadi ketua timnya dan Rizky operator. Namun Deren dia belum mengenalnya, anggota senior lain yang belum dikenalnya. Itu berarti, markas hanya mengirim 5 orang, 2 orang senior dan 3 junior. Apakah ini tidak terlalu berat untuk misi tingkat B.
Lembar kedua Yuda buka. Ini adalah penjelasan lokasi misi dan jenis matis yang akan Yuda hadapi.
__ADS_1
...Lokasi Misi:...
...Stasiun Kereta Bandung...
... ...
Kalian pasti bercanda, pikir Yuda. Seumur-umur Yuda tinggal dan lahir dikota Bandung dia tidak pernah sekali pun masuk ke Stasiun Kereta Bandung. Sekarang dia pertama kali masuk kesana dalam keadaan dunia seperti ini, rasanya tak nyaman.
...Jumlah Permata Sapphire:...
...2...
... ...
...Jenis Matis:...
...Shadow...
...Jumlah:...
...Satu...
Entah ini keberuntangan atau buntung. Satu hal yang pasti walau lembar ini menjelaskan satu, Yuda sudah diajarkan untuk tidak meremehkan lawan, bisa jadi apa yang dilihat tim pengintai adalah satu tetapi kenyataannya bisa lebih.
...Kemampuan:...
... ...
“kemampuan? Bukannya hanya tingkat A keatas?”
“aku dengar kadang tingkat B juga memiliki kemampuan” Andy menjelaskan “tapi itu masih samar-samar”
Jadi makin penasaran atau mingkin rasa tegang. Menghadapi tuyul dalam jumlah puluhan saja membuat rasa tegangan enggak karuan, kali ini adalah 1 matis yang menguasai stasiun kereta, terlebih ada kemungkinan dia memiliki kemampuan. Lalu kalau dilaporkan jumlahnya satu, belum tentu jumlahnya satu. Seakan-akan seperti masuk kedalam sarang harimau.
Gin dan Deren menunggu kedatagan Luca, Yuda dan Andy di ruang aula, sebelum berangkat kedua senior meminta Yuda dan yang lain untuk berkumpul membahas strategi yang akan mereka gunakan. Karena mereka bertiga tinggal satu kamar asrama, sehingga tidak perlu repot-repot menunggu satu sama lain.
Yuda sudah mengenal senjata Andy sebelumnya karena mereka satu misi saat pertama kali. Tetapi baru kali ini mereka bersama Luca. Jadi mereka tidak tau senjata apa yang akan digunakan Luca sampat ketika mereka pergi keruang senjata untuk mengambil perlengkapan. Luca rupanya membawa pedang.
Jarang ada yang memilih menggunakan senjata tak biasa karena butuh perlatihan khusus.
“kamu dari misi pertama pake pedang?” Tanya Andy keheranan.
“iya, sejak awal aku pilih pedang” jawab Luca.
“itu berarti selama dua minggu kamu berlatih menggunakan pedang?” Tanya Yuda.
Luca menggelengkan kepalanya “tidak, sejak dulu aku ikut kegiatan anggar, jadi pas disuruh pilih senjata, aku lebih memilih sudah sudah terbiasa”
“wah olahraga anggar ya” Yuda terkejut mendengar jawaban Luca “jarang-jarang aku melihatnya”
__ADS_1
Mungkin karena perasaan Yuda atau tidak tetapi, terpilihnya mereka menggambil misi tingkat B bukanlah hal kebetulan, pasti karena ada Luca atau………ketika Yuda melirik ke Andy yang sedang memilih peluru, terpikirlah disitu kalau misi sebelumnya Yuda ingat ucapan seniornya kalau tembakan Andy tidak pernah meleset ketika latihan, apa karena itu juga? Teman-teman satu asramanya memiliki kemampuan diluar apa yang dia perkirakan.
Mengetahui kenyataan itu membuat perasaan Yuda terasa menjadi pesimis, didekatnya adalah mereka yang telah diketahu kemampuannya, tetapi dia apa yang menonjol darinya sehingga bisa ikut serta dalam misi tingkat B. waktu misi Tuyul saja dia tidak menunjukan bakat apa-apa dalam usaha menahan pemimpin Tuyul.
Walau begitu, jika terlalu pesimis sampai misi yang ada dia akan mengacaukan segalanya, dia harus berpegang teguh sampai semuanya kembali seperti sembulah dan bersenang-senang bersama sahabatnya.
Gin dan Deren telah menunggu kedatangan Yuda, Luca dan Andy. Ada juga Rizky karena dia seorang operator, haruslah dia hadir. Ruang aula yang selalu sepi tak ada apapun didalamnya kecuali pemandangan taman dari balik kaca selalu menyambut siapapun yang masuk kedalam.
Yuda memperhatikan Deren yang berdiri disamping Gin, keduanya tengah memperhatikan tablet dipegang Gin. Tak ada senjata kelas berat yang dibawa Deren, hanya ada Handgun terpasang pada sabuk, walau kesannya seperti meremehkan karena tidak seperti Gin yang membawa Asssault Riflet, Deren cuman membawa Handgun dan itu cuman satu.
Selain itu, tumben sekali Gin tidak ribut sama Rizky adiknya, terakhir misi dengan mereka Gin protes banget adiknya tiba-tiba menjadi operator mereka.
“oh kalian bertiga sudah datang rupanya” Rizky duluan yang menyadari kedatangan Yuda dan teman-temannya.
Deren yang pertama menghampiri mereka bertiga.
“hmmmm sebenarnya aku kurang setuju mengirim 3 junior untuk misi kelas B. tapi keputusan ketua tak bisa dibantah”
Ucapan Deren yang terkesan jujur dan menyakitkan membuat Yuda sadar kalau ucapan dia ada benarnya, tetapi keputusan tetap tak bisa dibantah.
“Hei Deren” Gin menghampiri Deren “ucapanmu itu kurang sopan”
Deren hanya memalingkan wajah dan pergi menjauh.
“maaf ya, Deren orangnya memang sedikit kasar lalu ucapannya terlampau terlalu jujur” Gin merasa tak nyaman kepada Yuda, Andy dan Luca.
“tak masalah kok, tapi ucapan dia emang ada benarnya” kata Andy yang jawabannya selaras dengan apa yang Yuda pikirkan.
Gin kembali merasa tak nyaman “apapun itu, aku tetap berharap banyak kepada kalian”
Rizky sebagai operator menyalakan layar proyektor menampilkan foto stasion kereta api pintu gerbang Andir dengan suasa gelap gulita tak ada penerangan satu pun. Orang-orang dari pejalan kaki sampai pedagang kaki lima tak luput berubah menjadi batu. Suasana keraman berbuah menjadi sunyi senyap dalam sebuah foto.
Gin yang pertama memulai rapat. Gin menjelaskan perihal misi mengenai membasmi matis segaligus menyalakan permata Sapphire di stasiun berjumlah dua buah. Layar berubah menjadi denah stasiun. Terdapat gambar dua kereta masing-masing memiliki gerbong 5 dan 6. Kedua kereta tersebut secara kebetulan tengah berhenti di stasiun bersamaan. Terlebih kedua pertama ada didalam kedua kereta.
“menurut hasil pantauan drone, permata kosong ada disetiap ujung kereta, entah itu dibagian masinis atau ujung kereta”
Gin kembali menjelaskan soal Matis ‘Shadow’.
“sebelumnya didalam lembar map coklat sudah dijelaskan kalau matis Shadow berjumlah satu, tapi”
Tampilan layar berubah menjadi pintu masuk stasiun yang dipenuhi bayangan hitam. Yuda keheranan dibuatnya, padahal dalam laporan menjelaskan total matis cuman satu. Kenapa tiba-tiba menjadi banyak.
“barusan tim pengintai melaporkan kalau, mereka melihat sekumpulan bayangan hitam memenuhi stasiun kereta”
“kenapa tiba-tiba banyak?” Tanya Yuda “bukannya sebelumnya dilaporkan satu?”
Gin memberi isyarat kepada Rizky untuk angkat bicara.
“seperti yang sudah kalian ketahui. Drone yang dikendalikan operator dapat mendeteksi jumlah matis lewat sensor suhu, bahkan kita juga bisa memprediksi mana pemimpin mereka. Tetapi barusan aku sudah mengecek ulang, hasil pantauan drone tetap menunjukan kalau jumlah matis ada 1”
Disini Yuda menyadari sesuatu. Sebuah sensor alat yang sudah diprogram sedemikian rupa tidak mungkin salah membaca, karena sudah diatur seperti itu. Kalau pun ada kesalahan dalam melihat hasil scan sensor kemungkinan mereka secara tidak diketahui bersembunyi disuatu tempat dari baru saja muncul sekarang, namun jika baru saja muncul harusnya terdeteksi dalam sensor suhu. Jika yang terdeteksi hanya satu…..
“duplikan” ucap Yuda telah menyadari situasi.
Gin mengangguk setuju “benar, kemungkinan besar dia bisa menduplikat dirinya”
Deren kali ini maju “yang jadi masalah baru, kita tidak tau dia bisa menduplikat sebanyak apa dan bagaimana caranya dia bisa menduplikat, tim pengintai sendiri tidak bisa lebih dekat dalam mengamati karena terlalu berbahaya”.
__ADS_1
Bisa dibilang, Yuda dan teman-temannya lumayan tidak diuntungkan.[]